Coaching Secangkir Kopi-12. Menjadi Trainer, Motivator, Coach, dan EO yang Laku 

Pada #CoachingSecangkirKopi12 ini menghadirkan bintang tamu seorang trainer dari Semarang yaitu Pak Rudy Sugiono. Tema yang disharingkan adalah mengenai Trainerpreneur, bagaimana kita bisa menjadi Trainer-Motivator-atau Coach dan Laku.

Topik ini tidakberbicara mengenai public speaking, tetapi berbicara tentang bagaimana menjual kelas dan bisa juga menjadi EO. jadi salah satu keberhasilan kita menjadi trainer adalah bagaimana kita bisa mengajar dengan baik dan bisa menjual kelas orang lain. Untuk itu ada 5S bagaimana menjadi seorang Trainer sekaligus Entrepreneur. Berikut ini adalag slidenya

5s rudy sugiono

5 Kunci Sukses Menjadi Trainer antara lain :

  1. Self Mastery
  2. Subject Mastery
  3. Sequenceing
  4. Showmanship
  5. Salesmanship

Untuk poin 2,3 dan 4 hanya akan dibahas sekilas karena isinya tentang public speaking. Sebelum membahas 5S diatas maka kita perlu menyadari bahwa ada S yang merupakan modal utama dan beroperasi pada level meta yaitu SELF IMAGE. Self Image adalah citra diri dan Pak Rudy percaya bahwa hidup manusia digerakkan oleh Automatic Guidance System yang tertulis didalam self Image tersebut (Citra Diri). jadi apapun pekerjaan kita maka pertanyaanya adalah apakah Self Image kita sudah sejalan ? Kalau jadi trainer/Coach/Motivator/EO apakah self image kita sudah mendukung ?

Kalau belum mendukung maka tugas pertama kita adalah membenahi self image itu dulu, membenahi citra diri kita dulu.

Pengalaman saya…..ada banyak keajaiban ketika self image kita mendukung

Dulu sebelum jadi trainer, saya jadi EO nya Pak Krishnamurti dan Pak Ongky Hojanto, Pak Istoto juga

Maka self.image yang dibutuhkan adalah Saya merupakan EO yang sukses. Begitu saya mulai melangkah jadi trainer maka saya install self image baru yang berkaitan dengan trainer
Dulu ketika awal2 belajar coaching, saya susah mendapatkan klien coaching. Ketika saya rubah self image saya maka saya skrg banyak diminta untuk kelas2 coaching.

Miracle terjadi ketika self image mendukung, ketika citra diri kita sejalan dengan pekerjaan kita.
Jadi mau jadi trainer / motivator / coach / EO, pertanyaan awalnya : apakah citra diri kita sudah mendukung ?

Baru setelah itu kita bicara teknisnya

Apakah ada pertanyaan ttg self image ?

3 pertanyaan aja dulu ya

PERTANYAAN:
1.      Bagaimana cara memastikan Self Image sudah sesuai dengan profesi atau blm? (restu kurniawan)
2.      Bicara ttg self image tolok ukurnya apa…mengingat nabi aja ditolak di tempat dia lahir or dibesarkan…apakah ketika itu terjd pd trainer lalu dianggap self image blm sejalan? (coach liliana)
3. Bagaimana membangun selft image sebagai EO (Joti)

Memang seru membahas self image ini, seperti halnya membahas LOA

1. Bagaimana cara memastikan Self Image sudah sesuai dengan profesi atau blm?
—————–
Kalau saya menjawabnya apabila kita banyak menemukan kemudahan2 dalam pekerjaan kita. Ada banyak miracle2 dalam bisnis kita

Saya banyak menemukan orang sudah berusaha mati matian, sudah menggunakan ATM, menggunakan ATP (amati tiru plek) dan ternyata hasilnya gak.maksimal.

Akhirnya orang tsb duduk diam, masuk kekeheningan, menguliti dirinya, dan menemukan setitik jawaban bahwa dia terpaksa melakukan hal tsb

Bicara ttg self image tolok ukurnya apa…mengingat nabi aja ditolak di tempat dia lahir or dibesarkan…apakah ketika itu terjd pd trainer lalu dianggap self image blm sejalan?
—————-
Dulu saya percaya bahwa nabi ditolak ditempat dia dilahirkan, namun hari ini saya membalikkannya. Dalam konteks ttt saya percaya hal tsb. Namun dalam konteks bisnis saya tidak mempercayainya.

Banyak orang mengatakan buka kelas NLP Internasional di Semarang susah, pasarnya tdk laku. Sejak tahun 2012 kelas NLP NFNLP saya selalu saya adakan di  semarang. Dan ada peminatnya.

