REZEKI YANG I’TIDAL 

Oleh Muhammad Nurul Banan 


Saya pernah menuliskan bahwa “Tuhan di Posisi I’tidâl Shalat”, begini, “Tuhan merupakan pribadi dengan keseimbangan total. Karakter-karakter-Nya merupakan keterkaitan yang saling terhubung antara satu sama lain. Al-Jabbar: Maha Otoriter disinkronkan dengan watak Ar-Rauf: Maha Penyantun. Adh-Dhārr: Maha Mencelakai disinkronkan dengan An-Nāfi’: Maha Bermanfaat. Al-Mutakabbir: Maha Besar diri disinkronkan dengan Al-Lathīf: Maha Lemah-lembut. Dan seterusnya.”
Saya juga menjelaskan, “Artinya pribadi Tuhan itu menganut sistem keseimbangan mutlak. Jika Tuhan hanya santun, bermanfaat, lemah-lembut, Dia akan dinilai lemah, lalu Dia mudah disampahkan orang, tanpa wibawa. Juga kalau Tuhan hanya otoriter, mencelakai, sombong diri, Dia akan dinilai preman fasis anti toleransi, Dia hanya ditakuti tanpa kharisma,” jelas saya dulu.
“I’tidāl shalat merupakan gerakan menyeimbangkan diri antara aktifitas berdiri dan sujud dalam shalat. Berdiri itu meninggi, sujud itu merendah, keduanya ditengahi dengan i’tidāl, yakni “menjadi adil” di antara dua perbuatan ekstrem yang berlawanan sehingga menjadi seimbang.” 
“Karena ini, Tuhan penganut prinsip i’tidāl shalat, Dia berkebijaksanaan pun dengan kebijaksanaan yang seimbang, Dia berkarakter pribadi pun menganut pola i’tidāl.”
“Dan alam semesta ini juga mutlak dari akumulasi hukum keseimbangan, yakni sistem i’tidāl, baik secara fisika, biologi, maupun ruhani, karena alam ini dilahirkan oleh Tuhan yang i’tidāl,” begitu akhir saya menjelaskan.
Hukum alam merupakan kesepakatan hukum keseimbangan atau hukum i’tidal. Yang paling lemah adalah gaya gratifikasi alam semesta, sebanding dengan kekuatan grafitasi atom yang merupakan gratifikasi paling kuat. Patuh pada hukum i’tidal alam.
Akan halnya sistem timbangan, satu sisi neraca yang berisi 10 kg batu akan seimbangan dengan 2 karung kapas. Kalau tidak, pasti njomplang. Ia patuh pada hukum i’tidal alam.
Seorang yang sombong, selayaknya dijatuhkan, karena sombong pada hakikatnya naik terus, kalau tidak dijatuhkan menjadi tidak seimbang. Demikian halnya yang tawadhu’, dia merendah, selayaknya dia diangkat naik. Seorang yang sombong tidak dijatuhkan pun, dia pasti jatuh sendiri, atau seorang yang tawadhu’ tidak diangkat pun dia akan terangkat sendiri, karena patuh pada hukum i’tidal alam.
Jadi, semua yang di alam semesta ini melakukan gerak i’tidal shalat. Gerak menyeimbangkan diri di antara dua perihal.
Keberlimpahan satu paradok ekstrem diseberang paceklik, kekayaan juga satu paradok ekstrem diseberang kemiskinan. Keberlimpahan dan kekayaan bukan lagi sistem ‘i’tidâl alam, keduanya satu titik di ujung keekstreman.
Maka ini ketika Anda yang ingin meraih keberlimpahan dan kekayaan, Anda justru harus menarik dan masuk dalam pemiskinan diri, sebagaimana Anda yang hendak ekstrem bersujud maka Anda harus ekatrem meninggi berdiri. Tanpa meninggi berdiri Anda tidak pernah mampu sujud kecuali Anda teriena darurat seperti halnya sakit dan cacat fisik.
Memiskinkan diri untuk meraih keberlimpahan dan kekayaan artinya bukan Anda membangun semacam mental miskin, tetapi Anda memiskinkan ego sendiri demi mengkayakan perasaan orang lain.
Jadi sangat sederhana jika ingin kaya harta, i’tidâl-kan saja rezeki Anda dengan jalan memiskinkan ego Anda dalam soal kepentingan meraih rezeki. Kerja sebaik-baiknya lalu berikan sebanyak-banyaknya rezeki Anda pada orang lain, karena penyebab miskinnya rezeki Anda karena rezeki Anda belum i’tidâl. I’tidâlkan rezeki Anda!
Bukankah sedekah itu mekanisme memiskinkan ego diri? Sedekah itu Anda kenyangkan orang lain sementara perut sendiri entar nomor belakangan. Kalau masalahnya melarat terus, i’tidàl-kan dengan sedekah.
Kadang rezeki sudah banyak tapi “ngenes” melulu. Tetangga kanan-kiri nyebut Anda orang kaya, tapi Anda kemerungsung terus hidupnya, suami istri bertengkar kemelut, usaha besar tapi terasa hanya untuk setor bank, stres dikejar-kejar target bisnis terus tapi cuma dapat capai. Keadaan-keadaan ini adalah yang tidak i’tidâl, padahal Anda disebut kaya.
Ingin selesai dari masalah-masalah itu caranya i’tidâl-kan rezeki Anda. Masalah-masalah tersebut adalah masalah kemelut materilisme. Dunia ini hakikatnya kekeruhan, maka tanda Anda terjebak dalam materialisme, keadaan hidup Anda menjadi keruh. 
Sebab ini agar i’tidal lagi rezeki dan kehidupan Anda, maka putus akar rumputnya. Akar rumputnya adalah “menuruti gaya hidup sehingga tidak terasa merugikan orang lain”.
Cara meng-i’tidâl-kannya, gaya hidupnya hentikan, hidup seadanya dan secukupnya, banyak-banyak menahan diri dari rasa ingin meraih target dan rasa ingin meraih banyak, lalu berbalik arahlah dengan banyak memberi kepada orang lain.
Keadaan hidup Anda ekstrem di kanan atau di kiri, maka i’tidâl-kan dengan memberatkan lawan yang seimbang, karena Tuhan dan mekanisme alam-Nya selalu paten dalam i’tidâl shalat.[]

Ringkasan Theory of Constructed Emotion

Oleh : Teddi Prasetya Yuliawan 

Inti dari buku ini adalah membahas _Theory of Constructed Emotion_. Teori yang dipelopori oleh penulisnya. Teori ini mengoreksi pandangan lama tentang emosi yang sudah dipakai sejak zaman Darwin. 

