Vibrasi Magnet Hati

Seorang sahabat mengajakku untuk mengikuti acara ini. Entah ini namanya training, workshop atau sharing knowledge yang jelas saat diajak saya sudah punya feeling kalau ini bermanfaat. Bahkan jika seandainya tidak bermanfaat, toh investasinya gak terlalu mahal Rp 500 ribu dan seluruh keuntungan akan didonasikan untuk meng-umrohkan orang lain yang tidak mampu.

Maka begitu dapat informasi bahwa acaranya akan diselenggarak sabtu 10 Juni 2017 pada bulan Ramadhan, maka saya langsung mendaftarkan istri saya, anggap saja refreshing buat dia yang sibuk produksi orderan japanese cheese cake (oleh oleh kekinian surabaya).

Okey saya akan review, apa saja yang saya dapatkan dari acara ini. Acara Vibrasi Magnet Hati (VMH) ini di bawakan oleh Pak Rijal seorang SEFTER yang juga GM di sebuah perusahaan Distrubutor makanan. Dasar ilmunya adalah Vibrasi yang dikembangkan oleh Pak Arif RH, dan di VMH ini dimodifikasi oleh Pak Rijal sesuai ilmu yang dimilikinya.

Vibrasi ini intinya adalah getaran perasaan yang ada di dalam hati. getaran ini bisa berupa rasa takut, marah, sedih, senang,  gembira syukur dan lain sebagainya. Ajaibnya getaran hati ini akan mempengaruhi apa yang terjadi pada kehidupan kita.

Vibrasi ini dikembangkan oleh David R Hawkins, beliau mengungkapkan bahwa ada 2 kelompok vibrasi yaitu vibrasi Force dan Vibrasi Power. Vibrasi Force adalah vibrasi dengan level energi rendah yang tidak memberdayakan seperti putus asa, sedih, kecewa, marah. Sebaliknya Vibrasi Power adalah vibrasi dengan level energi tinggi yang membuat hidup ini lebih berdaya dan lebih beruntung misalnya rasa percaya diri, bahagia dan syukur.

Realitanya dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita berada pada vibrasi force ketimbang vibrasi power. Lalu bagaimana caranya agar kita lebih banyak berada pada vibrasi force  ?

Training diawali cerita Pak Rijal tentang tukang ojek yang menganggap bahwa ilmu sedekah dari Ustadz Yusuf Mansur (YM) itu bohong. Katanya YM kalau sedekah pasti dibalas sama Allah, oleh karena itu abang ojek itu menyedekahkan motornya agar mendapatkan balasan 2 atau 3 motor. Padahalmotor itu adalah satu-sastunya sumber penghasilan dalam mencari nafkah. Singkat kata balasan sedekah motornya tak kunjug tiba, hubungan dengan istripun sering cekcok bahkan pisah ranjang, dikejar kejar hutang karena motor yang disedekahkan belum lunas cicilannya dan bahkan saat ini abang ojek sudah tidak kerja. Setelah mendengar cerita itu, Pak Rijal mengetahui masalahnya. Abang ojek ini sedekahnya ngareeeep bangeeet denga balasan. Akibatnya balasan motor gak dapet, malah hidup semakin berantakan. Singkat cerita Pak Rijal memberi bantuan pada abang ojek tersebut kemudian menasihati bahwa cara sedekahnya salah. Bersedekahlah karena Allah tanpa memikirkan nanti akan dapat balasan apa. Singkat kata bantuan dari  pak rijal sebagian besar ia sedekahkan kembali, kali ini abang ojek ini pasrah tanpa mengharap apapun, kemudian ia berdoa sepenuh rasa, sepenuh cinta kalau dia sangat menginginkan istrinya kembali dan bisa mendapatkan nafkah rezeki kembali. Beberapa bulan kemudian berkat izin Allah, abang ojek ini mendapatkan hadiah motor dari undian kopi sachet yang ia kirimkan.

 

Mengapa selama ini hanya keajaiban kecil saja yang datang, mengapa keajaiban besar jarang yang datang ? hal ini tak lain karena keajaiban kecil yang kecil tidak disyukuri.