Tolok ukurnya apa ? Jujur menurut saya ini susah karena pada level yang abstrak. Tiap bisa berbeda beda.
Dan kalau boleh saya sempitkan maka tolok ukurnya adalah : adakah keajaiban / kemudahan dalam pekerjaan kita ?

Bagaimana membangun self image sebagai EO
——————-
Kita bisa memasukkan sugesti yang sifatnya umum, misalnya :
Saya ada orang yang menarik bagi setiap orang yang saya temui.

Segala sesuatu yang saya butuhkan akan terpenuhi dengan cara2 yang ajaib

Saya adalah orang yang menyenangkan dan selalu bertemu dengan orang yang membutuhkan seminar

Dll

4.      apakah Coach Rudi bisa share pattern untuk self coach ttg self image… (pak istoto)
5.      Apa saran coach Rudy untuk trainer pemula yang sedang baru mau membangun karir sebagai trainer/motivator/etc. Self image apa yg cocok ? Atau ada metode apa untuk diawal menemukan self image yg sesuai kapabilitas si calon trainer (effendi Wang)

apakah Coach Rudi bisa share pattern untuk self coach ttg self image….
………………..
Kalau saya paling suka pakai metode yang diajarkan Pak Yan yaitu CRAFT. Singkatan dari Cancel, Replace, Affirmation, Focus, Training.

Untuk rekan2 yang ingin file ini bisa kirim email kosong ke saya di admin@rudysugiono.com

Nanti saya emailkan artikel lengkapnya

Apa saran coach Rudy untuk trainer pemula yang sedang baru mau membangun karir sebagai trainer/motivator/etc. Self image apa yg cocok ? Atau ada metode apa untuk diawal menemukan self image yg sesuai kapabilitas si calon trainer (effendi Wang)
—————
Ini ada 2 langkah :
1. Dari sisi self image
2. Dari sisi teknis

Kalau dari sisi self image bisa menciptakan self image yang mendukung misalnya saya diawal :

Saya adalah trainer yang senantiasa dimudahkan dalam mencari peserta.

Kita anggap semua self image nya sudah mendukung ya

Maka selanjutnya dalam ranah teknis kita perlu menguasai 5S.
SELF MASTERY
kita punya pengalaman tentang topik yang kita bicarakan.
Kalau kita tidak punya pengalaman maka kita bisa menceritakan ttg pengalaman orang lain. Role model kita

Misalnya dulu diawal saya sering cerita ttg Pak Krishnamurti dan Pak Ongky Hojanto

Perli di ingat….dalam dunia training ada 2 ya
Transfer Skill
Transfer Knowledge

Ada beberapa topik yang wajib hukumnya untuk punya pengalaman

SUBJECT MASTERY
Berarti kita menguasai topik yang kita ajarkan atau kita bicarakan

SEQUENCING
urutannya kita dalam mengajar perlu menarik

SHOWMANSHIP
Body language kita menarik

SALESMANSHIP
Kita bisa menjual.kelas kita

Untuk 5S apakah terutama S pertama s.d S4 apakah ada pertanyaan ?

PERTANYAAN:
6.      Cara mengetahui self image bagaimana? Dimudahkan cari peserta majsudnya? (mbak enny visioner)
7.      Jelsdksn 5s masing2 coach rudy (Mbak Enny)
8.      Showmanship apakah orangnya harus lucu,ganteng atau seperti apa coach? (Pak Budi)

Silahkan coach Rudy

Pertanyaan No. 6
Menurut saya yg lebih mudah adalah install aja Self Image yang mendukung dengan Profesi kita sekarang.
Please email ke saya email kosong seperti diatas.

Dimudahkan mencari peserta maksudnya dalam mencari peserta training atau klien saya benar2 dimudahkan.

Pertanyaan 7.
SELF MASTERY

Misalnya saya ngajar NLP, maka saya harus punya pengalaman bagaimana menggunakan NLP dalam kehidupan saya. Karena mengajar dengan teori dan mengajar dengan pengalaman rasanya beda banget

SUBJECT MASTERY
Kita menguasai topik yang kita ajarkan, baik secara teoritis ataupun secara aplikatif. Sehingga pertanyaan audience bisa kita jawab.

SEQUENCING
Urutan kita dalam mengajar dibuat semenarik mungkin alurnya. Lha ini praktek public speaking. Maaf tdk bisa lewat tulisan

SHOWMANSHIP

Ini tidak berhubungan dengan kita ganteng atau tidak, lucu atau tidak.
Namun berkaitan dengan body language yang meliputi Mata, Voice, Artikulasi, Gerakan tangan, gerakan kaki, postur tubuh

PERHATIAN :
pertanyaan ttg instalasi self image akan terjawab dengan artikel yang akan saya kirimkan. Minta tolong teman2 kirim email kosong ke saya di admin@rudysugiono.com

Bu Enny :
Contohnya saya tiba2 ditelp salah satu resort untuk diminta memberikan coaching khusus marketingnya. Lha saya tahu betul pemiliknya itu gak familiar dengan coaching. Tiba2 kok nelp. Lha kok nelponnya ke saya.