Tempo hari saat saya share pertama kali, Mas Bayu⁩ sempat tanya apakah ini kontra dengan riset-riset Paul Ekman. Fyi, Ekman adalah pakar emosi kenamaan yang riset-risetnya membuktikan bahwa emosi itu punya semacam ‘sidik jari’. Sederhananya, ekspresi emosi manusia di berbagai belahan dunia itu punya kesamaan. Riset-riset Ekman dan yang lain membuktikan hal ini. Ketika subyek riset di Papua Nugini ditampilkan gambar ekspresi emosi, mereka bisa menebak dengan tepat emosi apa itu. Simpulan pandangan ini ya tadi: emosi punya semacam sidik jari. 
Pandangan ini didasari oleh asumsi lain. Emosi punya sidik jari, sebab ia lahir dari proses yang standar di dalam diri, secara fisiologis. Lebih tepatnya, otak kita punya bagian tertentu yang kerjanya memicu emosi tertentu. 
Nah, Lisa Feldman meneliti dengan asumsi ini awalnya. Rupanya, bertahun-tahun, yang ia temukan tidak signifikan hasilnya. Ia merasa gagal. Ada yang salah dengan proses riset atau datanya. Begitu ia berpikir.
Singkat cerita, ia baru menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan datanya. Yang ‘salah’ adalah cara memahaminya. Asumsi yang digunakan. 
Ya. Asumsi bahwa ada bagian tertentu di otak yang tugasnya memicu emosi tertentu inilah penyebabnya. Di eranya Ekman, alat memindai cara kerja otak belum secanggih belakangan. Jadi belum terlalu presisi. Maka asumsi tadi bisa dianggap valid. Ketika dilihat lebih dalam, ternyata tidak. 
Terus, asumsi yang sekarang gimana? 
Asumsi sekarang, cara kerja otak itu digital. Bukan analog. Maka emosi tertentu, bisa dipicu oleh bagian otak yang beragam saling terintegrasi. 
Terus, dasarnya apa dong kita merespon dengan emosi tertentu? 
Pengalaman masa lalu. Maka emosi itu _learned_. Ia dipelajari melalui pengalaman. Orang yang tidak pernah belajar bahwa meninggalkan shalat itu menggelisahkan ya ga akan gelisah. Orang yang tidak belajar mencintai sesuatu ya tidak akan merasa kehilangan sesuatu. 
Maka jadilah teori ini disebut _Theory of Constructed Emotion_. Bahwa emosi itu diciptakan. Disusun. Distimulasi oleh kita sendiri. 
Di NLP, kita sudah tahu ini sejak lama. Hanya saja secara praktis dan filosofis. Kini kita punya pemahaman secara riset empiris. 
La terus, gimana tadi itu dengan risetnya Ekman dkk? 
Na ini serunya. Lisa Feldman menelaah ulang proses riset dengan metode yang digunakan oleh Ekman dkk. Simpulannya, datanya valid. Yang jadi masalah adalah alat pengumpulnya. 
Loh? Kok?
Jadi gini. Alat yang digunakan dalam riset model lama, itu menampilkan gambar ekspresi emosi, lalu disertai dengan pilihan kata-kata emosi di sampingnya. Nah, kalau modelnya begini, maka hasilnya akan valid. Orang berbagai budaya bisa mengenali emosi yang sama. 
Tapi begitu alatnya dimodif sedikit, yakni hanya gambar, tanpa pilihan kata emosi, hasilnya langsunt variatif. Tidak konsisten. 
Sounds familiar?
Di NLP ini namanya……………
Framing. Ini juga yang disimpulkan Barret. Bahwa pilihan kata itulah yang secara halus mengarahkan pilihan subyek. 
Terus, ga valid sama sekali kah Ekman? Udah jadi model training mendunia lho. Hehe..
Bukan. Bukan begitu cara memahami riset. 
Barret justru menyimpulkan makin kuat bahwa emosi itu berasal dari persepsi dan ia _constructed_. Lihatlah. Begitu mudahnya pilihan orang berubah hanya karena ada tambahan tools. Tambahan pilihan. 
Kita di NLP, sekali lagi sudah tahu ini secara praktis dan filosofis. Ada  presuposisi yang mengatakan *’manusia bertindak berdasarkan pilihan yang tersedia dalam dirinya’*. 
La bener to? 
Karena emosi itu _constructed_, maka teraksesnya ya tergantung pilihan yang dimiliki berdasarkan pembelajaran yang dilalui. 
Begitu mudahnya kita di- _frame_ dan mem- _frame_ pikiran dan emosi kita menjadikan kita makin paham bahwa tanggung jawab pertumbuhan diri itu ada di dalam diri. Sudah tidak valid lagi secara empiris menyalahkan orang lain atas nasib kita. 

Kemenangan Semu dan Hubungannya dengan Vibrasi 

Kalau ribut dengan pelanggan,
Walaupun kita menang,

Pelanggan tetap akan lari.
Kalau ribut dengan rekan sekerja,

Walaupun kita menang,

Tiada lagi semangat bekerja dalam tim.
Kalau kita ribut dengan boss,

Walaupun kita menang,

Tiada lagi masa depan di tempat itu.
Kalau kita ribut dengan keluarga,

Walaupun kita menang,

Hubungan kekeluargaan akan renggang.
Kalau kita ribut dengan guru,

Walaupun kita menang,

Keberkahan menuntut ilmu dan kemesraan itu akan hilang.
Kalau ribut dengan kawan,

Walaupun kita menang,

Yang pasti kita akan kekurangan kawan.
Kalau ribut dengan pasangan,

Walaupun kita menang,

Perasaan sayang pasti akan berkurang.
Kalau kita ribut dengan siapapun,

Walaupun kita menang,

Kita tetap kalah…
Yang menang cuma ego diri sendiri, itu hanyalah kemenangan semu.
Yang susah adalah mengalahkan ego diri sendiri. Namun, jika kita mampu menaklukan diri sendiri, ialah pemenang sejati.
Apabila menerima teguran, tidak perlu marah, bersyukurlah, masih ada yang mau menegur kesalahan kita.

====================================

Saya pernah membaca broadcast (bc) ini di salah satu group WhatsApp. Hanya saja waktu itu tidak terlalu berkesan hehehe… 

Baru setelah saya mengalami serangkaian kejadian, saya teringat kembali dengan bc tersebut ketika salah seorang kawan mempostingnya di facebook. 

Inti pesannya adalah janganlah kita memuaskan dan memenangkan ego kita sendiri lalu  mengorbankan banyak hal yang ujung-ujungnya membuat kita menderita. 

Saya teringat cerita saudara tiri ayah saya yang dikisahkan kepada saya ketika saya masih SD. 

“Adhie kamu jangan niru om justin, dia itu pinter pol. Kuliahnya saja di ITB dengan IP 3 koma,  tapi akhirnya gak selesai karena debat dengan disennya. Akhirnya dosennya jengkel dan om justinmu ga selesai skripsinya kemudian Out Dhewe (OD)” 

Cerita itu saya ingat selalu, dan ketika kuliah saya punya target yang penting kudu lulus, dosen baik atau nggapleki lontong ga masalah buat saya. Untungnya dosen saya baik baik. 