Satu kalimat kunci yang saya dapatkandari pelatihan VMH ini adalah “Doamu adalah rasamu”. Maka berdoalah dengan sepenuh  hati, bisa jadi doa belum terkabul karena tidak sepenuh hati, tidak sepenuh rasa dan tidak sepenuh cinta. Itulah mengapa Do’a orang yang dizhalimi lebih terkabul, karena saat berdo’a dia sepenuh hati sepenuh rasa. Jika saya mencoba untuk flashback kebelakang masih teringat betul do’a  do’a saya yang saya lantunkan sepenuh hati sepenuh rasa ternyata dikabulkan oleh Allah. Sayangnya 90% do’a yang saya lantunkan adalah do’a SOP, do’a template dan do’a auto text.

Lalu doanya seperti apa

  1. The Intensity of Prayer (benar benar minta sepenuh rasa) lalu naikkan terus rasanya dengan jujur dan curhat pada Allah mengenai apa yang sebenarnya diinginkan dalam hidup ini. Pertanyaannya apakah anda lebih sering berdoa atau apakah lebih sering curhat
  2. Seberapa tulus anda berdoa untuk itu (terkabul dan tidak terkabul sudah tidak penting lagi)

jika masih ada masalah dalam hidup ini coba check

  1. Hubungan kita dengan Allah
  2. Hubungan kita dengan pasangan
  3. Hubungan kita dengan Orangtua

Barangkali tanpa sadar kita pernah menyakiti orang orang yang paling kita sayangi dan belum dimaafkan.

Okey sampai sini dulu, kalau ada sumur di ladang akan saya sambung lagi.

 

Compassionate Parenting

compassionAtas ajakan teman saya Mbak Dian Cahyorini saya menghadiri seminar compassionate parenting bersama anak kedua saya Alin (3y) karena Ibunya sedang menghadiri pernikahan rekan kantornya bersama anak pertama saya. Saya sangat terkesan dengan acara seminar compasionate parenting yang menghadirkan Mas Gobind Vashdev sebagai pembicara sekaligus pengisi materi. Banyak sekali “harta karun” yang saya peroleh dari acara tersebut, meskipun saya sempat keluar selama 2 jam di pertengahan acara karena harus mengantar Alin pulang kerumah dari veneue seminar karena sudah waktunya bobo siang.

Jika berbicara mengenai compassionate parenting, maka fokus sesungguhnya bukan pada anak, namun kepada diri sendiri sebagai orangtua. Menurut sebuah survey 90% masalah parenting itu adalah masalah di dalam diri orangtua sendiri. Masalah ini disebabkan luka batin orangtuanya yang belum selesai. Alih alih mencari jalan keluar, orangtua seharusnya mencari jalan kedalam diri sendiri.

Misalkan rumah kita kebakaran, apa prioritas yang akan kita lakukan ? mengejar pelaku pembakaran ? atau memadamkan api terlebih dahulu ?

Lalu bagaimana jika hati kita yang terbakar oleh anak kita ? apakah kita padamkan dulu kebakaran di hati ? atau secara spontan (autopiliot) langsung mengejar anak kita untuk memperingatkan agar tidak membuat kebakaran lagi ? kebanyakan akan memilih memadamkan apinya terlebih dahulu

Maka compassionate parenting kita diajak untuk menyadari luka luka batin kita, merawatnya lalu barulah kita bisa mengerti, memahami dan menumbuhkan rasa welas asih pada apapun keadaan anak kita.

Luka Batin

Misalkan kita diberi waktu 10 detik untuk menggambar pemandangan, kira kira hasilnya seperti apa? saya berani bertaruh bahwa kebanyakan akan menggambar dua buah gunung kembar berwarna biru yang dipisah oleh matahari terbit lalu dibawah gunung ada sebuah jalan lurus nan lebar dan disamping kiri kanan jalan terhampar hijaunya sawah. Mengapa demikian ? karena ketika dibatasi waktu, maka solusi yang spontan muncul adalah solusi yang paling mudah untuk diakses (gambar pemandangan berupa dua gunung tersebut). Dikenal juga dengan sebutan program autopilot kita. Begitupula halnya ketika kita menghadapi anak. Saat anak rewel atau tantrum maka respon yang muncul dari diri kita adalah solusi yang termudah (solusi yang terbiasa dilakukan). Misalnya kalau saya ehm…keluar nada tinggi untuk segera membuat anak diam.

