Compassionate Parenting

compassionAtas ajakan teman saya Mbak Dian Cahyorini saya menghadiri seminar compassionate parenting bersama anak kedua saya Alin (3y) karena Ibunya sedang menghadiri pernikahan rekan kantornya bersama anak pertama saya. Saya sangat terkesan dengan acara seminar compasionate parenting yang menghadirkan Mas Gobind Vashdev sebagai pembicara sekaligus pengisi materi. Banyak sekali “harta karun” yang saya peroleh dari acara tersebut, meskipun saya sempat keluar selama 2 jam di pertengahan acara karena harus mengantar Alin pulang kerumah dari veneue seminar karena sudah waktunya bobo siang.

Jika berbicara mengenai compassionate parenting, maka fokus sesungguhnya bukan pada anak, namun kepada diri sendiri sebagai orangtua. Menurut sebuah survey 90% masalah parenting itu adalah masalah di dalam diri orangtua sendiri. Masalah ini disebabkan luka batin orangtuanya yang belum selesai. Alih alih mencari jalan keluar, orangtua seharusnya mencari jalan kedalam diri sendiri.

Misalkan rumah kita kebakaran, apa prioritas yang akan kita lakukan ? mengejar pelaku pembakaran ? atau memadamkan api terlebih dahulu ?

Lalu bagaimana jika hati kita yang terbakar oleh anak kita ? apakah kita padamkan dulu kebakaran di hati ? atau secara spontan (autopiliot) langsung mengejar anak kita untuk memperingatkan agar tidak membuat kebakaran lagi ? kebanyakan akan memilih memadamkan apinya terlebih dahulu

Maka compassionate parenting kita diajak untuk menyadari luka luka batin kita, merawatnya lalu barulah kita bisa mengerti, memahami dan menumbuhkan rasa welas asih pada apapun keadaan anak kita.

Luka Batin

Misalkan kita diberi waktu 10 detik untuk menggambar pemandangan, kira kira hasilnya seperti apa? saya berani bertaruh bahwa kebanyakan akan menggambar dua buah gunung kembar berwarna biru yang dipisah oleh matahari terbit lalu dibawah gunung ada sebuah jalan lurus nan lebar dan disamping kiri kanan jalan terhampar hijaunya sawah. Mengapa demikian ? karena ketika dibatasi waktu, maka solusi yang spontan muncul adalah solusi yang paling mudah untuk diakses (gambar pemandangan berupa dua gunung tersebut). Dikenal juga dengan sebutan program autopilot kita. Begitupula halnya ketika kita menghadapi anak. Saat anak rewel atau tantrum maka respon yang muncul dari diri kita adalah solusi yang termudah (solusi yang terbiasa dilakukan). Misalnya kalau saya ehm…keluar nada tinggi untuk segera membuat anak diam.

Respon spontan kita sebagai orang tua adalah hasil dari program program masa lalu. Maka ketika saya mulai menyadari nada tinggi yang keluar, saya mulai melakukan pengamatan terhadap diri sendiri dan kemudian menelusuri darimana saya punya program seperti ini. Aha ketemu, ternyata waktu kecil (5thn) saya pernah dibentak-bentak dan dilempar benda tumpul oleh paman saya karena kenakalan saya. Betapa waktu itu saya sangat membenci paman saya, yang saya manifestasikan dengan membuang ketikan skripsinya sekaligus berjanji akan memukulnya nanti jika saya sudah dewasa. Jaman berganti musim bertukar saya sudah melupakan kejadian kejadian tersebut. Sayangnya saya tidak menyadari luka batin itu terlanjur ada dan tersimpan di kedalaman memori bawah sadar yang kemudian SEOLAH hilang dan terlupakan.

Sejatinya seorang anak tau dimana titik titik luka batin orangtuanya karena kesamaan genetik. Justru tugas seorang anak menurut Gobind adalah memancing emosi kedua orangtuanya. Dengan cara seperti itu seorang anak sebenarnya sedang memberi informasi kepada orangtuanya dimana letak luka-luka batin yang tidak disadari namun sering mewujud menjadi emosi spontan.

Lalu bagimana merawat luka-luka batin itu ? Menurut Gobind yang perlu dilakukan orangtua adalah duduk lalu rasakan emosi yang muncul saat itu. Misalkan yang muncul adalah emosi kesal, maka sambil duduk tariklah nafas perlahan-lahan sambil berkata “saya sedang merasa kesal”. Kemudian lepaskan nafas sambil berkata “saya sedang merawat kekesalan ini, keduanya adalah bagian dari diriku”.

