Compassionate Parenting

compassionAtas ajakan teman saya Mbak Dian Cahyorini saya menghadiri seminar compassionate parenting bersama anak kedua saya Alin (3y) karena Ibunya sedang menghadiri pernikahan rekan kantornya bersama anak pertama saya. Saya sangat terkesan dengan acara seminar compasionate parenting yang menghadirkan Mas Gobind Vashdev sebagai pembicara sekaligus pengisi materi. Banyak sekali “harta karun” yang saya peroleh dari acara tersebut, meskipun saya sempat keluar selama 2 jam di pertengahan acara karena harus mengantar Alin pulang kerumah dari veneue seminar karena sudah waktunya bobo siang.

Jika berbicara mengenai compassionate parenting, maka fokus sesungguhnya bukan pada anak, namun kepada diri sendiri sebagai orangtua. Menurut sebuah survey 90% masalah parenting itu adalah masalah di dalam diri orangtua sendiri. Masalah ini disebabkan luka batin orangtuanya yang belum selesai. Alih alih mencari jalan keluar, orangtua seharusnya mencari jalan kedalam diri sendiri.

Misalkan rumah kita kebakaran, apa prioritas yang akan kita lakukan ? mengejar pelaku pembakaran ? atau memadamkan api terlebih dahulu ?

Lalu bagaimana jika hati kita yang terbakar oleh anak kita ? apakah kita padamkan dulu kebakaran di hati ? atau secara spontan (autopiliot) langsung mengejar anak kita untuk memperingatkan agar tidak membuat kebakaran lagi ? kebanyakan akan memilih memadamkan apinya terlebih dahulu

Maka compassionate parenting kita diajak untuk menyadari luka luka batin kita, merawatnya lalu barulah kita bisa mengerti, memahami dan menumbuhkan rasa welas asih pada apapun keadaan anak kita.

Luka Batin

Misalkan kita diberi waktu 10 detik untuk menggambar pemandangan, kira kira hasilnya seperti apa? saya berani bertaruh bahwa kebanyakan akan menggambar dua buah gunung kembar berwarna biru yang dipisah oleh matahari terbit lalu dibawah gunung ada sebuah jalan lurus nan lebar dan disamping kiri kanan jalan terhampar hijaunya sawah. Mengapa demikian ? karena ketika dibatasi waktu, maka solusi yang spontan muncul adalah solusi yang paling mudah untuk diakses (gambar pemandangan berupa dua gunung tersebut). Dikenal juga dengan sebutan program autopilot kita. Begitupula halnya ketika kita menghadapi anak. Saat anak rewel atau tantrum maka respon yang muncul dari diri kita adalah solusi yang termudah (solusi yang terbiasa dilakukan). Misalnya kalau saya ehm…keluar nada tinggi untuk segera membuat anak diam.

Respon spontan kita sebagai orang tua adalah hasil dari program program masa lalu. Maka ketika saya mulai menyadari nada tinggi yang keluar, saya mulai melakukan pengamatan terhadap diri sendiri dan kemudian menelusuri darimana saya punya program seperti ini. Aha ketemu, ternyata waktu kecil (5thn) saya pernah dibentak-bentak dan dilempar benda tumpul oleh paman saya karena kenakalan saya. Betapa waktu itu saya sangat membenci paman saya, yang saya manifestasikan dengan membuang ketikan skripsinya sekaligus berjanji akan memukulnya nanti jika saya sudah dewasa. Jaman berganti musim bertukar saya sudah melupakan kejadian kejadian tersebut. Sayangnya saya tidak menyadari luka batin itu terlanjur ada dan tersimpan di kedalaman memori bawah sadar yang kemudian SEOLAH hilang dan terlupakan.

Sejatinya seorang anak tau dimana titik titik luka batin orangtuanya karena kesamaan genetik. Justru tugas seorang anak menurut Gobind adalah memancing emosi kedua orangtuanya. Dengan cara seperti itu seorang anak sebenarnya sedang memberi informasi kepada orangtuanya dimana letak luka-luka batin yang tidak disadari namun sering mewujud menjadi emosi spontan.

Lalu bagimana merawat luka-luka batin itu ? Menurut Gobind yang perlu dilakukan orangtua adalah duduk lalu rasakan emosi yang muncul saat itu. Misalkan yang muncul adalah emosi kesal, maka sambil duduk tariklah nafas perlahan-lahan sambil berkata “saya sedang merasa kesal”. Kemudian lepaskan nafas sambil berkata “saya sedang merawat kekesalan ini, keduanya adalah bagian dari diriku”.

Setelah diri kita beres, maka selanjutnya apakah yang dilakukan saat anak tantrum? Gobind menjelaskan bahwa anak tantrum, karena ini adalah satu-satunya cara yang Ia tahu untuk berkomunikasi.