Sayangnya yang saya pegang adalah momen atau event ceritanya bukan esensinya. 

Saat saya berada pada peran yang lain, saya cenderung memuaskan dan memenangkan ego saya sendiri. Ternyata saya sendirilah yang nggapleki lontong. 

Misalnya, ketika berhubungan dengan anak saya. Saya cenderung ga mau kalah, namanya anak itu ya harus nurut. Padahal seharusnya kebahagiaan anak saya haruslah yang utama, karena saya tidak tau berapa lama lagi saya akan bersama mereka. 

Ketika istri saya berbuat sesuatu yang tidak mengenakkan hati saya, saya cenderung jengkel. 

Padahal saat saya mau menang sendiri, saya berada pada level energi keinginan (125) yang merupakan level energi rendah (force) 

Sedangkan pada saat saya jengkel dan kurang permakluman saya berada pada level energi marah (150) yang juga merupakan level energi rendah. 

Alangkah baiknya jika saya menggeser pada rasa penerimaan (350) dan cinta (500) yang berada pada level energi tinggi.  

Antara Kredit Cash, Provokasi Riba dan Servomechanisme 

Oleh Eep Saeful Richy Segara

Kredit dan cash tak ada bedanya, gak ngaruh dikemudahan rejeki. Yg mmbedakan cuma apakah Anda nyaman dan bertanggung jawab? Ituh!

Jika Anda nyaman dan bertanggung jawab dalam kredit, Anda akan ttp berkelimpahan. Tepat waktu bayarnya dan tidak ngemplang. Ituh!

Jika Anda nyaman dan bertanggung jawab dlm cash, Anda akan berkelimpahan, nabung dgn konsisten dan tepat waktu seperti kredit.

Tidak bertanggung jawab itu, kredit tidak ngukur kemampuan. Nurutin gaya hidup. Tidak nyaman, akhirnya seret rejeki. Ituh!

Sekarang Anda juga tidak kredit, tapi juga tidak Nabung. Tidak juga berbagi. Habis buat gaya hidup. Mau kaya? Jauhlah..!

Nah, sudah Anda kredit, tidak nabung dan akhirnya tidak bisa berbagi. Mau kaya? Sangat tidak bertanggung jawab. Ituh!

Uang adalah energi. Cash atau kredit itu mengalirkan energinya. Berbagi juga sama. Jika lancar alirannya, ya berkelimpahan. Ituh!

Uang adalah energi. Ketika niat mengeluarkan uang utk mengalirkan energinya.Sama saja, baik buat diri, keluarga atau sedekah.Ituh!

Kenapa orang ketika diprovokasi dengan riba lalu jadi seret rejekinya? Karena RASA BERSALAH yang memancarkan vibrasinya. Ituh!

Jika Anda mengajarkan meninggalkan riba, maka siapkan dulu servo tandingan untuk servo kredit yang sudah jadi pada target Anda.

Ketika Anda mengajak meninggalkan riba, mereka malah bangkrut, karena Anda lepas tangan. Ajari servo cashnya
Provokasi riba adalh bisnis. Tanggung jawab Anda adlh menyiapkan agar target Anda sukses. Instal servo cashnya. Jangan tinggalkan.

Anda mengajak meninggalkan riba. Yg diajak servonya kredit. Anda tdk mengajarkan servo cashnya. Anda berdosa merka makin bangkrut.

Servomechanisme itu gampangnya gini. Program otomatis pikiran bawah sadar yang ada pada diri kita masing masing. Ini efek dari kebiasaan yang di ulang ulang. Atau bisa langsung di install secara instan lewat teknik tertentu.
Jika orang servo nya gampang dapat pinjaman, maka pinjaman itu jadi seperti mendatangi. Itu contohnya. Silakan Anda simpulkan untuk contoh lain.

Ajib ya yang namanya servomechanisme, servoku adalah berbagi apa saja lalu dapat rejeki. Itu selalu begitu kejadiannya.
Seharian ini saya berbagi status beruntun, barusan, pak Karim ngabari bahwa sapi sapi kami sudah ada yang borong untuk lebaran Kurban. Besok kasih Dp.. Joooosss

Alhamdulillah… Matur suwun Gusti

Bahwa setiap kejadian dalam hidup tidak ada yang kebetulan. Kita dilibatkan dalam prosesnya. Sial dan beruntung adalah bersumber dari diri kita sendiri.

Pikiran dan perasaan kita, ternyata memancarkan getaran yang berkomunikasi dengan segala sesuatu di alam semesta.
Tinggal pilih, mau memancarkan getaran yang menarik keberuntungan atau kesialan. Pikiran dan perasaan itulah yang di pelihara.

Bagaimana mengetahui servomechanisme dalam diri kita?
Yang belum faham apa itu servomechanisme, silakan baca status sebelumnya atau gugling ya..

Mudahnya gini… Kita sering menyebutnya kejadian yang kebetulan tapi sering..karena saking mudahnya terjadi. Coba amati yang sering terjadi Pada diri kita, ada sesuatu yang sangat sulit bisa mewujud, ada yang begitu mudah mewujud dan mengulang.
Yang mudah mewujud dengan sedikit apalagi banyak usaha, itu bisa kita sebut sebagai servo kita. Program otomatis yang terinstal di bawah sadar kita yang perintahnya jelas seperti peluru kendali yang sudah di tentukan titik koordinat sasarannya…yang selalu mengkoresi sendiri jika mulai melenceng dari sasaran.
Intinya, apapun yang baik atau hal tidak baik yang begitu mudah mewujud, itulah servomechanisme kita. Tidak hanya satu, bahkan bisa ratusan atau ribuan servo.