Keajaiban terjadi…dan masih  banyak lagi

Kita bahas yang menarik yaitu SALESMANSHIPIni yang menghasilkan uang hehehehehe

Bagaimana jadi Pembicara yang laris dan Menjadi EO

Untuk jadi EO diawal2 kalau rekan2 belum punya massa maka please pilih pembicara yang mau membantu rekan2 bertumbuh, membantu rekan2 dapat duit.

Jangan ajak kerja sama pembicara yang mematok fee secara fixed. Melainkan cari pembicara yang mau profit sharing. Yang mau tetap jalan walaupun BEP

Karena itu saya bersyukur dibantu guru2 hebat saya seperti yang saya sebutkan diatas

Lalu yang kedua kejar BEP di awal2 promosi.

Untuk rekan2 yang jadi trainer maka Please Rekan2 jangan bermimpi akan langsung di panggil perusahaan besar.

Teman2 harus mau dan rela menjadi EO diri sendiri, rela bekerja sama dengan pembicara senior

Jangan pernah mimpi bahwa ketika sudah mendapat sertifikat langsung akan dapat panggilan sana sini…..please jangan lakukan itu karena hasilnya prettttt.

Untuk menjadi trainer kita perlu mengunci resiko, caranya ada di slide ini

Malam 15 menit

9.      Apakah Coach Rudy Sugiono membuka peluang kerja sama? (Adrian Luis)
10.     Selama ini pengalaman coach Rudy utk promosi training2 apa sj yg dilakukan? (Eri)
11.     Gag ada pengalaman jadi EO, salesmanship apakah berlaku untuk karyawan swasta seperti saya? (Erna)
12.     Di slide tadi, point ke-2, kelas yg banyak, maksudnya bgmn coach Rudy? (Eri)
13.     Apakah utk jd trainer perlu role model yg benar-benar menjual? Kalo boleh tahu siapa role model coach Rudi? (Slamet)
14.     Bgmn cara masuk ke pasar yg sudah penuh… To be different… Specialist… Etc … Tips Dan triksnya. Lakukan dulu… Baru buka kelas… How long…? (Fathnur)

Apakah Coach Rudy Sugiono membuka peluang kerja sama? 😊
—+———
Sangat terbuka buat kerja sama.

Selama ini pengalaman coach Rudy utk promosi training2 apa sj yg dilakukan?
———–
Kalau saya sebagai EO maka saya akan promosikan status2 Pembicaranya, saya promosikan background pembicaranya, artikel2 pembicara.

Kalau saya jual kelas sendiri maka saya akan lakukan :
1. Buat Poster dan brosur
2. Pasang poster di toko buku, sebar brosur
3. Promo2 di FB lewat status, edukasi manfaat, artikel2

Kalau skrg saya lebih banyak  pakai cara ke tiga
Gag ada pengalaman jadi EO, salesmanship apakah berlaku untuk karyawan swasta seperti saya?
———
Sangat bisa sekali, justru EO adalah usaha yang menurut saya paling mudah. Kalau pembicaranya sudah terkenal maka kita enak promosinya.
Dan enaknya jadi EO adalah tanpa modal

Jawaban no. 12
Untuk trainer awal saran saya buat kelas sebanyak banyaknya. BEP tetap jalankan. Jadi lambat laun akan terkenal kita.

Langkah ini saya model dari Pak Krishnamurti. Beliau dulu diawal awal buka kelas sebanyak banyaknya. Pesan beliau ke saya : buka kelas yang banyak rud, targetnya BEP jangan Profit. QUANTITY CREATE QUALITY. Ntar profit akan mengikuti Rud

Jawaban No. 13.
Kalau untuk EO iya….perlu pembicara yang layak jual dan Murah hati. Maksudnya bayarannya bisa profit sharing.

Untuk jadi trainer maka role model ada 2, dari sisi pribadinya atau strateginya atau malah gabungannya.

Role Model saya yang paling mewarnai (utama) adalah : Pak Tung Desem, Pak Krishnamurti, Pak Ongky Hojanto.

Selain itu ada juga yang lain seperti Pak Istoto, Pak Yan Nurindra, Pak Asep Haerul Gani, Coach Tjia, dll

Pertanyaan 14.

