Keseruan Kemping  Sasi Desember (Kesamber) Balkondes Wringinputih Magelang 

Perkemahan Balkondes Wringinputih

Kemah Sasi Desember (Kesamber) ini adalah kemah pertama saya setelah kemah pramuka saya di masa SMA.

Ada beberapa hal yang membuat saya tergerak untuk mengikuti kemah ini :

  1. Kemah ini bertema be with you familiy, dari temanya saja sudah menarik bagi saya. Kemah ini memang didesain untuk memperkuat bonding antara orangtua dan anak. Cocok, saya ingin memberikan pengalaman yang berbeda untuk anak-anak saya serta menanamkan nilai nilai positif sepanjang perjalanan.
  2. Kemah ini diadakan di Magelang di kecamatan Borobudur, dekat Bukit Menoreh. Bisa jalan-jalan ke Jawa Tengah adalah sesuatu hal yang menarik bagi saya, apalagi leluhur saya semua asal Jawa Tengah mulai dari Semarang, Solo, Sragen termasuk Ayah dulu sekolah di Magelang.

Akhirnya Jum’at pagi tanggal 15 Desember 2017 saya berangkat bersama Hafiy seorang menuju Jogja. Karena mamanya ada agenda lain bersama Alin (ngambil raport dan lomba dekorasi masakan). Cerita mengenai sehari Jogja ada di posting tersendiri (kalau saya tidak malas).

NgeGrabcar

So…saya akan langsung melompat pada perjalanan dari Jogja ke Magelang pada hari Sabtu 16 Desember 2017. Pagi itu kami (Saya dan Hafiy) berangkat menggunakan Grab setelah ditolak berkali-kali oleh Gocar. Maklum tujuan kemah kami adalah Balkondes Wringinputih Kecamatan Borobudur Magelang sehingga Gocarpun keder duluan walau dapat ongkos 135 ribu. Syukurlah Sopir Grab yang mau mengantarkan kami, tempat tinggalnya juga di Magelang .. mungkin inilah yang namanya Jodoh ^_^

Berangkat jam 9 pagi, kami sudah tiba di Balkondes sekitar pukul 11 siang. Sampai disana kami masih berleha-leha dulu sambil ngobrol ngobrol ringan dengan Mas Setiaji.

2 orang ini lagi ngapain seh

Obrolan kami berputar pada hal perjalanan hidup, parenting, keluarga, pilihan karir, sistem pendidikan sampai seputar vibrasi.

Beberapa hal yang saya dapatkan dari diskusi dengan Mas Aji adalah bahwa anak sedari kecil dibiasakan untuk belajar dan  melakukan aktifitas yang disukainya. Orangtua hanya bertugas untuk mendampingi dan memberikan sebanyak mungkin alternatif pada anak. Jika anak sudah terbiasa gembira melakukan apa yag disukai sejak kecil maka anak akan terlatih untuk mengakses vibrasi power sehingga akan mudah hidupnya akan banyak menemui kebetulan kebetulan yang mempermudah hidupnya kelak.

Kemudian terkait sistem pendidikan, beliau sekeluarga menerapkan sistem home scholing meski tidak menyarankan kepada orang lain untuk mengikuti hal yang sama. Sarannya kepada saya adalah, meski anak bersekolah di sekolah formal, namun berilah perhatian pada hal-hal yang disukainya. Misalnya anak lebih suka menggambar sedangkan nilai matematikanya jelek, maka anak sebaiknya di leskan nggambar untuk memaksimalkan kemampuannya. Sedangkan matematika yang penting anak bisa lulus saja sudah bagus.

Hal lain yang membuat saya terkesan adalah perhatiannya pada olah roso, fisik tetap bekerja namun berasa santai mengalir yang membawanya pada kehidupan yang lebih baik daripada saat terpisah 3 kota dengan istri dan anak untuk mencari nafkah.

Acara dimulai dengan makan siang bersama dengan menu ala rumahan yaitu sayur bayam, tahu tempe dan ayam goreng seta sambal yang menggoyang lidah.

Setelah makan siang dan seluruh 22 keluarga peserta Kesamber datang maka dimulailah acara perkenalan dilanjut dengan acara membuat eco printing dan membatik. Kursus eco printing ini kalau diluar bisa sampai 2 jutaan lho, namun disini sudah include all in biaya kemah yang hanya 350 ribuan (murah bukan).

Eco Print

Eco print sendiri konsepnya hampir mirip dengan membatik di atas kain, hanya saja menggunakan media dedaunan untuk menggoreskan motif di atas kain. Kain yang digunakan paling bagus adalah kain sutra atau kain katun yang sudah direndam terlebih dahulu dengan air bergaram selama 1 jam. Saat akan digunakan, kain ini diperas lalu di hamparkan di lantai yang sudah diberi alas. Lalu kain tersebut dibagi menjadi dua dengan melipat secara vertikal sehingga terbentuk dua area (kiri dan kanan) yang sama besar. Lalu pada bagian kanan kain, disusunlah dedaunan yang berasal dari daun jati, daun jambu dan daun kerson. Indah atau tidaknya hasil akhir eco print tergantung kemampuan dalam menyusun dedaunan di atas kain ini. Setelah daun tersusun, kain dilipat secara vertikal. Lalu mulailah aksi memukul ruas punggung dedaunan dengan ulekan atau palu sehingga mengeluarkan cairan alami berwarna hijau, kuning, merah. setelah itu kain digulung dan didiamkan selama semalam untuk keesokan harinya ketika kain sudah kering dan membentuk motif yang indah.