Contoh pada saya ya..
Saya itu punya servo yang apabila pingin gadget apapun ada dua servo. Servo di kasih atau servo kredit. Kalau beli cash sebenarnya sangat sanggup, namun karena servonya adalah di kasih atau nyicil, maka ketika mau beli cash ada saja halangannya. Gak jadi melulu.
Ini berawal dari ketika saya menginginkan hape baru tahun 2012, dan mau beli, lalu cerita keteman hape apa yang bagus. Tiba tiba saya di kasih gratis oleh dia karena merasa terbantu kehidupan ruwetnya leawat saran saram saya. Rupanya ini terinstal langsung ke bawah sadar karena perasaan senang yang kuat dan intens. Setahun kemudian hal yang sama terjadi. Lalu terjadi lagi…dan belum lama terjadi lagi.. Itulah servo di beliin orang lain untuk hape baruku. Asal pengen aja.. Seolah semua bekerja sama untuk mewujudkan nya bagi saya.
Servo kredit yaitu begini. Pengen gadget berupa notebook kecil. Karena laptop cukup besar dan berat di bawa bawa. Saat itu keuangan lagi tidak stabil. Cicilan motor sudah lunas. Biasanya tiap bulan saya keluar uang untuk bayar cicilan motor. Nah bulan depan tidak ada lagi. Berarti pos keuangan untuk cicilan kedepan akan tidak ada. Sedangkan pos itu di semesta sudah jadi. Baik untuk bahas pos semesta cicilan atau otot finansial kredit akan saya  bahas di lain kesempatan, kita fokus dulu di servo kredit ini.
Akhirnya saya putuskan untuk lebih baik menggunakan servo cicilan yang sudah jadi ini untuk di lanjutkan, maka saya mengajukan ke lising untuk laptop kecil 2,5jt selama 12 bulan. Dan itu proses kok sangat mudah padahal pelanggan baru. Hanya pake KTP tok..
Nah inilah kerjaan servo, gak peduli caranya bagaimana saya dapat barang tersebut dengan cicilan. Akhirnya saya pake untuk jenis gadget saya manfaatkan servo ini. Karena sampai saat ini saya cuma pernah punya cicilan hanay di sepeda motor dan gedget. Ini kerjaan servomechanisme tersebut. Yang bukan servo kredit..bisa babak belur jika kredit.
Lantas apakah itu baik atau buruk. Terlepas dari semua hal tergantung Anda sendiri. Jika bertanggung jawab yaitu sesuai kemampuan dan komitmen utk teratur bayar dan tidak ngemplang ya bagus bagus aja. Tapi jika anda coba coba menyeleweng sekali saja. Itu sama saja anda merubah titik koordinat sasaran servo Anda dan Anda sendiri yang merasakn dampak buruk nya.

Selamat mengamati dan memberdayakan servo Anda masing masing.

eling #nabung energi

Artinya jika niat kita hanya untuk kepentingan diri sendiri, maka pencapaiannya sebesar diri saja dan sangat berat di jalani. Jika niatnya di perluas buat umat yang lebih luas manfaatnya maka semesta mendukung.

Servomechanism sebenarnya merupakan representasi dari “sesuatu” yang telah menjadi “milik” kita, yaitu “Belief System” dan “Self Image”.
Baik “Belief System” maupun “Self Image” keduanya merupakan istilah yang menggambarkan “sistem keyakinan” kita. Akan tetapi “Self Image” atau “Citra Diri” lebih menggambarkan “penilaian atau gambaran kita terhadap diri kita sendiri” dan bukannya “diri kita sebenarnya”,
Self Image dan Belief System, menghasilkan “Kompetensi”. Kompetensi menghasilkan “Servomechanism” dan servomechanism menghasilkan “Hasil”.
Itu yang saya ingat pelajaran dari Pak Yan.
Nanti saya bahas satu persatu hingga nanti kita mudah menerapkan, bagaimana menginstall servo tertentu menjadi servo kita.
Selamat sholat Maghrib. Saya begitu mudah mendapatkan uang setiap hari.
eling #servo
Ketika suatu peristiwa yang terjadi pada Anda, lalu Anda ceritakan pada diri sendiri atau orang lain secara berulang ulang, baik peristiwa yang baik atau buruk, berpotensi akan menjadi servo pada diri Anda.
Jangan heran saya sering menuliskan dapat order, transferan dan pamer di status fb. Karena akhirnya jadi servo bagi diri saya.
Itu contoh pembentukan servo bagus secara sederhana. Kuncinya konsisten berulang ulang sampai jadi kompetensi.
Ada satu contoh servo yang kurang bagus terjadi pada diri saya dan itu saya sering bertanya pada diri sendiri.. Kenapa ya, setiap menebak untuk memilih jalur antrian selalu salah. Menjadi lebih lama, ada saja yang membikin antrian di jalur ku jadi terlambat. Bahkan anehnya ketika pindah jalur antrian, lah malah jalur yang di tinggalkan jadi lebih lancar dan jalur baru saya tersendat juga. Aseeeem.

Kejadian itu tidak berlaku untuk antri di teller bank.
Saya tidak menceritakan pada orang lain hal ini, hanya saya bertanya tanya kenapa itu terjadi ya.. Pada diri sendiri.. Begitu setiap antri yang bikin kesal.
Ada dua hal yang terjadi. Pertama open loop olrh pertanyaan dan kedua akhirnya karena berulang jadi tanpa sadar telah menjadi kompetensi yang membentuk servo baru.
eling #contoh #servo

Jika ingin alam semesta ini “bekerja untuk kita” maka niatkanlah untuk meluaskan niat kita ke arah yang juga lebih luas.

Contoh : saya akan buat suatu produc A untuk meningkatkan hidup saya atau memenuhi kebutuhan saya.
Contoh lain : saya akan buat produk A dan saya perkenalkan ke seluruh dunia.

Itu dua contoh niat, yang satu tetap kecil. Dan yang kedua meluas.

eling #intentional-Manipulation

Demikian juga niat saya buat status, untuk di rasakan lebih banyak orang.

Jangan remeh kan kekuatan sebuah status. Jika membuat pembacanya mendapatkan pencerahan, pemahaman dan mampu merubah kehidupan jadi lebih baik, maka ia akan lebih powerful dari wirid, tahajud, atau meditasi Anda.
Wirid tiap hari, tahajud tiap malam, atau meditasi setiap pagi hanya berpengaruh bagi diri Anda saja. Namun sebuah inspirasi, akan menggetarkan dinding semesta dan Anda akan di catat sebagai orang yang berkelimpahan karena status Anda membuat banyak perubahan pada banyak orang.
Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat. Ciri ciri orang yang bertakwa adalah bermanfaat bagi sesama. Dan Tuhan akan memenuhi kebutuhan orang orang yang bertakwa, tak terbatas besaran dan arah datangnya.
Lihatlah para pembuat status yang memberdayakan, derajat mereka dinaikkan tanpa terasa, kebutuhan mereka terpenuhi dengan mudah. Bagikan inspirasi Anda, yang pernah Anda alami dan lakukan.

eling #the power of status

Membahas uang di facebook itu hal yang sensitif, tidak semua orang nyaman dan suka. Padahal semua orang pasti suka uang.
Gpp saya ambil peran berresiko ini, sering pamer dan membahas tentang hal tabu, yaitu uang. Uang sama tabunya laksana sex, tidak semua orang mangap bicara leluasa.
Karena itu saya menularkan pada anak anak saya bahwa mendapatkan uang itu mudah. Caranya saya sering mengikut sertakan mereka dalam aktivitas tentang uang. Baik saat membeli alias mengeluarkan, atau saat mengambil uang di bank atau ATM.
Anak saya apal nominal saldo di salah satu rekening Bank saya. Jadi ketika ambil uang di ATM kadang bilang.. Loh kok uangnya nambah banyak pak.. Kemarin kan sekian?
Mereka lihat saya di bilang lebih santai dari beberapa tahun sebelumnya. Hampir sebagiam waktu bersama mereka, beda sebelum 3 tahun yang lalu, sangat jarang ketemu mereka. Namun kok duitnya makin banyak. Saya hanya mengajari bawah sadar mereka bahwa mendapatkan uang itu mudah, karena manusia sebenarnya di bekali keberlimpahan dari sananya oleh Tuhan. Hanya karena salah mengelola pikiran, perilaku dan perasaan nya yang tidak tepat, dan cenderung menyimpang dari hukum alam, jadi sengsara deh.
Itu poin pertama yang saya tunjukkan pada mereka dan juga pribadi saya. Bahwa bawah sadar mereka tertanam bahwa servomechanisme nya mudah mendapatkan uang serta bagi saya memperkuat servo yang ada.
Poin kedua adalah sisi spiritual nya.