Buat yang berbeda, buat yang lebih menarik, ciptakan sesuatu yang unik.
Saya buka kelas NLP maka saya tarik orang diluar semarang untuk.hadir ke semarang. Investasi pelatihan sudah termasuk biaya pesawat dan biaya penginapan.

Kalau pasar benar2 penuh atau jenuh maka ciptakan blue ocean.

Cara menjadi pembicara TOP ada 3 yang saya model :
1. NULIS BUKU
Yang ini saya belum mahir….please memodel Bro Efendi Wang

Cara kedua adalah buka kelas sebanyak banyaknya.

Sudah saya jelaskan

Cara ketiga adalah terkait nama besar.

Cara ini saya model dari Pak TDW.
Saya diawal karir sebagai pembicara malah banyak jadi EO dulu. Saya pegang kelasnya Pak Krishnamurti di Jawa Tengah, Saya Pegang kelasnya Pak Ongky di Jawa Tengah, Saya pegang kelasnya Pak Asep.Haerul Gani di jawa tengah.

Saya kaitkan diri saya ke pembicara2 yang jauh lebih terkenal dibanding saya

Saya awaln masuk ke Corporate Training juga karena jadi associate trainer beliau2

Dan akhirnya apa yang harus kita lakukan adalah membangung brand kita.

Ada banyak pakar brand di group ini.

Kalau dari saya maka ada 3 :
1. Bangun Brand Awareness
2. Bangun terus sampai mendapatkan brand loyalty
3. Pertahankan sampai muncul Brand Fanaticism

Ada banyak pembicara yang sudah sampai ke Brand Fanaricism, kalau sudah sampai sini maka akan enak sekali

Baik kesimpulan dari diskusi malam ini saya sampaikan dulu.

KESIMPULAN:
1.      Menjadi seorang trainer perlu memperhatikan:  SELF MASTERY, SUBJECT MASTERY, SEQUENCING, SHOWMANSHIP dan SALESMANSHIP.
2.      Siapapun bisa jadi EO, bahkan EO bisa menjadi bisnis sampingan yang tanpa modal.
3.      Manfaatkan strategi  pemasaran dengan menampilkan manfaat-manfaat training. Buat calon customer memahami manfaat yang akan diperoleh.
4.      Bekerjasama dengan trainer-trainer yang tidak terlalu pasang tariff, yang penting BEP dulu.
5.      Trainer dan EO bisa berkembang secara bersama.

Yang saya sharingkan diatas adalah pengalaman saya. Mohon maaf kalau ada kalimat yang menyinggung teman2.

QUANTITY CREATE QUALITY
QUALITY CREATE VOLUME
VOLUME CREATE MONEY

Kalimat diatas saya dapatkan dari salah satu guru saya.

 

Iklan

Cara Sederhana Untuk Bahagia

BETAPA dekat kebahagiaan bagi mereka yang menetapi do’a ini:

“اَللَّهُمَّ قَنِّعْــنِيْ بِـمَا رَزَقْــــتَــنِيْ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَاخْلُفْ عَلَى كُـلِّ غَائِـبَةٍ لِيْ بِـخَيْرٍ”

“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah engkau rezeqikan kepadaku, dan berikanlah barakah kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.” (HR Al Hakim)

Mengingat sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam,

“قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ وَرُزِقُ كَفَا فًا، وَ قَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rezeqi yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawi).

Betapa sederhanya kebahagiaan. Ingatlah sejenak bagaimana Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bergurat pipinya karena alas tidur kasar. Hari ini betapa banyak yang memiliki tempat tidur mewah, tapi hampir-hampir tak pernah ia rasai tidur yang nikmat. Betapa berbeda.

Tengoklah Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Betapa sederhana makannya. Tak menuntut syarat yang berat, justru jadikan makan lebih nikmat. Sungguh, ketika engkau tak meninggikan syarat terhadap apa yang engkau reguk dari dunia ini, semakin mudah engkau rasai kebahagiaan. Dan apakah yang lebih berharga daripada ganti yang lebih baik; ganti yang lebih membawa kebaikan atas apa-apa yang terlepas dari kita?

Maka do’a riwayat Al-Hakim (beliau menshahihkannya) yang dicontohkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan kunci agar kita mampu bersikap secara tepat terhadap dunia: qana’ah terhadap rezeqi dari-Nya, barakah atas rezeqi yang kita terima dan ganti yang lebih baik (bukan lebih banyak) atas apa-apa yang terlepas dari kita. Sungguh, rezeki yang tak barakah, amat jauh dari kebaikan.

Jika tiga hal ini ada pada kita, maka semoga lisan kita mampu memanjatkan do’a yang menyempurnakan pembersihan jiwa kita. Semoga.