Setelah diri kita beres, maka selanjutnya apakah yang dilakukan saat anak tantrum? Gobind menjelaskan bahwa anak tantrum, karena ini adalah satu-satunya cara yang Ia tahu untuk berkomunikasi.

Gobind melanjutkan “saat anak saya Rigpa tantrum, saya hanya akan bermeditasi disebelahnya dengan mata terbuka. Saya mebiarkan Rigpa mengeluarkan emosinya. Bila kita mengalihkan emosinya dengan memberikan manisan, video games atau lainnya, kita mengajarkan anak untuk tidak menyelesaikan masalahnya, tidak mengeluarkan kemarahannya.”, Ujar Gobind.

“Rigpa bisa lebih dari satu jam menangis, maka saya hanya akan diam disebelahnya. Bila di tempat ramai, saya minta untuk pulang atau ketempat yang lebih sepi. Memberitahu anak saat Ia sedang marah atau sedih tidak akan berhasil. Saat anak sudah selesai meluapkan emosi, berilah rangkulan”.

Fasilitator Pembelajaran bukan Fasilitator Pelindung

Kurangi peran orangtua sebagai fasilitator pelindung, namun tingkatkan peran sebagai fasilitator pembelajaran. Daripada melarang-larang anak, ajari saja bagimana agar meminimalisir dampak kecelakaan akibat bermain. Misalnya “Nak kamu boleh main manjat-manjat pohon, mau kepalamu benjol, kaki kesandung, jatuh tidak masalah yang penting kalau jatuh jangan sampai bagian belakang lehermu yang kena”

Di tengah-tengah kelas, kami menonton Ibu bebek dengan lebih dari 5 anaknya yang sedang berjalan menaiki trotoar jalan. Ibu bebek naik duluan, lalu anak-anak bebek satu persatu naik. 2 anak bebek tertinggal. Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya memperhatikan dari dekat di atas trotoar. Satu persatu anak bebek ini naik , walau 1 anak terakhir butuh waktu, Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya dia memperhatikan dari dekat.

“Anak bukan butuh pelindung, tapi tempat untuk belajar. Bila anak jatuh, ingatkan kepada anak, bila ada kebahagiaan , maka ada kesedihan. Bila ada enak, ada tidak enak. Kamu sudah merasakan kebahagiaan, mari kita juga peluk kesedihan”, Gobind menjelaskan. Anak punya kemampuan luar biasa dalam beradaptasi, let them adapt whith not only the goods of the world but also the bad. Biarkan mereka bersedih bila tidak mendapatkan mainan yang mereka inginkan. Seringkali ketika Hafiy meminta makanan diluar yang sudah dimasak oleh mamanya, (misal minta rawon jam 8 malam, padahal sudah masak soto) saya mencegah mamanya untuk membelikan. Saat dia terlambat ke sekolah karena susah mandi, saya hanya membiarkan dia merasa malu karena terlambat. Biarkan ia mengenali rasa tidak nyaman berusaha mengatasinya.

Kehidupan itu Dinamis

Kehidupan ini tidaklah kaku namun dinamis, orangtualah yang seringkali membawa agenda agenda tersendiri. Misalnya kamu harus juara 1, harus lulus dengan nilai terbaik, mahir main piano. Lalu apakah agenda tersendiri orangtua ini tidak diperlukan ? Boleh boleh saja orangtua mempunyai agenda tersendiri terutama untuk hal hal yang prinsip asalkan bebas dari kemelekatan. Misalnya orang tua ingin anaknya menjadi anak sholeh yang kuat imannya, silahkan lakukan usaha terbaik namun tak usah terlalu dipikirkan apakah nanti anaknya benar-benar menjadi anak sholeh. lakukan saja yang terbaik, nikmati prosesnya tanpa ngarep. Ini sangat sesuai dengan nasihat Kyai Haji Maimun Zubair “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah”. Begitu pula menjadi orangtua.

Ajarkan Cinta, Bukan Ketakutan

“Hafiy , ayo mandi ? Nanti kalau ga mandi  jadi temennya si S (setan) loh”,

“Awas, nanti jatuh loh!”

“Alin, kalau gak mau makan, nanti sakit terus diinfus lho nak.”

“Wah, kalau mukul mukul temenmu nanti enggak punya teman.”