Respon spontan kita sebagai orang tua adalah hasil dari program program masa lalu. Maka ketika saya mulai menyadari nada tinggi yang keluar, saya mulai melakukan pengamatan terhadap diri sendiri dan kemudian menelusuri darimana saya punya program seperti ini. Aha ketemu, ternyata waktu kecil (5thn) saya pernah dibentak-bentak dan dilempar benda tumpul oleh paman saya karena kenakalan saya. Betapa waktu itu saya sangat membenci paman saya, yang saya manifestasikan dengan membuang ketikan skripsinya sekaligus berjanji akan memukulnya nanti jika saya sudah dewasa. Jaman berganti musim bertukar saya sudah melupakan kejadian kejadian tersebut. Sayangnya saya tidak menyadari luka batin itu terlanjur ada dan tersimpan di kedalaman memori bawah sadar yang kemudian SEOLAH hilang dan terlupakan.

Sejatinya seorang anak tau dimana titik titik luka batin orangtuanya karena kesamaan genetik. Justru tugas seorang anak menurut Gobind adalah memancing emosi kedua orangtuanya. Dengan cara seperti itu seorang anak sebenarnya sedang memberi informasi kepada orangtuanya dimana letak luka-luka batin yang tidak disadari namun sering mewujud menjadi emosi spontan.

Lalu bagimana merawat luka-luka batin itu ? Menurut Gobind yang perlu dilakukan orangtua adalah duduk lalu rasakan emosi yang muncul saat itu. Misalkan yang muncul adalah emosi kesal, maka sambil duduk tariklah nafas perlahan-lahan sambil berkata “saya sedang merasa kesal”. Kemudian lepaskan nafas sambil berkata “saya sedang merawat kekesalan ini, keduanya adalah bagian dari diriku”.

Setelah diri kita beres, maka selanjutnya apakah yang dilakukan saat anak tantrum? Gobind menjelaskan bahwa anak tantrum, karena ini adalah satu-satunya cara yang Ia tahu untuk berkomunikasi.

Gobind melanjutkan “saat anak saya Rigpa tantrum, saya hanya akan bermeditasi disebelahnya dengan mata terbuka. Saya mebiarkan Rigpa mengeluarkan emosinya. Bila kita mengalihkan emosinya dengan memberikan manisan, video games atau lainnya, kita mengajarkan anak untuk tidak menyelesaikan masalahnya, tidak mengeluarkan kemarahannya.”, Ujar Gobind.

“Rigpa bisa lebih dari satu jam menangis, maka saya hanya akan diam disebelahnya. Bila di tempat ramai, saya minta untuk pulang atau ketempat yang lebih sepi. Memberitahu anak saat Ia sedang marah atau sedih tidak akan berhasil. Saat anak sudah selesai meluapkan emosi, berilah rangkulan”.

Fasilitator Pembelajaran bukan Fasilitator Pelindung

Kurangi peran orangtua sebagai fasilitator pelindung, namun tingkatkan peran sebagai fasilitator pembelajaran. Daripada melarang-larang anak, ajari saja bagimana agar meminimalisir dampak kecelakaan akibat bermain. Misalnya “Nak kamu boleh main manjat-manjat pohon, mau kepalamu benjol, kaki kesandung, jatuh tidak masalah yang penting kalau jatuh jangan sampai bagian belakang lehermu yang kena”

Di tengah-tengah kelas, kami menonton Ibu bebek dengan lebih dari 5 anaknya yang sedang berjalan menaiki trotoar jalan. Ibu bebek naik duluan, lalu anak-anak bebek satu persatu naik. 2 anak bebek tertinggal. Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya memperhatikan dari dekat di atas trotoar. Satu persatu anak bebek ini naik , walau 1 anak terakhir butuh waktu, Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya dia memperhatikan dari dekat.

“Anak bukan butuh pelindung, tapi tempat untuk belajar. Bila anak jatuh, ingatkan kepada anak, bila ada kebahagiaan , maka ada kesedihan. Bila ada enak, ada tidak enak. Kamu sudah merasakan kebahagiaan, mari kita juga peluk kesedihan”, Gobind menjelaskan. Anak punya kemampuan luar biasa dalam beradaptasi, let them adapt whith not only the goods of the world but also the bad. Biarkan mereka bersedih bila tidak mendapatkan mainan yang mereka inginkan. Seringkali ketika Hafiy meminta makanan diluar yang sudah dimasak oleh mamanya, (misal minta rawon jam 8 malam, padahal sudah masak soto) saya mencegah mamanya untuk membelikan. Saat dia terlambat ke sekolah karena susah mandi, saya hanya membiarkan dia merasa malu karena terlambat. Biarkan ia mengenali rasa tidak nyaman berusaha mengatasinya.