Mereka melihat betapa saya sangat enteng mengeluarkan uang. Enteng berbagi uang dengan sesama. Suka cita dalam mengeluarkan uang. Mereka jadi belajar bahwa pertama, biarpun uang di keluarkan namun dengan suka cita dan bermanfaat maka bukan malah berkurang tapi malah makin nambah banyak. Mereka melihat keseharian kerja saya seperti apa? Main hape dapat dyity, buka laptop dpat order. Terima telpon dapat komisi. Ini bukan tentang kesombongan, tapi Tuhan mempermudah segalanya karena saya menciptakan prasangka baik bahwa Tuhan perbendaharaan sejati saya.
Yang kedua adalah, uang bukan segalanya, tapi uang adalah alat untuk membuat pemilik nya jadi luas kesadaran nya. Bukan di perbudak olehnya. Uang bisa memberdayakan saya, orang lain dan menjadi tangga menuju kearah spiritualitas.
Begitulah.. Tidak sempurna saya menjelaskan semuanya. Namun satu hal. Saya masih tetap belajar pada semua hal, termasuk tentang uang. Dan saya mencoba memperkenalkan bahwa uang bukan hal yang tabu untuk di bicarakan. Uang bukan segalanya, tapi uang sangat penting perannya. Tuhan Maha Kaya dan ingin semua manusia menjadi berdaya.
Mencintai uang bukan berarti memuja uang, dan di perbudaknya. Tapi bagaimana uang bisa mendekati, jika hanya menyebutnya saja sangat ketakutan akan penghakiman orang lain? Kita tidak dapat memuaskan keinginan semua orang.

eling #salam uang

Rahasia kapan waktunya saya belajar.
Jika saya ingin memperdalam suatu keilmuan, maka saya akan mencicilnya di waktu atau keadaan saya yang sangat ngantuk. Terutama menjelang tidur malam. Membaca sedapat nya sampai terlelap. Atau lihat video nya.
Hingga.. Taaraaaa.. Suatu hari saya jadi bingung kok saya bisa nulis gini.. Kok saya bisa ngomong menjelaskan gitu.. Kok bisa faham anu dll..
Rahasianya.. Membaca saja di waktu ngantuk. Lalu tidur.
eling #tips belajar
Pada tingkatan Atom…tubuh kita saat ini bukan lagi kita 1 tahun yang lalu.
Tulang kita yg tampak sedemikian solid dan mampu menopang seluruh tubuh, diciptakan sama sekali baru setiap 3 bulan..susunan sel sel tulang mungkin tidak berubah, namun miliaran atom yg membentuk tulang bergerak keluar masuk dgn bebas melalui dinding sel secara terus menerus..mengalami perubahan dan pertukaran…akibatnya..kita memperoleh tulang baru setiap 3 bulan..demikian juga  dengan organ yang lain..

Jantung…berganti setiap 6 minggu sekali

Kulit..berganti setiap bulan..

Saluran pencernaan…memperbarui..setiap 4 hari sekali..dan sel sel di permukaan yg berkontak langsung dengan makanan yg sedang dicerna…diperbaharui setiap 5 menit…
Betapa cerdas Tubuh kita kan ? Bisa memperbaharui sendiri ketika kita tidak mengotak atik sistem kerja mereka
(Sumber dari penelitian2 ilmiah yg dikumpulkan oleh Deepak Copra)
Lalu…

Kenapa…masih ada orang yang hidup di masa kini….dengan tubuh yang sama sekali baru…namun masih memanggul beban peristiwa pada tahun tahun yang telah lampau…?

Ada…?

Tidak hanya ada…namun sangat banyak…
Ini yg saya sebut di atas dengan

“Mengutak atik sistem kerja mereka”
Dan itu adalah awal dari segala rasa sakit dan ragam nama penyakit..
Matur suwun mbak yu Pratiwi Dwi
eling #traumahealing copas #repost
Buku buku ini lama tidak saya jumpai di Cirebon, ada sekitar tiga tahun tidak ketemu mereka dijakarta. Beberapa hari yang lalu, karyawan saya membawakan nya pas mudik kemarin hehehe jadi temu kangen lagi belajar dari mereka.. Pertama kali membaca akan selalu beda pemahamannya dengan membaca berikutnya, begitu terus..

Vibrasi Magnet Hati

Seorang sahabat mengajakku untuk mengikuti acara ini. Entah ini namanya training, workshop atau sharing knowledge yang jelas saat diajak saya sudah punya feeling kalau ini bermanfaat. Bahkan jika seandainya tidak bermanfaat, toh investasinya gak terlalu mahal Rp 500 ribu dan seluruh keuntungan akan didonasikan untuk meng-umrohkan orang lain yang tidak mampu.

Maka begitu dapat informasi bahwa acaranya akan diselenggarak sabtu 10 Juni 2017 pada bulan Ramadhan, maka saya langsung mendaftarkan istri saya, anggap saja refreshing buat dia yang sibuk produksi orderan japanese cheese cake (oleh oleh kekinian surabaya).

Okey saya akan review, apa saja yang saya dapatkan dari acara ini. Acara Vibrasi Magnet Hati (VMH) ini di bawakan oleh Pak Rijal seorang SEFTER yang juga GM di sebuah perusahaan Distrubutor makanan. Dasar ilmunya adalah Vibrasi yang dikembangkan oleh Pak Arif RH, dan di VMH ini dimodifikasi oleh Pak Rijal sesuai ilmu yang dimilikinya.

Vibrasi ini intinya adalah getaran perasaan yang ada di dalam hati. getaran ini bisa berupa rasa takut, marah, sedih, senang,  gembira syukur dan lain sebagainya. Ajaibnya getaran hati ini akan mempengaruhi apa yang terjadi pada kehidupan kita.

Vibrasi ini dikembangkan oleh David R Hawkins, beliau mengungkapkan bahwa ada 2 kelompok vibrasi yaitu vibrasi Force dan Vibrasi Power. Vibrasi Force adalah vibrasi dengan level energi rendah yang tidak memberdayakan seperti putus asa, sedih, kecewa, marah. Sebaliknya Vibrasi Power adalah vibrasi dengan level energi tinggi yang membuat hidup ini lebih berdaya dan lebih beruntung misalnya rasa percaya diri, bahagia dan syukur.

Realitanya dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita berada pada vibrasi force ketimbang vibrasi power. Lalu bagaimana caranya agar kita lebih banyak berada pada vibrasi force  ?

