Tulisan Gak Jelas

Sehebat hebat seorang pria, dia pernah dan akan berada pada sebuah situasi yang penuh ketidakberdayaan.

Musa Alaihisalam pernah merasa tak berdaya saat kelelahan dalam pelarian ke negeri madyan hingga membutuhkan pertologanNya untuk sekedar mengisi perutnya

Zakariya Alaihisalam, dipenghujung usianya saat tulang tulangnya sudah melemah dan rambutnya mulai terkikis dari kepalanya, dia pun masih terus merintih memohon keturunan kepadaNya dan hebatnya tak pernah sekalipun ia merasa tertekan dan kecewa atas apa yang sudah Allah tetapkan

Dan di era sekarang meski hanya kisah yang belum tentu benar, seorang master wingchun yang dalam filmnya begitu digdaya di IpMan 1,2,3 begitu merasa tak berdaya di seri ke-4 saat sang isteri terlebih dulu pamit meninggalkan dunia. Bagi seorang suami, kehilangan seorang isteri yang disyangi merupakan sebuah pukulan hebat. Lihatlah Pak habibie saat kehilangan Ainun. Tengoklah Buya Hamka saat kehilangan Siti Raham Binti Endah.

Habibi sampai harus melakukan terapi menulis buku untuk melepas emosi terpendam yang menyesakkan hatinya. Buya Hamka sampai harus membaca Qur’an sampai menangis untuk menyadarkannya bahwa tidak boleh ada yang lebih dicintai selain Allah.

Kisah IpMan4 terasa menyentuh bagi saya karena sebagai seorang single father, pada awalnya ia merasa gagal sebagai seorang ayah. Hubungan dengan sang anak dari hari ke hari semakin memburuk. Sang anak ingin ke utara, Sang Ayah ingin ke Tenggara. Sebenarnya sang anak ini sangat sayang pada ayahnya. Pun sebaliknya, Sang Ayah juga sangat mencintai putranya.

kelak, jeda ruang dan waktu kembali memahamkan meraka berdua bahwa mereka sebenarnya saling memahami. Dan saat mereka mulai memahami, waktu yang tersedia untuk IpMan itu juga tinggal sesaat.

Dalam hati saya misuh misuh, saya ini pengen liat film gebuk gebukan bukan film drama. Tapi sudah terlanjur ya gak papa lah.

Lompat ke tema lain. Ya karena saya ini seorang penulis random yang ga jelas.

terkadang hubungan yang memburuk antar orang orang tercinta lebih disebabkan oleh ego dan juga luka luka batin dimasa lalu yang belum usai. Saya sendiri mulai menyadari bahwa saya masih membawa banyak luka batin yang belum tuntas.

Dan untuk menuntaskannya, dihadirkannyalah orang orang yang menyenggol luka tersebut. seharusnya saya paham, bahwa itu adalah sebuah mekanisme dariNya agar saya segera menuntaskannya. Namun butuh waktu lama bagi saya untuk menyadarinnya.

Hal ini sebagian besar disebabkan oleh banyaknya pekerjaan yang harus saya tuntaskan di kantor. sehingga ketika sampai rumah saya hanya ingin merecovery kondisi tubuh dan pikiran saya. Padahal banyak sekali permasalahan diluar kantor yang juga harus saya selesaikan.

Sekian terimakasih

Menyusun Goal Setting dengan Pilar NLP

Okelah, pagi ini ingin menuliskan kembali apa yang sudah saya pelajari mengenai Neuro Linguistic Program (NLP)

Karena ini akhir tahun, saya ingin menuliskannya dalam konteks goal setting. Manusia pada umumnya mempunyai goal. untuk mencapai goal, seorang anak manusia tentu akan beranjak dari kondisi saat ini (current state) menuju kondisi yang diharapkan (desire state). Kondisi yang diharapkan ini tentunya bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa merupakan pencapaian prestasi, pencapaian materi, pencapaian relationship dan sebagainya. Namun demikian kesemuanya ujungnya adalah state, yaitu rasa yang hadir didalam hati saat goal itu terwujud. Bisa perasaan bangga, perasaan puas, perasaan telah membuktikan sesuatu, perasaan bahagia, perasaan senang sampai melayang ke langit ke tujuh.

Selain itu ada hal lain yang perlu diperhatikan saat anda menuliskan goal anda. Tulislah dengan bahasa yang positif, tulislah dengan smart. Contoh buruk menulis goal adalah seperti ini “Saya tak ingin karir saya mandek” sedangkan contoh menulis goal yang baik adalah sebagai berikut “Saya sedang berproses sehingga pada januari tahun 2020 saya sudah menjabat sebagai manajer di bidang x pada perusahaan y.

Nah sepanjang perjalanan untuk mewujudkan goal ini tentunya anak manusia tadi biasanya akan menghadapi kendala, hambatan maupun permasalahan. Disinilah peran penting behavoir flexsibility, sensory awareness dan rapport senantiasa diperlukan di sepanjang perjalanan. lalu bagaimana sih cara penggunannya.

Okey saya akan ilustrasikan dalam sebuah cerita. Misalkan saat ini posisi saya di surabaya dan saya ingin pergi wisata di batu, malang. Maka, current state saya adalah surabaya, sedangkan desire state saya adalah malang. Dalam perjalanan ke batu, saya memilih jalur tercepat yaitu via tol. Untuk menuju tol, saya harus memperhatikan rambu dan marka dengan panca indera agar saya tetap pada jalur yang benar (itulah yang disebut sensory awareness). Kemudian beberapa menit menjelang masuk tol, saya melihat di aplikasi google maps jika tol menuju batu macet total. Agar tidak terjabak dalam kemaceta, saya memutar untuk melewati jalur non tol (itulah yang dinamakan dengan behaviour flexibility). Untuk melewati jalur non tol, tentunya saya harus mempengaruhi para penumpang kendaraan saya dan juga perlu bertanya kepada orang lain dipinggir jalan untk menuju jalur alternatif yang benar. Pada proses ini saya perlu memiliki atau menjalin hubungan yang baik dengan orang lain (itulah yang dinamakan rapport)

Hal hal yang sering dilupakan sebelum menentukan tujuan adalah menyadari konskensi yang menyertainya. Selama ini, konsekuensi yang dipahami berkisar diantara apa keuntungan yang saya dapat jika goal tersebut dapat saya capai. Dan apa kerugian yang harus yang saya tanggung ketika saya gagal mencapai goal tersebut.

Sekarang saya akan membawa anda untuk melangkah lebih jauh lagi. Coba anda tulis apa keuntungan yang akan anda peroleh jika goal anda tidak tercapai ? lalu tulis juga, apa kerugian yang akan anda alami jika goal anda tercapai. Wkkkk…anda mulai bingung ? bagus itu berarti anda mikir hahaha…