Kehidupan itu Dinamis

Kehidupan ini tidaklah kaku namun dinamis, orangtualah yang seringkali membawa agenda agenda tersendiri. Misalnya kamu harus juara 1, harus lulus dengan nilai terbaik, mahir main piano. Lalu apakah agenda tersendiri orangtua ini tidak diperlukan ? Boleh boleh saja orangtua mempunyai agenda tersendiri terutama untuk hal hal yang prinsip asalkan bebas dari kemelekatan. Misalnya orang tua ingin anaknya menjadi anak sholeh yang kuat imannya, silahkan lakukan usaha terbaik namun tak usah terlalu dipikirkan apakah nanti anaknya benar-benar menjadi anak sholeh. lakukan saja yang terbaik, nikmati prosesnya tanpa ngarep. Ini sangat sesuai dengan nasihat Kyai Haji Maimun Zubair “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah”. Begitu pula menjadi orangtua.

Ajarkan Cinta, Bukan Ketakutan

“Hafiy , ayo mandi ? Nanti kalau ga mandi  jadi temennya si S (setan) loh”,

“Awas, nanti jatuh loh!”

“Alin, kalau gak mau makan, nanti sakit terus diinfus lho nak.”

“Wah, kalau mukul mukul temenmu nanti enggak punya teman.”

Siapa yang pernah seperti ini? (saya sendiri pernah berulangkali melakuan hal itu) Tanpa disadari proses mendisiplinkan anak menjadi proses menakuti anak.

Gobind menambahkan “Kita lupa mengajarkan cinta kepada anak, Saya saat ini tidak menggunakan sabun berbahan kimia, bukan karena Saya takut pada bahan kimia, Saya ini tinggal dekat sawah, di belakang rumah Saya, bagaimana bisa Saya meracuni sawah ini, yang memberikan Saya makan? Saya melakukan ini karena Saya mencintai mother earth, ibu Saya.”, ujar Gobind.

Gobin juga mengingatkan ketika kita mulai membandingkan anak dengan orang lain, anak akan merasa dirinya tidak lebih baik dari orang lain. Memang sangat mudah membandingkan anak, anak akan merasa adanya kompetisi dan mulai menjadi lebih baik versi Ibunya. Tanamkan cinta salah satunya dengan berujar ,” I love you the way you are”.

Beri Pujian Pada Kebiasaan Anak yang Baik

“Kita tidak pernah lupa memberikan pujian kepada anak bila anak berhasil menggambar, berjalan, atau makan banyak. Tapi kita terkadang lupa memberikan pujian pada kebiasaan baik anak saat berbagi dengan orang lain, berjalan sendiri tanpa digendong, ramah terhadap orang lain, dan lainnya”, tegas Gobind.

Jangan Menggadaikan Hubungan Anak Kita

Orangtua seringkali menggadaikan hubungan dengan anaknya untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Misalnya saat bertemu teman lama di jalan, kita meminta anak untuk salim dan cium tangan teman kita namun ternyata anak kita tidak mau, lalu kita sedikit memaksa “ayo cepet salim sana sama om” setelah salim lalu kita asyik ngobrol dengan teman lama dan mengabaikan anak kita. Biarkanlah anak memilih waktunya sendiri untuk mengenal orang. Misal juga ketika ada tamu berkunjung ke rumah bertepatan anak kita sedang asyik main di ruang tamu, maka jangan karena mengutamakan tamu ataupun malu pada tamu kita jadi bersikap kurang menyenangkan kepada anak kita. Termasuk juga ga perlu risau ataupun malu ketika mengetahui bahwa anak kita ada kekurangan jika dibandingkan teman temannya, misalnya kurang sopan santunnya. Dalam hal berbagi, apabila anak belum mau berbagi, biarkanlah, apa Anda mau meminjamkan mobil Anda kepada orang lain yang Anda tidak kenal? Jangan rusak hubungan Anda dengan Anak . Ini juga berlaku bila anak tidak mau salam dengan keluarga atau kerabat.