Do’a itu  (semoga kita dapat menghayati sepenuh kesungguhan.) adalah:

اَللَّهُمَّ إنِّي أعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَ الْحَزَنِ،وَ الْعَجْزِ وَ الْكَسَلِ،وَالْبُخْلِ وَ الْجُبْنِ،وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَ غَلبَةِالرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari (bahaya) rasa gundah gulana dan kesedihan, (rasa) lemah dan malas, (rasa) bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penguasaan orang lain.”

Inilah do’a yang memohon pertolongan Allah Ta’ala agar kita mampu mengalahkan hasrat untuk mengistirahatkan badan di saat ada kebaikan yang seharusnya kita kerjakan; memohon kekuatan untuk TIDAK berpelit dalam mengulurkan rezeki kepada orang lain; serta kelapangan hati untuk memberi kan jasa kita yang membawa kebaikan.

Maka, jika engkau berkeinginan untuk berkelimpahan rezeki agar waktu istirahatmu lebih banyak dan engkau dapat bersantai-santai kapan pun engkau mau, sesungguhnya engkau telah mengingkari do’a yang dituntunkan oleh Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ini. Dan jika engkau pergi ke sana kemari untuk menyeru manusia agar bersegera perkaya diri sehingga dapat bermalas-malasan, sadarilah bahwa mereka sedang mengajak manusia untuk menjauh dari sunnah dan menghindar dari kebaikan. Padahal bersama sunnah ada barakah.

Semoga kita terhindar dari ghurur (terkelabui) disebabkan angan-angan kita sendiri. Marilah kita memanjatkan do’a kepada Allah Ta’ala:

“اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ”

“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”

Semoga kita tak terpedaya oleh persepsi kita sendiri. Sungguh, kebenaran itu bukan bergantung pada persepsi kita. Baik dan buruk juga bukan bergantung kepada persepsi kita. Bukan bergantung pada cara pandang kita. Hari ini, ketika banyak manusia menyerukan bahwa yang paling penting adalah persepsi kita tentang sesuatu, marilah kita ingat kembali do’a ini. Di masa yang semakin jauh dari kehidupan Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ini, semoga Allah Ta’ala limpahi kita hidayah agar tidak mudah takjub pada kebanyakan perkataan manusia yang terlepas dari Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah.

Lisan kita berdo’a. Hati kita berharap. Tapi, apakah kita pun merenungkan maknanya?

Bermain di Kampoeng Kidz, Batu

Sudah lama sekali rasanya tidak ke Batu untuk piknik, karena sudah bosan mengunjungi obyek wisata yang itu itu saja dan biasanya suasananya sangat  ramai sekali seperti dawet di kolam renang. Minggu lalu kebetulan ada keperluan di Malang, maka sekalian saja kami merencanakan piknik ke Batu. Didasarkan akan keinginan untuk memberikan pengalaman baru bagi anak-anak kami maka sebelum berangkat kami sudah menentukan akan mengunjungi kampoeng kidz. Sebuah tempat yang sebenarnya sudah lama kami ketahui, namun belum ada hidayah untuk mengunjunginya.

Sampai di sana kami langsung masuk ke area kampoeng kidz. Tiket masuk  20 ribu per orang dengan tiket tersebut kami bebas berkeliling di seluruh area kampung kidz selama tidak terkunci. Diluar itu ada paket khusus berpetualang untuk anak-anak. Harga per paket sekitar 160rb per anak. Fasilitas yang didapat adalah berpetualang memanen jamur, menanam hidroponik, memberi makan kelinci, membuat camilan keripik, memberi makan puyuh, menyusui ikan pakai dot, menjelajahi kebun, menaiki perahu sampai berenang. Selain itu setiap anak akan didampingi oleh seorang guide. Saya menyaksikan anak anak begitu senangnya bermain disana dan meminta untuk kesana lagi dilain waktu dengan paket permainan atau petualangan yang berbeda tentunya.

Dari hasil ngobrol dengan guide saya mendapatkan informasi bahwa kampung kidz ini sehari hari juga difungsikan sebagai sekolah. Nama sekolahnya adalah Sekolah Selamat Pagi Indonesia yang ternyata didirikan oleh Pak Julianto Eka Putra. Sekolah tersebut memberikan beasiswa khusus bagi mereka yang tidak mampu. Selain kurikulum pada umumnya, sekolah tersebut concern dengan materi kewirausahaan. Bahkan operasional kampung kidz ini dikelola oleh siswa siswi selamat pagi indonesia.