Training diawali cerita Pak Rijal tentang tukang ojek yang menganggap bahwa ilmu sedekah dari Ustadz Yusuf Mansur (YM) itu bohong. Katanya YM kalau sedekah pasti dibalas sama Allah, oleh karena itu abang ojek itu menyedekahkan motornya agar mendapatkan balasan 2 atau 3 motor. Padahalmotor itu adalah satu-sastunya sumber penghasilan dalam mencari nafkah. Singkat kata balasan sedekah motornya tak kunjug tiba, hubungan dengan istripun sering cekcok bahkan pisah ranjang, dikejar kejar hutang karena motor yang disedekahkan belum lunas cicilannya dan bahkan saat ini abang ojek sudah tidak kerja. Setelah mendengar cerita itu, Pak Rijal mengetahui masalahnya. Abang ojek ini sedekahnya ngareeeep bangeeet denga balasan. Akibatnya balasan motor gak dapet, malah hidup semakin berantakan. Singkat cerita Pak Rijal memberi bantuan pada abang ojek tersebut kemudian menasihati bahwa cara sedekahnya salah. Bersedekahlah karena Allah tanpa memikirkan nanti akan dapat balasan apa. Singkat kata bantuan dari  pak rijal sebagian besar ia sedekahkan kembali, kali ini abang ojek ini pasrah tanpa mengharap apapun, kemudian ia berdoa sepenuh rasa, sepenuh cinta kalau dia sangat menginginkan istrinya kembali dan bisa mendapatkan nafkah rezeki kembali. Beberapa bulan kemudian berkat izin Allah, abang ojek ini mendapatkan hadiah motor dari undian kopi sachet yang ia kirimkan.

 

Mengapa selama ini hanya keajaiban kecil saja yang datang, mengapa keajaiban besar jarang yang datang ? hal ini tak lain karena keajaiban kecil yang kecil tidak disyukuri.

Satu kalimat kunci yang saya dapatkandari pelatihan VMH ini adalah “Doamu adalah rasamu”. Maka berdoalah dengan sepenuh  hati, bisa jadi doa belum terkabul karena tidak sepenuh hati, tidak sepenuh rasa dan tidak sepenuh cinta. Itulah mengapa Do’a orang yang dizhalimi lebih terkabul, karena saat berdo’a dia sepenuh hati sepenuh rasa. Jika saya mencoba untuk flashback kebelakang masih teringat betul do’a  do’a saya yang saya lantunkan sepenuh hati sepenuh rasa ternyata dikabulkan oleh Allah. Sayangnya 90% do’a yang saya lantunkan adalah do’a SOP, do’a template dan do’a auto text.

Lalu doanya seperti apa

  1. The Intensity of Prayer (benar benar minta sepenuh rasa) lalu naikkan terus rasanya dengan jujur dan curhat pada Allah mengenai apa yang sebenarnya diinginkan dalam hidup ini. Pertanyaannya apakah anda lebih sering berdoa atau apakah lebih sering curhat
  2. Seberapa tulus anda berdoa untuk itu (terkabul dan tidak terkabul sudah tidak penting lagi)

jika masih ada masalah dalam hidup ini coba check

  1. Hubungan kita dengan Allah
  2. Hubungan kita dengan pasangan
  3. Hubungan kita dengan Orangtua

Barangkali tanpa sadar kita pernah menyakiti orang orang yang paling kita sayangi dan belum dimaafkan.

Okey sampai sini dulu, kalau ada sumur di ladang akan saya sambung lagi.

 

Compassionate Parenting

compassionAtas ajakan teman saya Mbak Dian Cahyorini saya menghadiri seminar compassionate parenting bersama anak kedua saya Alin (3y) karena Ibunya sedang menghadiri pernikahan rekan kantornya bersama anak pertama saya. Saya sangat terkesan dengan acara seminar compasionate parenting yang menghadirkan Mas Gobind Vashdev sebagai pembicara sekaligus pengisi materi. Banyak sekali “harta karun” yang saya peroleh dari acara tersebut, meskipun saya sempat keluar selama 2 jam di pertengahan acara karena harus mengantar Alin pulang kerumah dari veneue seminar karena sudah waktunya bobo siang.

Jika berbicara mengenai compassionate parenting, maka fokus sesungguhnya bukan pada anak, namun kepada diri sendiri sebagai orangtua. Menurut sebuah survey 90% masalah parenting itu adalah masalah di dalam diri orangtua sendiri. Masalah ini disebabkan luka batin orangtuanya yang belum selesai. Alih alih mencari jalan keluar, orangtua seharusnya mencari jalan kedalam diri sendiri.

Misalkan rumah kita kebakaran, apa prioritas yang akan kita lakukan ? mengejar pelaku pembakaran ? atau memadamkan api terlebih dahulu ?

Lalu bagaimana jika hati kita yang terbakar oleh anak kita ? apakah kita padamkan dulu kebakaran di hati ? atau secara spontan (autopiliot) langsung mengejar anak kita untuk memperingatkan agar tidak membuat kebakaran lagi ? kebanyakan akan memilih memadamkan apinya terlebih dahulu

Maka compassionate parenting kita diajak untuk menyadari luka luka batin kita, merawatnya lalu barulah kita bisa mengerti, memahami dan menumbuhkan rasa welas asih pada apapun keadaan anak kita.

Luka Batin

Misalkan kita diberi waktu 10 detik untuk menggambar pemandangan, kira kira hasilnya seperti apa? saya berani bertaruh bahwa kebanyakan akan menggambar dua buah gunung kembar berwarna biru yang dipisah oleh matahari terbit lalu dibawah gunung ada sebuah jalan lurus nan lebar dan disamping kiri kanan jalan terhampar hijaunya sawah. Mengapa demikian ? karena ketika dibatasi waktu, maka solusi yang spontan muncul adalah solusi yang paling mudah untuk diakses (gambar pemandangan berupa dua gunung tersebut). Dikenal juga dengan sebutan program autopilot kita. Begitupula halnya ketika kita menghadapi anak. Saat anak rewel atau tantrum maka respon yang muncul dari diri kita adalah solusi yang termudah (solusi yang terbiasa dilakukan). Misalnya kalau saya ehm…keluar nada tinggi untuk segera membuat anak diam.

Respon spontan kita sebagai orang tua adalah hasil dari program program masa lalu. Maka ketika saya mulai menyadari nada tinggi yang keluar, saya mulai melakukan pengamatan terhadap diri sendiri dan kemudian menelusuri darimana saya punya program seperti ini. Aha ketemu, ternyata waktu kecil (5thn) saya pernah dibentak-bentak dan dilempar benda tumpul oleh paman saya karena kenakalan saya. Betapa waktu itu saya sangat membenci paman saya, yang saya manifestasikan dengan membuang ketikan skripsinya sekaligus berjanji akan memukulnya nanti jika saya sudah dewasa. Jaman berganti musim bertukar saya sudah melupakan kejadian kejadian tersebut. Sayangnya saya tidak menyadari luka batin itu terlanjur ada dan tersimpan di kedalaman memori bawah sadar yang kemudian SEOLAH hilang dan terlupakan.