Walk The Talk

Pada bagian ini Gobind bercerita tentang kisah Mahatma Gandhi. “Ada seorang ibu rumah tangga memiliki seorang anak yang suka mengkonsumsi garam. Padahal anak tersebut memiliki penyakit yang akan kambuh apabila anak tersebut mengkonsumsi garam. Ibu tersebut telah menasehati anak tersebut untuk tidak mengkonsumsi garam tersebut. Tetapi anak tersebut masih saja mengkonsumsi garam tersebut”

Suatu ketika ibu tersebut datang kepada gandhi untuk meminta pertolongan agar menasehati anaknya yang sering mengkonsumsi garam. Gandhi pun tidak menyanggupi langsung untuk menasehati anak tersebut dan disuruh ibu tersebut untuk kembali seminggu kemudian ke kediaman gandhi. Ibu pun lantas kecewa karena harus seminggu kemudiaan harus kembali

Dan akhirnya seminggu kemudian si ibu dan anak tersebut kembali menuju tempat Gandhi. Setelah itu Gandhi mendatangi anak tersebut dan memberikan nasehat “hey anakku janganlah kamu mengkonsumsi garam lagi, karena jika kamu mengkonsumsi garam lagi kamu akan mengecewakan orang tuamu, mengecewakan dokter yang merawatmu, bahkan mengecewakan dirimu sendiri di kelak nanti”. Ibu pun semakin kecewa karena nasehat gandhi barusan sama seperti nasehat yang ibu katakan setiap harinya kepada anaknya. Gandhi pun tersenyum dan mempersilahkan ibu dan anak tsb kembali.

Besok harinya anak tersebut masih mengkonsumsi garam, tetapi di kemudian harinya konsumsi garam tersebut berkurang dan berkurang pada hari ketujuh. Ibu pun gembira melihat aktivitas anaknya yang mengkonsumsi garam semakin hari semakin berkurang. Kemudian ibu pun penasaran dan mendatangi kediaman Gandhi dan bertanya bagaimana bisa anak saya mulai berkurang konsumsi garam nya, dengan nasehat yang sama. gandhi pun menceritakan kenapa ibu tersebut diharuskan seminggu kemudian mendatangi Gandhi,Gandhi menjelaskan bahwa dia membutuhkan waktu seminggu untuk mencoba tidak mengkonsumsi garam sebelum menasehati anaknya ibu tersebut, karena andaikan waktu pertama ibu meminta Gandhi menasehati anaknya, Gandhi sendiri tidak menyanggupi karena Gandhi waktu itu masih mengkonsumsi garam juga. Jadi Gandhi mulai siap menasehati anak tersebut setelah dia tidak mengkonsumsi garam lagi.”

Note : tulisan belum selesai masih ada materi tentang kata konkrit dan abstarc, menemukan solusi dari anak sendiri, dan mendengarkan serta membantu mengekspresikan emosinya. dan akan diupdate di lain hari.

 

Arah dan Sumber Motivasi

Sudah jamak bahwa manusia akan berusaha untuk memburu kenikmatan dan atau menghindari kesulitan, termasuk anda dan juga saya. Benar atau benar ? Misalnya seorang karyawan bisa saja bekerja habis habisan agar cepat promosi, dalam hal ini karyawan tersebut mempunyai arah motivasi mendekat. Arah motivasi mendekat maksudnya motif seseorang melakukan tindakan karena ingin mengejar sesuatu (memburu kenikmatan). Seorang karyawan yang lain bisa jadi berkinerja tinggi justru karena takut dimarahi atasannya, dalam hal ini karyawan tersebut mempunyai arah motivasi menjauh. arah motivasi menjauh maksudnya motif seseorang melakukan suatu tindakan karena ingin menghindari sesuatu yang tidak diinginkan menimpa dirinya (menghindari kesulitan).

Seseorang bisa mempunyai arah motivasi yang berbeda-beda tergantung konteksnya. Misalnya saya sendiri, dalam konteks memilih rumah tinggal saya menginginkan rumah lingkungannya dekat yang dekat dengan kantor, sekolahan anak, dan juga masjid jami’. Kemudian dalam hal memilih mobil,  saya memilih mobil yang perawatannya mudah dan memiliki sistem keamanan yang tinggi agar saya tidak pusing dan tidak merasa khawatir di kemudian hari. Jadi hampir tidak ada orang yang hanya memiliki satu jenis arah motivasi dalam semua konteks kehidupannya.