Intinya kami sekeluarga merasa senang dan puas dengan pengalaman yang diberikan oleh kampung kidz

 

Pengalaman di Bengkel Panjang Jiwo Spring (PJS) 


Berdasar rekomendasi dari seorang kawan, saya dianjurkan untuk memperbaiki kaki kaki mobil saya ke bengkel Panjang Jiwo Spring (PJS).
Kesimpulan yang saya dapatkan adalah ono rego ono rupo.
Jadi setelah diperiksa, ternyata kaki kaki depan mobil saya mengalami kerusakan pada stabilizernya. Hal ini menyebabkan mobil saya selalu mengeluarkan suara geluduk glodak apabila melintasi jalan yang sedikit saja tidak mulus.
Ongkos totalnya cukup terjangkau kantong saya, namun pelayananya nggapleki soro. Juangkriikkk tenan.
Ketika sampai disana jangan harap ada kantor administrasi dimana biasanya kalau dibengkel lain ada mbak mbak yang menyapa kemudian mendata apa keluhan pada mobil yang bersangkutan.
Di PJS jangan ngimpi bro, yang ada harus nemuin kepala montirnya kemudian disuruh antri. Karena memang pelanggannya banyak.
Saya sendiri antri selama hampir 3 jam di dalam bengkel yang sangat gerah dan panas. Padahal waktu untuk memperbaiki hanya 1 jam saja. Akhirnya setelah total 4 jam disana, mobil sudah bisa saya bawa pulang dalam keadaan yang sangat nyaman.

Tips jika ingin kesana mending antri mulai jam 6 pagi. 

Game, Pengakuan dan Penghargaan

Beberapa creator game saat ditanya “apa sih yang membuat sebuah game digandrungi dan dimainkan di gadget oleh banyak orang terutama anak-anak?”

jawabannya, ternyata adanya dua unsur menarik yang terkandung dalam game tersebut yaitu pengakuan dan penghargaan. maka bisa jadi kekurangan pengakuan dan penghargaan dari orang terdekat bisa menyebabkan seseorang kecanduan game.

Ah tiba tiba saya jadi membayangkan, gimana asyiknya ya jika saat anak anak melakukan hal yang benar namun selama ini dianggap biasa dan wajar oleh orangtuanya lalu pada suatu momen disambut dengan pengakuan seperti “kowe hebat Le” lalu diberi penghargaan berupa naik delman keliling kota ?

Meskipun demikian tidak semua game berdampak kurang baik, menurut salah seorang mantan gamers yang sudah bertobat, ada game yang cukup direkomendasikan yaitu tetris. tetris ini melatih kemampuan pengambilan keputusan. Hmmm…menarik juga, daripada mahal mahal mengikuti kursus decision making lebih efektif jika calon pemimpin mengkhatamkan tetris dengan skor tertinggi, sambil sayup-sayup terdengar suara “koq bodo,koq bodo” dari speaker gimbotnya.