Pada sesi ini saya mencoba eco print tersebut sedangkan hafiy lebih memilih untuk membatik.

Di sela-sela acara ada pengumpulan snack potluck yang seluruhnya adalah jajanan di masa kecil ala tahun ’90an seperti krip-krip, coki-coki, permen davos, permen karet yosan, anak mas, wafer superman yang benar benar membawa kami seperti melalui mesin waktu hahaha.

Jajanan masa kecil

Selesai sesi eco print dan mbatik adalah acara bebas yang digunakan peserta untuk menata barang-barang di tendanya. Sebagian para orangtua bercengkerama sembari menikmati teh hangat manis yang segar, sementara anak-anak sibuk bermain bola dan sebagian bermain drone.

Tak lama hujan pun turun dengan malu-malu membasahi Balkondes. Agak ragu antara mengizinkan anak tetap bermain ditemani hujan atau mengentikannya. Saat itu Mas Aji mengajukan pertanyaan menggelitik “Siapa yang punya keyakinan di masa lalu kalau main hujan-hujanan pasti akan sakit”

Hahaha….saya langsung teringat bahwa kita adalah ide ide dan pikiran pikiran yang ditanamkan di masa lalu. Apabila ide dan pikiran tersebut kita setujui, maka akan menjadi beliefe (keyakinan) yang selanjutnya oleh mekanisme tertentu akan diwujudkan oleh pikiran bawah sadar kita. Termasuk nasihat nenek saya untuk tidak hujan-hujanan karena akan menyebabkan sakit. Oke saya mengijinkan hafiy untuk hujan-hujanan jika dalam kondisi fit karena hujan itu sejatinya membawa barokah. Sayangnya hafiy baru saja sembuh, jadi dengan terpaksa saya amankan dulu hehe…

Setelah mandi sore dan menata matras di tenda, acara dilanjutkan dengan permainan ringan nan mengasyikkan seperti membangun bangunan tertinggi dengan sedotan, kata berkait dan menebak kata belalui gerakan. Ini permainan khas jaman old hahahaha..

Malamnya setelah sholat isya, acara dibagi menjadi dua. Anak-anak mempunyai sesi tersendiri untuk bermain bersama sedangkan orangtua ada sesi tersendiri untuk berbincang-bincang bersama orangtua lain mengenai keluarga.

Pada sesi ini kiami semua diminta untuk saling berhadapan dengan pasangan masing-masing untuk saling beradu pandang selama 5 menit. Untuk “jomblo” seperti saya hanya diminta untuk menatap tangan sendiri. Lalu setelah 5 menit kami diminta untuk bercerita apa yang dirasakan selama 5 tadi. Kebanyakan para peserta merasakan syukur yang luar biasa.

Setelah itu dimulailah sharing dari Mas Aji mengenai vibrasi dan kehidupan dengan corak warna pembahasan yang khas. Tentang Vibrasi ini nanti juga akan saya tulis terpisah agar lebih enak dibaca. Bukankah Nasi Soto juga akan terasa lebih nikmat jika disajikan terpisah.

Ada momen yang membuat saya terkesan malam itu. Hafiy sempat ga mau makan karena nyari bayem, lha bayemnya kan menu saat makan siang. Saya sampe kehabisan ide, mau tak kasih makan apa anak ini. Pas mau ambil piring, saya melihat ada bungkus kresek berisi abon merek nyonya siok di tas ransel saya, mungkin mamanya yang masukin tas. Karena mamanya memang biasa nyetok untuk dijual.

Saya langsung nyambung dengan cerita Mas Setiaji bahwa kadang ortu itu ada tapi seperti gak ada. Saya malu sekaligus terharu. Malu karena teringat sebagai ayah sering bawa kerjaan ke rumah sehingga kurang fokus dan perhatian sama anak. Terharu karena seorang ibu akan selalu ada untuk anaknya meski terpisah jarak. Kehadiran Abon ini membuat hafiy merasa mamanya ada didekatnya.

Acara berikutnya dilanjutkan dengan Api Unggun serta ungkapanm terima kasih untuk panitia yang paling banyak perannya yaitu Mas Gepy dan Mbak Puyi yang memang satu-satunya panitia yang berdomisili di Magelang.

Bahkan Backdrop Kesamber Legendaris yang berukuran 12 x 4 meter itu adalah buah karya mereka. Terimakasih untuk Mas Gepy dan Mbak Puyi yang luar biasa.

Backdrop Legendaris

Selesai…? belum, the night still young in Balkondes Wringinputih. Acara dilanjut bakar-bakar jagung, bakar sosis dan bakar ayam ^_^ Hafiy sendiri habis 2 jagung bakar yang pada akhirnya membantu regenerasi gigi susunya 4 hari kemudian hahaha….