Arah motivasi ini juga dapat berubah tergantung waktu. Misalnya pada saat memilih rumah tadi, saya memilih rumah yang lingkungannya dekat yang dekat dengan kantor, sekolahan anak, dan juga masjid jami’. Namun setelah saya tinggali selama 4  tahun ternyata rumah tersebut selalu menjadi kawasan langganan banjir. sejak saat itu saya lebih memilih rumah yang jauh dari kawasan banjir.

Lalu mana yang lebih baik diantara kedua arah motivasi tersebut ? jawabanya tidak ada yang lebih baik. Semua dapat dimanfaatkan untuk memberdayakan diri kita. Misalnya setelah kita menyadari bahwa arah motivasi kita dalam berkarya adalah mendekat, maka kita dapat memotivasi diri dengan  cara mengiming-imingi diri sendiri dengan hadiah atau imbalan yang sangat bernilai. Sebaliknya jika kita menyadari bahwa arah motivasi kita menjauh dalam konteks menyelesaikan pekerjaan, maka kita bisa memotivasi diri sendiri dengan menghadirkan gambaran gambaran mental yang tidak kita inginkan, sehinga kita terpacu untuk menghindarinya. Hal yang sama juga dapat kita aplikasikan ketika ingin memotivasi orang lain. Terlebih dahulu tentunya adalah mengetahui apakan orang tersebut memiliki arah motivasi yang mendekat atau arah motivasi yang menjauh ? setelah itu barulah kita dapat mempengaruhi sesuai arah motivasinya.

Get well soon dear

Sudah 4 hari ini alin demam, tubuhnya panas disekitaran 37,5 namun begitu terkadang ia masih bisa menampilkan senyumnya yang manis,senyum seorang wanita yang berkelas. Yang agak memilukan adalah ketika tiba-tiba ia menangis. Mungkin karena ketidaknyamanan yang dirasakannya. Kadang sembari menonton upin ipin, tanpa ia sadari hidungnya telah mimisan. Mungkin karena ia belum menyadari apa arti cairan merah yang menetes itu. Dimalam ini menjelang tidur, ku menyaksikan matanya yang telah terpejam, sementara senyum tipis masih menghiasi wajahnya sekaligus menghiasi rumah ini. Get well soon dear.

Uang Baru Indonesia dan Keberlimpahan yang Menyertai

rupiah dan yuan

Beberapa hari ini media sosial heboh disebabkan peluncuran uang rupiah dengan desain baru. Kehebohan ini ditengarai desain uang baru rupiah ini yang sangat mirip sekali dengan uang yuan china. beberapa netizen juga mempertanyakan mengapa sih rupiah pake diganti segala? kenapa juga harus ada gambar pahlawan nasional, gak pake gambar pemandangan? Kenapa juga harus diganti bebarengan?
Berdasarkan konfirmasi teman kuliah yang sekarang bekerja di Banak Indonesia (BI), desain rupiah diganti karena menyesuaikan dengan UU Mata Uang No 7 tahun 2011.  Dalam UU tersebut diatur ciri, desain, dan bahan uang. Pada pasal 7, disebutkan bahwa gambar utama rupiah adalah pahlawan nasional. Ya karena sejak 17 Agustus 2014, UU ini sudah berlaku, maka sudah dilakukan perubahan utk 1 pecahan 100 ribu. Sekarang saatnya utk dilakukan pada seluruh pecahan agar pelaksanaan UU dapat diimplementasikan menyeluruh. Selain itu desain uang ini sebenarnya juga mirip dengan mata uang euro dan turki.

rp-euroOkelah semua alasan tersebut menurut saya masuk akal, namun feeling saya koq gak enak ya.  Alih alih saya terus mempunyai perasaan negatif, saya teringat sebuah quote “Energy Flows Where Attention Goes.” Saya mencoba untuk mengubah atensi kepada hal-hal baik dan membahagiakan sekaligus memberdayakan agar terus dihampiri kehidupan lebih baik,  menyenangkan, bahagia,  dan berkelimpahan rezeki.

Maka, jika saya menginginkan kekayaan maka saya akan memberi Atensi Baik pada uang tersebut,  panggil dia,  sapa dia dan persilahkan dia hadir pada diri kita tak terbatas dan dari mana saja.