Gobind melanjutkan “saat anak saya Rigpa tantrum, saya hanya akan bermeditasi disebelahnya dengan mata terbuka. Saya mebiarkan Rigpa mengeluarkan emosinya. Bila kita mengalihkan emosinya dengan memberikan manisan, video games atau lainnya, kita mengajarkan anak untuk tidak menyelesaikan masalahnya, tidak mengeluarkan kemarahannya.”, Ujar Gobind.

“Rigpa bisa lebih dari satu jam menangis, maka saya hanya akan diam disebelahnya. Bila di tempat ramai, saya minta untuk pulang atau ketempat yang lebih sepi. Memberitahu anak saat Ia sedang marah atau sedih tidak akan berhasil. Saat anak sudah selesai meluapkan emosi, berilah rangkulan”.

Fasilitator Pembelajaran bukan Fasilitator Pelindung

Kurangi peran orangtua sebagai fasilitator pelindung, namun tingkatkan peran sebagai fasilitator pembelajaran. Daripada melarang-larang anak, ajari saja bagimana agar meminimalisir dampak kecelakaan akibat bermain. Misalnya “Nak kamu boleh main manjat-manjat pohon, mau kepalamu benjol, kaki kesandung, jatuh tidak masalah yang penting kalau jatuh jangan sampai bagian belakang lehermu yang kena”

Di tengah-tengah kelas, kami menonton Ibu bebek dengan lebih dari 5 anaknya yang sedang berjalan menaiki trotoar jalan. Ibu bebek naik duluan, lalu anak-anak bebek satu persatu naik. 2 anak bebek tertinggal. Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya memperhatikan dari dekat di atas trotoar. Satu persatu anak bebek ini naik , walau 1 anak terakhir butuh waktu, Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya dia memperhatikan dari dekat.

“Anak bukan butuh pelindung, tapi tempat untuk belajar. Bila anak jatuh, ingatkan kepada anak, bila ada kebahagiaan , maka ada kesedihan. Bila ada enak, ada tidak enak. Kamu sudah merasakan kebahagiaan, mari kita juga peluk kesedihan”, Gobind menjelaskan. Anak punya kemampuan luar biasa dalam beradaptasi, let them adapt whith not only the goods of the world but also the bad. Biarkan mereka bersedih bila tidak mendapatkan mainan yang mereka inginkan. Seringkali ketika Hafiy meminta makanan diluar yang sudah dimasak oleh mamanya, (misal minta rawon jam 8 malam, padahal sudah masak soto) saya mencegah mamanya untuk membelikan. Saat dia terlambat ke sekolah karena susah mandi, saya hanya membiarkan dia merasa malu karena terlambat. Biarkan ia mengenali rasa tidak nyaman berusaha mengatasinya.

Kehidupan itu Dinamis

Kehidupan ini tidaklah kaku namun dinamis, orangtualah yang seringkali membawa agenda agenda tersendiri. Misalnya kamu harus juara 1, harus lulus dengan nilai terbaik, mahir main piano. Lalu apakah agenda tersendiri orangtua ini tidak diperlukan ? Boleh boleh saja orangtua mempunyai agenda tersendiri terutama untuk hal hal yang prinsip asalkan bebas dari kemelekatan. Misalnya orang tua ingin anaknya menjadi anak sholeh yang kuat imannya, silahkan lakukan usaha terbaik namun tak usah terlalu dipikirkan apakah nanti anaknya benar-benar menjadi anak sholeh. lakukan saja yang terbaik, nikmati prosesnya tanpa ngarep. Ini sangat sesuai dengan nasihat Kyai Haji Maimun Zubair “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah”. Begitu pula menjadi orangtua.

Ajarkan Cinta, Bukan Ketakutan

“Hafiy , ayo mandi ? Nanti kalau ga mandi  jadi temennya si S (setan) loh”,

“Awas, nanti jatuh loh!”

“Alin, kalau gak mau makan, nanti sakit terus diinfus lho nak.”

“Wah, kalau mukul mukul temenmu nanti enggak punya teman.”

Siapa yang pernah seperti ini? (saya sendiri pernah berulangkali melakuan hal itu) Tanpa disadari proses mendisiplinkan anak menjadi proses menakuti anak.

Gobind menambahkan “Kita lupa mengajarkan cinta kepada anak, Saya saat ini tidak menggunakan sabun berbahan kimia, bukan karena Saya takut pada bahan kimia, Saya ini tinggal dekat sawah, di belakang rumah Saya, bagaimana bisa Saya meracuni sawah ini, yang memberikan Saya makan? Saya melakukan ini karena Saya mencintai mother earth, ibu Saya.”, ujar Gobind.