REZEKI YANG I’TIDAL 

Oleh Muhammad Nurul Banan 


Saya pernah menuliskan bahwa “Tuhan di Posisi I’tidâl Shalat”, begini, “Tuhan merupakan pribadi dengan keseimbangan total. Karakter-karakter-Nya merupakan keterkaitan yang saling terhubung antara satu sama lain. Al-Jabbar: Maha Otoriter disinkronkan dengan watak Ar-Rauf: Maha Penyantun. Adh-Dhārr: Maha Mencelakai disinkronkan dengan An-Nāfi’: Maha Bermanfaat. Al-Mutakabbir: Maha Besar diri disinkronkan dengan Al-Lathīf: Maha Lemah-lembut. Dan seterusnya.”
Saya juga menjelaskan, “Artinya pribadi Tuhan itu menganut sistem keseimbangan mutlak. Jika Tuhan hanya santun, bermanfaat, lemah-lembut, Dia akan dinilai lemah, lalu Dia mudah disampahkan orang, tanpa wibawa. Juga kalau Tuhan hanya otoriter, mencelakai, sombong diri, Dia akan dinilai preman fasis anti toleransi, Dia hanya ditakuti tanpa kharisma,” jelas saya dulu.
“I’tidāl shalat merupakan gerakan menyeimbangkan diri antara aktifitas berdiri dan sujud dalam shalat. Berdiri itu meninggi, sujud itu merendah, keduanya ditengahi dengan i’tidāl, yakni “menjadi adil” di antara dua perbuatan ekstrem yang berlawanan sehingga menjadi seimbang.” 
“Karena ini, Tuhan penganut prinsip i’tidāl shalat, Dia berkebijaksanaan pun dengan kebijaksanaan yang seimbang, Dia berkarakter pribadi pun menganut pola i’tidāl.”
“Dan alam semesta ini juga mutlak dari akumulasi hukum keseimbangan, yakni sistem i’tidāl, baik secara fisika, biologi, maupun ruhani, karena alam ini dilahirkan oleh Tuhan yang i’tidāl,” begitu akhir saya menjelaskan.
Hukum alam merupakan kesepakatan hukum keseimbangan atau hukum i’tidal. Yang paling lemah adalah gaya gratifikasi alam semesta, sebanding dengan kekuatan grafitasi atom yang merupakan gratifikasi paling kuat. Patuh pada hukum i’tidal alam.
Akan halnya sistem timbangan, satu sisi neraca yang berisi 10 kg batu akan seimbangan dengan 2 karung kapas. Kalau tidak, pasti njomplang. Ia patuh pada hukum i’tidal alam.
Seorang yang sombong, selayaknya dijatuhkan, karena sombong pada hakikatnya naik terus, kalau tidak dijatuhkan menjadi tidak seimbang. Demikian halnya yang tawadhu’, dia merendah, selayaknya dia diangkat naik. Seorang yang sombong tidak dijatuhkan pun, dia pasti jatuh sendiri, atau seorang yang tawadhu’ tidak diangkat pun dia akan terangkat sendiri, karena patuh pada hukum i’tidal alam.
Jadi, semua yang di alam semesta ini melakukan gerak i’tidal shalat. Gerak menyeimbangkan diri di antara dua perihal.
Keberlimpahan satu paradok ekstrem diseberang paceklik, kekayaan juga satu paradok ekstrem diseberang kemiskinan. Keberlimpahan dan kekayaan bukan lagi sistem ‘i’tidâl alam, keduanya satu titik di ujung keekstreman.
Maka ini ketika Anda yang ingin meraih keberlimpahan dan kekayaan, Anda justru harus menarik dan masuk dalam pemiskinan diri, sebagaimana Anda yang hendak ekstrem bersujud maka Anda harus ekatrem meninggi berdiri. Tanpa meninggi berdiri Anda tidak pernah mampu sujud kecuali Anda teriena darurat seperti halnya sakit dan cacat fisik.
Memiskinkan diri untuk meraih keberlimpahan dan kekayaan artinya bukan Anda membangun semacam mental miskin, tetapi Anda memiskinkan ego sendiri demi mengkayakan perasaan orang lain.
Jadi sangat sederhana jika ingin kaya harta, i’tidâl-kan saja rezeki Anda dengan jalan memiskinkan ego Anda dalam soal kepentingan meraih rezeki. Kerja sebaik-baiknya lalu berikan sebanyak-banyaknya rezeki Anda pada orang lain, karena penyebab miskinnya rezeki Anda karena rezeki Anda belum i’tidâl. I’tidâlkan rezeki Anda!
Bukankah sedekah itu mekanisme memiskinkan ego diri? Sedekah itu Anda kenyangkan orang lain sementara perut sendiri entar nomor belakangan. Kalau masalahnya melarat terus, i’tidàl-kan dengan sedekah.
Kadang rezeki sudah banyak tapi “ngenes” melulu. Tetangga kanan-kiri nyebut Anda orang kaya, tapi Anda kemerungsung terus hidupnya, suami istri bertengkar kemelut, usaha besar tapi terasa hanya untuk setor bank, stres dikejar-kejar target bisnis terus tapi cuma dapat capai. Keadaan-keadaan ini adalah yang tidak i’tidâl, padahal Anda disebut kaya.
Ingin selesai dari masalah-masalah itu caranya i’tidâl-kan rezeki Anda. Masalah-masalah tersebut adalah masalah kemelut materilisme. Dunia ini hakikatnya kekeruhan, maka tanda Anda terjebak dalam materialisme, keadaan hidup Anda menjadi keruh. 
Sebab ini agar i’tidal lagi rezeki dan kehidupan Anda, maka putus akar rumputnya. Akar rumputnya adalah “menuruti gaya hidup sehingga tidak terasa merugikan orang lain”.
Cara meng-i’tidâl-kannya, gaya hidupnya hentikan, hidup seadanya dan secukupnya, banyak-banyak menahan diri dari rasa ingin meraih target dan rasa ingin meraih banyak, lalu berbalik arahlah dengan banyak memberi kepada orang lain.
Keadaan hidup Anda ekstrem di kanan atau di kiri, maka i’tidâl-kan dengan memberatkan lawan yang seimbang, karena Tuhan dan mekanisme alam-Nya selalu paten dalam i’tidâl shalat.[]

Ringkasan Theory of Constructed Emotion

Oleh : Teddi Prasetya Yuliawan 

Inti dari buku ini adalah membahas _Theory of Constructed Emotion_. Teori yang dipelopori oleh penulisnya. Teori ini mengoreksi pandangan lama tentang emosi yang sudah dipakai sejak zaman Darwin. 