Sebaliknya kalo saya complain,  nyinyir dan menghina desain uang tersebut,  nah lho bisa jadi  malah tambah kere dan uang ga mau mendekati.

Jadi saya memilih untuk menerima semuanya dengan baik,  mengalir dan selalu tersenyum dalam melihat hal baru tersebut dengan lebih nyaman dan membahagiakan juga mengkayakan diri anda.

Rules dalam Relationship

rules relationship

Sepasang suami isteri menurut saya bisa diibaratkan sebuah tim yang memiliki tujuan bersama menghadapi tantangan dunia dan menyiapkan bekal untuk akhirat. Akan sangat tidak efektif jika diantara mereka muncul pertengkaran yang berlarut-larut yang sebagian besar disebabkan kesalahpahaman sehingga tujuan bersama tersebut terbengkalai. Misalnya nih, Suami habis pulang dinas luar kota dengan kondisi pikiran dan batin yang kacau balau, kemudian sang istri yang disergap rindu langsung memberondong dengan cerita cerita dan pertanyaan. Sang suami yang masih lelah dan sumpek kemudian menunjukkan ekspresi yang tidak menyenangkan karena dalam pikirannya ia hanya butuh mandi air hangat dan pelukan hangat pula. Ujung-ujungnya sang istri merasa tidak dihargai kemudian ngambek gak mau bicara selama berhari-hari.

Untuk meminimalkan kesalahpahaman perlu adanya rules atau aturan aturan dalam rumah tangga. Prinsip utamanya, rules tersebut haruslah win-win solution dan dibangun dengan pondasi saling menghargai. Detailnya tentu berbeda antara pasangan yang satu dengan yang lain. Contoh rules yang berlaku di keluarga kami antara lain :

  1. Suami dan Isteri mempunyai waktu me time dan kehidupan sosial sendiri 1 x seminggu @6jam.
  2. Semua kegiatan rumah tangga tidak boleh lebih utama dari waktu sholat fardhu berjamaah.
  3. Bergantian membuat susu untuk anak dll

Aturan ini bisa berubah-ubah secara fleksibel tergantung kesepakatan antara suami dan isteri. Mengapa rule ini sangat penting ? karena dengan rules ini pasangan akan terbiasa untuk bergerak secara selaras dan beriringan, seiya sekata utamanya ketika nanti mendidik anak. Banyak sekali pasangan (termasuk kami) langsung meloncat belajar parenting, padahal ilmu relationship saja masih belum beres. Satu hal yang kami sadari kemudian, hadiah terindah bagi anak-anak adalah hubungan yang positif antara kedua orangtuanya.

Membangun Keintiman dengan Pasangan

Sebuah hubungan romansa pada umumnya di awali fase honeymoon dimana segalanya tampak indah dan manis. Kekurangan pasangan kita seolah tertutupi oleh euforia yang menyelimuti romansa tersebut. Setelah kurang lebih 6 bulan hubungan akan memasuki fase kedua yaitu fase adaptasi, pada saat ini mulai muncul gesekan gesekan seperti “aku maunya kamu seperti ini” pada fase ini saling terjadi penyesuaian penyesuaian, mulai saling mengetahui apa yang diinginkan dan tidak diingankan pasangannya. Masa ini berjalan antara 2 sampai 3 tahun. Setelah itu hubungan akan masuk pada fase yang ketiga yaitu fase stabil. Fase dimana masing masing pasangan sudah saling memahami pola pola hubungan yang terjadi serta saling memaklumi sifat sifat pasangannya. Pada fase ini hubungan sudah mulai membosankan. Untuk mengatasi kebosanan tersebut perlulah dibangun keintiman dintara pasangan, bagaimana caranya ?

Untuk membangun keintiman ada 5 tahapan yang harus dilalui yaitu : komitmen, kepercayaan, komunikasi, kompromi, baru kemudian masuk ke keintiman.
Komitmen artinya aku akan tetap bersamamu meski aku tak ingin bersamamu. Kepercayaan maksudnya terbangun rasa positif diantara pasangan bahwa mereka sudah saling berkomitmen. Komunikasi artinya saling menyediakan wadah untuk menampung curhatan pasangannya dan memberi respon terbaik. Lalu dengan baiknya kominikasi maka akan tercipta iklim saling kompromi. Setelah itu barulah masuk ke keintiman. Sayangnya banyak pasangan yang langsung habis habisan intim saat masih di fase honeymoon.