Sejatinya seorang anak tau dimana titik titik luka batin orangtuanya karena kesamaan genetik. Justru tugas seorang anak menurut Gobind adalah memancing emosi kedua orangtuanya. Dengan cara seperti itu seorang anak sebenarnya sedang memberi informasi kepada orangtuanya dimana letak luka-luka batin yang tidak disadari namun sering mewujud menjadi emosi spontan.

Lalu bagimana merawat luka-luka batin itu ? Menurut Gobind yang perlu dilakukan orangtua adalah duduk lalu rasakan emosi yang muncul saat itu. Misalkan yang muncul adalah emosi kesal, maka sambil duduk tariklah nafas perlahan-lahan sambil berkata “saya sedang merasa kesal”. Kemudian lepaskan nafas sambil berkata “saya sedang merawat kekesalan ini, keduanya adalah bagian dari diriku”.

Setelah diri kita beres, maka selanjutnya apakah yang dilakukan saat anak tantrum? Gobind menjelaskan bahwa anak tantrum, karena ini adalah satu-satunya cara yang Ia tahu untuk berkomunikasi.

Gobind melanjutkan “saat anak saya Rigpa tantrum, saya hanya akan bermeditasi disebelahnya dengan mata terbuka. Saya mebiarkan Rigpa mengeluarkan emosinya. Bila kita mengalihkan emosinya dengan memberikan manisan, video games atau lainnya, kita mengajarkan anak untuk tidak menyelesaikan masalahnya, tidak mengeluarkan kemarahannya.”, Ujar Gobind.

“Rigpa bisa lebih dari satu jam menangis, maka saya hanya akan diam disebelahnya. Bila di tempat ramai, saya minta untuk pulang atau ketempat yang lebih sepi. Memberitahu anak saat Ia sedang marah atau sedih tidak akan berhasil. Saat anak sudah selesai meluapkan emosi, berilah rangkulan”.

Fasilitator Pembelajaran bukan Fasilitator Pelindung

Kurangi peran orangtua sebagai fasilitator pelindung, namun tingkatkan peran sebagai fasilitator pembelajaran. Daripada melarang-larang anak, ajari saja bagimana agar meminimalisir dampak kecelakaan akibat bermain. Misalnya “Nak kamu boleh main manjat-manjat pohon, mau kepalamu benjol, kaki kesandung, jatuh tidak masalah yang penting kalau jatuh jangan sampai bagian belakang lehermu yang kena”

Di tengah-tengah kelas, kami menonton Ibu bebek dengan lebih dari 5 anaknya yang sedang berjalan menaiki trotoar jalan. Ibu bebek naik duluan, lalu anak-anak bebek satu persatu naik. 2 anak bebek tertinggal. Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya memperhatikan dari dekat di atas trotoar. Satu persatu anak bebek ini naik , walau 1 anak terakhir butuh waktu, Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya dia memperhatikan dari dekat.

“Anak bukan butuh pelindung, tapi tempat untuk belajar. Bila anak jatuh, ingatkan kepada anak, bila ada kebahagiaan , maka ada kesedihan. Bila ada enak, ada tidak enak. Kamu sudah merasakan kebahagiaan, mari kita juga peluk kesedihan”, Gobind menjelaskan. Anak punya kemampuan luar biasa dalam beradaptasi, let them adapt whith not only the goods of the world but also the bad. Biarkan mereka bersedih bila tidak mendapatkan mainan yang mereka inginkan. Seringkali ketika Hafiy meminta makanan diluar yang sudah dimasak oleh mamanya, (misal minta rawon jam 8 malam, padahal sudah masak soto) saya mencegah mamanya untuk membelikan. Saat dia terlambat ke sekolah karena susah mandi, saya hanya membiarkan dia merasa malu karena terlambat. Biarkan ia mengenali rasa tidak nyaman berusaha mengatasinya.

Kehidupan itu Dinamis

Kehidupan ini tidaklah kaku namun dinamis, orangtualah yang seringkali membawa agenda agenda tersendiri. Misalnya kamu harus juara 1, harus lulus dengan nilai terbaik, mahir main piano. Lalu apakah agenda tersendiri orangtua ini tidak diperlukan ? Boleh boleh saja orangtua mempunyai agenda tersendiri terutama untuk hal hal yang prinsip asalkan bebas dari kemelekatan. Misalnya orang tua ingin anaknya menjadi anak sholeh yang kuat imannya, silahkan lakukan usaha terbaik namun tak usah terlalu dipikirkan apakah nanti anaknya benar-benar menjadi anak sholeh. lakukan saja yang terbaik, nikmati prosesnya tanpa ngarep. Ini sangat sesuai dengan nasihat Kyai Haji Maimun Zubair “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah”. Begitu pula menjadi orangtua.

Ajarkan Cinta, Bukan Ketakutan

“Hafiy , ayo mandi ? Nanti kalau ga mandi  jadi temennya si S (setan) loh”,

“Awas, nanti jatuh loh!”

“Alin, kalau gak mau makan, nanti sakit terus diinfus lho nak.”

“Wah, kalau mukul mukul temenmu nanti enggak punya teman.”

Siapa yang pernah seperti ini? (saya sendiri pernah berulangkali melakuan hal itu) Tanpa disadari proses mendisiplinkan anak menjadi proses menakuti anak.

Gobind menambahkan “Kita lupa mengajarkan cinta kepada anak, Saya saat ini tidak menggunakan sabun berbahan kimia, bukan karena Saya takut pada bahan kimia, Saya ini tinggal dekat sawah, di belakang rumah Saya, bagaimana bisa Saya meracuni sawah ini, yang memberikan Saya makan? Saya melakukan ini karena Saya mencintai mother earth, ibu Saya.”, ujar Gobind.

Gobin juga mengingatkan ketika kita mulai membandingkan anak dengan orang lain, anak akan merasa dirinya tidak lebih baik dari orang lain. Memang sangat mudah membandingkan anak, anak akan merasa adanya kompetisi dan mulai menjadi lebih baik versi Ibunya. Tanamkan cinta salah satunya dengan berujar ,” I love you the way you are”.

Beri Pujian Pada Kebiasaan Anak yang Baik

“Kita tidak pernah lupa memberikan pujian kepada anak bila anak berhasil menggambar, berjalan, atau makan banyak. Tapi kita terkadang lupa memberikan pujian pada kebiasaan baik anak saat berbagi dengan orang lain, berjalan sendiri tanpa digendong, ramah terhadap orang lain, dan lainnya”, tegas Gobind.