Waktu sudah menunjukkan pukul 24.00 yang artinya sudah waktunya untuk istirahat. Hafiy meminta untuk tidur di tenda dan jika dia sudah terlelap dia minta untuk digendong ke kamar. Di balkondes selain memesan tenda, saya juga memesan kamar untuk jaga-jaga jika turun hujan. Sejak dari Surabaya, saya sudah diwanti-wanti mamanya hafiy untuk menyiapkan kamar untuk jaga-jaga.

Praktiknya, karena saya juga lelah, kamipun tidur di tenda sampai dibangunkan hafiy pada pukul 4 pagi. Hafiy minta untuk pindah ke kamar wkkkkk….(akhirnya ga kuat juga dia). Baiklah ayo mulai tidur dengan serius hahaha…

Penginapan Balkondes Wringinputih

Acara minggu pagi dimulai dengan penjelajahan ke desa di sekitaran Balkondes. Kami semua ke-22 keluarga benar-benar menikmati the best momen tersebut. Menyusuri jalanan setapak yang berbalut rumput dengan bertelanjang kaki, menghirup segarnya udara pagi, menikmati hangatnya sinar mentari yang mengintip dari sela-sela pohon dan menikmati teduh dan rindangnya pepohonan hijau featuring semak-semak, rumput serta rimbunnya pohon bambu yang bergoyang goyang tertiup lembutnya angin. Sungguh suasana pagi yang syahdu.

Beberapa tempat kami lalui dalam petualangan pagi tersebut yaitu peternakan kambing, peternakan sapi dan tentu saja yang paling berkesan adalah Pasar Papringan.

Soto Batok Pasar Papringan
Pasar Papringan

Pasar papringan ini hanya ada di hari minggu legi, itu berarti secara kebetulan kami berada di momen yang hanya akan terjadi 35 hari sekali. Kebetulan yang hebat bukan.

Pasar papringan letaknya agak tersenbunyi dibalik pepohonan bambu yang tinggi menjulang dan teduh. Pasar ini menjual makanan dan jajanan khas desa yang NGUANGENIN PUOLLL …. Mulai dari Soto ala jawa tengahan dengan kuah bening yang disajikan dengan mangkuk yang terbuat dari batok kelapa dan sendok bebek dari kayu. Semangkuknya bikin shock, hanya Rp 5ribu sodara-sodara, lalu ada Dawet Uayu yang masinya pas sekali, hanya Rp 2ribu (Gubrakkk). Kemudian ada beraneka jajan pasar mulai klepon, gethuk, tiwul, jemblem, kroket, mendoan, wajik dan sebagainya. Sumpahh punya uang Rp 50ribu sudah menjadi manusia terkaya pada saat itu hahaha…

Di Pasar papringan itulah kami mengabadikan momen dibantu oleh tim photograpernya Mas Gepy dari Photoworks Magelang yang hasilnya bisa dilihat dibawah ini (awas mengandung iklan hahaha)

Inspirasi yang saya dapatkan dari mas Gepy bahwa Foto itu adalah Investasi yang tak ternilai pada 10-15 tahun kedepan. Bayangkan disuatu sore anda melihat kembali foto-foto kenangan yag sudah anda afdruk cetak pada sebuah album foto sembari menikmati teh hangat…wuihhhh luar biasa banget rasanya bukan ? dibandingkan penyesalan saat foto foto anda lenyap karena smartphone anda hilang atau rusak.

Setelah sesi petualangan pagi, kami semua mandi merapikan tenda untuk selanjutnya mengikuti acara pesta kostum film kartun minggu pagi tahun ’90an.

Pesta kostum ini  sangat seru, ada yang berkostum Doraeomon, X-Man, Spiderman, Power Ranger mode manusia alias casual. Saya sendiri yang berkostum ala detective conan yang cukup mudah. Hanya menggunakan jas almamater biru Unair dan dasi kupu-kupu merah buatan sendiri.

Setelah itu acara dilanjut dengan memahat batu. Batu yang dipahat itu nantinya akan dihaluskan dengan mesin sehingga produk akhirnya menjadi cobek ulekan sambel. Pada saat memahat ini saya teringat sebuah pepatah

Belajar dimasa kecil ibarat memahat di atas batu (eh mengukir ya, biarin deh wkkk  :D). Sedangkan Belajar dimasa dewasa ibarat memahat di atas pasir

Kenyatanya saat saya memahat batu tersebut saya cukup kesulitan, namun setelah mengamati cara memahat yang dilakukan oleh pengajar di balkondes saya jadi memahami bagaimana caranya.

Aha … mungkin meskipun belajar di saat dewasa seperti mengukir di atas pasir, tetapi tingat pemahaman yang diperoleh saya rasa akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemahaman di masa kecil. So buat yang baru belajar apapun hal yang baru dimasa dewasa, never give up ya ^_^

Kemudian acara ditutup dengan menyanyikan lagu lagu kartun di minggu pagi seperti Doraemon. Akhirnya semoga ada kesempatan untuk ikut di kemah berikutnya.

Iklan