Gobin juga mengingatkan ketika kita mulai membandingkan anak dengan orang lain, anak akan merasa dirinya tidak lebih baik dari orang lain. Memang sangat mudah membandingkan anak, anak akan merasa adanya kompetisi dan mulai menjadi lebih baik versi Ibunya. Tanamkan cinta salah satunya dengan berujar ,” I love you the way you are”.

Beri Pujian Pada Kebiasaan Anak yang Baik

“Kita tidak pernah lupa memberikan pujian kepada anak bila anak berhasil menggambar, berjalan, atau makan banyak. Tapi kita terkadang lupa memberikan pujian pada kebiasaan baik anak saat berbagi dengan orang lain, berjalan sendiri tanpa digendong, ramah terhadap orang lain, dan lainnya”, tegas Gobind.

Jangan Menggadaikan Hubungan Anak Kita

Orangtua seringkali menggadaikan hubungan dengan anaknya untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Misalnya saat bertemu teman lama di jalan, kita meminta anak untuk salim dan cium tangan teman kita namun ternyata anak kita tidak mau, lalu kita sedikit memaksa “ayo cepet salim sana sama om” setelah salim lalu kita asyik ngobrol dengan teman lama dan mengabaikan anak kita. Biarkanlah anak memilih waktunya sendiri untuk mengenal orang. Misal juga ketika ada tamu berkunjung ke rumah bertepatan anak kita sedang asyik main di ruang tamu, maka jangan karena mengutamakan tamu ataupun malu pada tamu kita jadi bersikap kurang menyenangkan kepada anak kita. Termasuk juga ga perlu risau ataupun malu ketika mengetahui bahwa anak kita ada kekurangan jika dibandingkan teman temannya, misalnya kurang sopan santunnya. Dalam hal berbagi, apabila anak belum mau berbagi, biarkanlah, apa Anda mau meminjamkan mobil Anda kepada orang lain yang Anda tidak kenal? Jangan rusak hubungan Anda dengan Anak . Ini juga berlaku bila anak tidak mau salam dengan keluarga atau kerabat.

Walk The Talk

Pada bagian ini Gobind bercerita tentang kisah Mahatma Gandhi. “Ada seorang ibu rumah tangga memiliki seorang anak yang suka mengkonsumsi garam. Padahal anak tersebut memiliki penyakit yang akan kambuh apabila anak tersebut mengkonsumsi garam. Ibu tersebut telah menasehati anak tersebut untuk tidak mengkonsumsi garam tersebut. Tetapi anak tersebut masih saja mengkonsumsi garam tersebut”

Suatu ketika ibu tersebut datang kepada gandhi untuk meminta pertolongan agar menasehati anaknya yang sering mengkonsumsi garam. Gandhi pun tidak menyanggupi langsung untuk menasehati anak tersebut dan disuruh ibu tersebut untuk kembali seminggu kemudian ke kediaman gandhi. Ibu pun lantas kecewa karena harus seminggu kemudiaan harus kembali

Dan akhirnya seminggu kemudian si ibu dan anak tersebut kembali menuju tempat Gandhi. Setelah itu Gandhi mendatangi anak tersebut dan memberikan nasehat “hey anakku janganlah kamu mengkonsumsi garam lagi, karena jika kamu mengkonsumsi garam lagi kamu akan mengecewakan orang tuamu, mengecewakan dokter yang merawatmu, bahkan mengecewakan dirimu sendiri di kelak nanti”. Ibu pun semakin kecewa karena nasehat gandhi barusan sama seperti nasehat yang ibu katakan setiap harinya kepada anaknya. Gandhi pun tersenyum dan mempersilahkan ibu dan anak tsb kembali.

Besok harinya anak tersebut masih mengkonsumsi garam, tetapi di kemudian harinya konsumsi garam tersebut berkurang dan berkurang pada hari ketujuh. Ibu pun gembira melihat aktivitas anaknya yang mengkonsumsi garam semakin hari semakin berkurang. Kemudian ibu pun penasaran dan mendatangi kediaman Gandhi dan bertanya bagaimana bisa anak saya mulai berkurang konsumsi garam nya, dengan nasehat yang sama. gandhi pun menceritakan kenapa ibu tersebut diharuskan seminggu kemudian mendatangi Gandhi,Gandhi menjelaskan bahwa dia membutuhkan waktu seminggu untuk mencoba tidak mengkonsumsi garam sebelum menasehati anaknya ibu tersebut, karena andaikan waktu pertama ibu meminta Gandhi menasehati anaknya, Gandhi sendiri tidak menyanggupi karena Gandhi waktu itu masih mengkonsumsi garam juga. Jadi Gandhi mulai siap menasehati anak tersebut setelah dia tidak mengkonsumsi garam lagi.”

Note : tulisan belum selesai masih ada materi tentang kata konkrit dan abstarc, menemukan solusi dari anak sendiri, dan mendengarkan serta membantu mengekspresikan emosinya. dan akan diupdate di lain hari.

 

Iklan