Jangan Menggadaikan Hubungan Anak Kita

Orangtua seringkali menggadaikan hubungan dengan anaknya untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Misalnya saat bertemu teman lama di jalan, kita meminta anak untuk salim dan cium tangan teman kita namun ternyata anak kita tidak mau, lalu kita sedikit memaksa “ayo cepet salim sana sama om” setelah salim lalu kita asyik ngobrol dengan teman lama dan mengabaikan anak kita. Biarkanlah anak memilih waktunya sendiri untuk mengenal orang. Misal juga ketika ada tamu berkunjung ke rumah bertepatan anak kita sedang asyik main di ruang tamu, maka jangan karena mengutamakan tamu ataupun malu pada tamu kita jadi bersikap kurang menyenangkan kepada anak kita. Termasuk juga ga perlu risau ataupun malu ketika mengetahui bahwa anak kita ada kekurangan jika dibandingkan teman temannya, misalnya kurang sopan santunnya. Dalam hal berbagi, apabila anak belum mau berbagi, biarkanlah, apa Anda mau meminjamkan mobil Anda kepada orang lain yang Anda tidak kenal? Jangan rusak hubungan Anda dengan Anak . Ini juga berlaku bila anak tidak mau salam dengan keluarga atau kerabat.

Walk The Talk

Pada bagian ini Gobind bercerita tentang kisah Mahatma Gandhi. “Ada seorang ibu rumah tangga memiliki seorang anak yang suka mengkonsumsi garam. Padahal anak tersebut memiliki penyakit yang akan kambuh apabila anak tersebut mengkonsumsi garam. Ibu tersebut telah menasehati anak tersebut untuk tidak mengkonsumsi garam tersebut. Tetapi anak tersebut masih saja mengkonsumsi garam tersebut”

Suatu ketika ibu tersebut datang kepada gandhi untuk meminta pertolongan agar menasehati anaknya yang sering mengkonsumsi garam. Gandhi pun tidak menyanggupi langsung untuk menasehati anak tersebut dan disuruh ibu tersebut untuk kembali seminggu kemudian ke kediaman gandhi. Ibu pun lantas kecewa karena harus seminggu kemudiaan harus kembali

Dan akhirnya seminggu kemudian si ibu dan anak tersebut kembali menuju tempat Gandhi. Setelah itu Gandhi mendatangi anak tersebut dan memberikan nasehat “hey anakku janganlah kamu mengkonsumsi garam lagi, karena jika kamu mengkonsumsi garam lagi kamu akan mengecewakan orang tuamu, mengecewakan dokter yang merawatmu, bahkan mengecewakan dirimu sendiri di kelak nanti”. Ibu pun semakin kecewa karena nasehat gandhi barusan sama seperti nasehat yang ibu katakan setiap harinya kepada anaknya. Gandhi pun tersenyum dan mempersilahkan ibu dan anak tsb kembali.

Besok harinya anak tersebut masih mengkonsumsi garam, tetapi di kemudian harinya konsumsi garam tersebut berkurang dan berkurang pada hari ketujuh. Ibu pun gembira melihat aktivitas anaknya yang mengkonsumsi garam semakin hari semakin berkurang. Kemudian ibu pun penasaran dan mendatangi kediaman Gandhi dan bertanya bagaimana bisa anak saya mulai berkurang konsumsi garam nya, dengan nasehat yang sama. gandhi pun menceritakan kenapa ibu tersebut diharuskan seminggu kemudian mendatangi Gandhi,Gandhi menjelaskan bahwa dia membutuhkan waktu seminggu untuk mencoba tidak mengkonsumsi garam sebelum menasehati anaknya ibu tersebut, karena andaikan waktu pertama ibu meminta Gandhi menasehati anaknya, Gandhi sendiri tidak menyanggupi karena Gandhi waktu itu masih mengkonsumsi garam juga. Jadi Gandhi mulai siap menasehati anak tersebut setelah dia tidak mengkonsumsi garam lagi.”

Note : tulisan belum selesai masih ada materi tentang kata konkrit dan abstarc, menemukan solusi dari anak sendiri, dan mendengarkan serta membantu mengekspresikan emosinya. dan akan diupdate di lain hari.

 

Arah dan Sumber Motivasi

Sudah jamak bahwa manusia akan berusaha untuk memburu kenikmatan dan atau menghindari kesulitan, termasuk anda dan juga saya. Benar atau benar ? Misalnya seorang karyawan bisa saja bekerja habis habisan agar cepat promosi, dalam hal ini karyawan tersebut mempunyai arah motivasi mendekat. Arah motivasi mendekat maksudnya motif seseorang melakukan tindakan karena ingin mengejar sesuatu (memburu kenikmatan). Seorang karyawan yang lain bisa jadi berkinerja tinggi justru karena takut dimarahi atasannya, dalam hal ini karyawan tersebut mempunyai arah motivasi menjauh. arah motivasi menjauh maksudnya motif seseorang melakukan suatu tindakan karena ingin menghindari sesuatu yang tidak diinginkan menimpa dirinya (menghindari kesulitan).

Seseorang bisa mempunyai arah motivasi yang berbeda-beda tergantung konteksnya. Misalnya saya sendiri, dalam konteks memilih rumah tinggal saya menginginkan rumah lingkungannya dekat yang dekat dengan kantor, sekolahan anak, dan juga masjid jami’. Kemudian dalam hal memilih mobil,  saya memilih mobil yang perawatannya mudah dan memiliki sistem keamanan yang tinggi agar saya tidak pusing dan tidak merasa khawatir di kemudian hari. Jadi hampir tidak ada orang yang hanya memiliki satu jenis arah motivasi dalam semua konteks kehidupannya.

Arah motivasi ini juga dapat berubah tergantung waktu. Misalnya pada saat memilih rumah tadi, saya memilih rumah yang lingkungannya dekat yang dekat dengan kantor, sekolahan anak, dan juga masjid jami’. Namun setelah saya tinggali selama 4  tahun ternyata rumah tersebut selalu menjadi kawasan langganan banjir. sejak saat itu saya lebih memilih rumah yang jauh dari kawasan banjir.

Lalu mana yang lebih baik diantara kedua arah motivasi tersebut ? jawabanya tidak ada yang lebih baik. Semua dapat dimanfaatkan untuk memberdayakan diri kita. Misalnya setelah kita menyadari bahwa arah motivasi kita dalam berkarya adalah mendekat, maka kita dapat memotivasi diri dengan  cara mengiming-imingi diri sendiri dengan hadiah atau imbalan yang sangat bernilai. Sebaliknya jika kita menyadari bahwa arah motivasi kita menjauh dalam konteks menyelesaikan pekerjaan, maka kita bisa memotivasi diri sendiri dengan menghadirkan gambaran gambaran mental yang tidak kita inginkan, sehinga kita terpacu untuk menghindarinya. Hal yang sama juga dapat kita aplikasikan ketika ingin memotivasi orang lain. Terlebih dahulu tentunya adalah mengetahui apakan orang tersebut memiliki arah motivasi yang mendekat atau arah motivasi yang menjauh ? setelah itu barulah kita dapat mempengaruhi sesuai arah motivasinya.