Tempo hari saat saya share pertama kali, Mas Bayu⁩ sempat tanya apakah ini kontra dengan riset-riset Paul Ekman. Fyi, Ekman adalah pakar emosi kenamaan yang riset-risetnya membuktikan bahwa emosi itu punya semacam ‘sidik jari’. Sederhananya, ekspresi emosi manusia di berbagai belahan dunia itu punya kesamaan. Riset-riset Ekman dan yang lain membuktikan hal ini. Ketika subyek riset di Papua Nugini ditampilkan gambar ekspresi emosi, mereka bisa menebak dengan tepat emosi apa itu. Simpulan pandangan ini ya tadi: emosi punya semacam sidik jari. 
Pandangan ini didasari oleh asumsi lain. Emosi punya sidik jari, sebab ia lahir dari proses yang standar di dalam diri, secara fisiologis. Lebih tepatnya, otak kita punya bagian tertentu yang kerjanya memicu emosi tertentu. 
Nah, Lisa Feldman meneliti dengan asumsi ini awalnya. Rupanya, bertahun-tahun, yang ia temukan tidak signifikan hasilnya. Ia merasa gagal. Ada yang salah dengan proses riset atau datanya. Begitu ia berpikir.
Singkat cerita, ia baru menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan datanya. Yang ‘salah’ adalah cara memahaminya. Asumsi yang digunakan. 
Ya. Asumsi bahwa ada bagian tertentu di otak yang tugasnya memicu emosi tertentu inilah penyebabnya. Di eranya Ekman, alat memindai cara kerja otak belum secanggih belakangan. Jadi belum terlalu presisi. Maka asumsi tadi bisa dianggap valid. Ketika dilihat lebih dalam, ternyata tidak. 
Terus, asumsi yang sekarang gimana? 
Asumsi sekarang, cara kerja otak itu digital. Bukan analog. Maka emosi tertentu, bisa dipicu oleh bagian otak yang beragam saling terintegrasi. 
Terus, dasarnya apa dong kita merespon dengan emosi tertentu? 
Pengalaman masa lalu. Maka emosi itu _learned_. Ia dipelajari melalui pengalaman. Orang yang tidak pernah belajar bahwa meninggalkan shalat itu menggelisahkan ya ga akan gelisah. Orang yang tidak belajar mencintai sesuatu ya tidak akan merasa kehilangan sesuatu. 
Maka jadilah teori ini disebut _Theory of Constructed Emotion_. Bahwa emosi itu diciptakan. Disusun. Distimulasi oleh kita sendiri. 
Di NLP, kita sudah tahu ini sejak lama. Hanya saja secara praktis dan filosofis. Kini kita punya pemahaman secara riset empiris. 
La terus, gimana tadi itu dengan risetnya Ekman dkk? 
Na ini serunya. Lisa Feldman menelaah ulang proses riset dengan metode yang digunakan oleh Ekman dkk. Simpulannya, datanya valid. Yang jadi masalah adalah alat pengumpulnya. 
Loh? Kok?
Jadi gini. Alat yang digunakan dalam riset model lama, itu menampilkan gambar ekspresi emosi, lalu disertai dengan pilihan kata-kata emosi di sampingnya. Nah, kalau modelnya begini, maka hasilnya akan valid. Orang berbagai budaya bisa mengenali emosi yang sama. 
Tapi begitu alatnya dimodif sedikit, yakni hanya gambar, tanpa pilihan kata emosi, hasilnya langsunt variatif. Tidak konsisten. 
Sounds familiar?
Di NLP ini namanya……………
Framing. Ini juga yang disimpulkan Barret. Bahwa pilihan kata itulah yang secara halus mengarahkan pilihan subyek. 
Terus, ga valid sama sekali kah Ekman? Udah jadi model training mendunia lho. Hehe..
Bukan. Bukan begitu cara memahami riset. 
Barret justru menyimpulkan makin kuat bahwa emosi itu berasal dari persepsi dan ia _constructed_. Lihatlah. Begitu mudahnya pilihan orang berubah hanya karena ada tambahan tools. Tambahan pilihan. 
Kita di NLP, sekali lagi sudah tahu ini secara praktis dan filosofis. Ada  presuposisi yang mengatakan *’manusia bertindak berdasarkan pilihan yang tersedia dalam dirinya’*. 
La bener to? 
Karena emosi itu _constructed_, maka teraksesnya ya tergantung pilihan yang dimiliki berdasarkan pembelajaran yang dilalui. 
Begitu mudahnya kita di- _frame_ dan mem- _frame_ pikiran dan emosi kita menjadikan kita makin paham bahwa tanggung jawab pertumbuhan diri itu ada di dalam diri. Sudah tidak valid lagi secara empiris menyalahkan orang lain atas nasib kita.