Siapa yang pernah seperti ini? (saya sendiri pernah berulangkali melakuan hal itu) Tanpa disadari proses mendisiplinkan anak menjadi proses menakuti anak.

Gobind menambahkan “Kita lupa mengajarkan cinta kepada anak, Saya saat ini tidak menggunakan sabun berbahan kimia, bukan karena Saya takut pada bahan kimia, Saya ini tinggal dekat sawah, di belakang rumah Saya, bagaimana bisa Saya meracuni sawah ini, yang memberikan Saya makan? Saya melakukan ini karena Saya mencintai mother earth, ibu Saya.”, ujar Gobind.

Gobin juga mengingatkan ketika kita mulai membandingkan anak dengan orang lain, anak akan merasa dirinya tidak lebih baik dari orang lain. Memang sangat mudah membandingkan anak, anak akan merasa adanya kompetisi dan mulai menjadi lebih baik versi Ibunya. Tanamkan cinta salah satunya dengan berujar ,” I love you the way you are”.

Beri Pujian Pada Kebiasaan Anak yang Baik

“Kita tidak pernah lupa memberikan pujian kepada anak bila anak berhasil menggambar, berjalan, atau makan banyak. Tapi kita terkadang lupa memberikan pujian pada kebiasaan baik anak saat berbagi dengan orang lain, berjalan sendiri tanpa digendong, ramah terhadap orang lain, dan lainnya”, tegas Gobind.

Jangan Menggadaikan Hubungan Anak Kita

Orangtua seringkali menggadaikan hubungan dengan anaknya untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Misalnya saat bertemu teman lama di jalan, kita meminta anak untuk salim dan cium tangan teman kita namun ternyata anak kita tidak mau, lalu kita sedikit memaksa “ayo cepet salim sana sama om” setelah salim lalu kita asyik ngobrol dengan teman lama dan mengabaikan anak kita. Biarkanlah anak memilih waktunya sendiri untuk mengenal orang. Misal juga ketika ada tamu berkunjung ke rumah bertepatan anak kita sedang asyik main di ruang tamu, maka jangan karena mengutamakan tamu ataupun malu pada tamu kita jadi bersikap kurang menyenangkan kepada anak kita. Termasuk juga ga perlu risau ataupun malu ketika mengetahui bahwa anak kita ada kekurangan jika dibandingkan teman temannya, misalnya kurang sopan santunnya. Dalam hal berbagi, apabila anak belum mau berbagi, biarkanlah, apa Anda mau meminjamkan mobil Anda kepada orang lain yang Anda tidak kenal? Jangan rusak hubungan Anda dengan Anak . Ini juga berlaku bila anak tidak mau salam dengan keluarga atau kerabat.

Walk The Talk

Pada bagian ini Gobind bercerita tentang kisah Mahatma Gandhi. “Ada seorang ibu rumah tangga memiliki seorang anak yang suka mengkonsumsi garam. Padahal anak tersebut memiliki penyakit yang akan kambuh apabila anak tersebut mengkonsumsi garam. Ibu tersebut telah menasehati anak tersebut untuk tidak mengkonsumsi garam tersebut. Tetapi anak tersebut masih saja mengkonsumsi garam tersebut”

Suatu ketika ibu tersebut datang kepada gandhi untuk meminta pertolongan agar menasehati anaknya yang sering mengkonsumsi garam. Gandhi pun tidak menyanggupi langsung untuk menasehati anak tersebut dan disuruh ibu tersebut untuk kembali seminggu kemudian ke kediaman gandhi. Ibu pun lantas kecewa karena harus seminggu kemudiaan harus kembali

Dan akhirnya seminggu kemudian si ibu dan anak tersebut kembali menuju tempat Gandhi. Setelah itu Gandhi mendatangi anak tersebut dan memberikan nasehat “hey anakku janganlah kamu mengkonsumsi garam lagi, karena jika kamu mengkonsumsi garam lagi kamu akan mengecewakan orang tuamu, mengecewakan dokter yang merawatmu, bahkan mengecewakan dirimu sendiri di kelak nanti”. Ibu pun semakin kecewa karena nasehat gandhi barusan sama seperti nasehat yang ibu katakan setiap harinya kepada anaknya. Gandhi pun tersenyum dan mempersilahkan ibu dan anak tsb kembali.

Besok harinya anak tersebut masih mengkonsumsi garam, tetapi di kemudian harinya konsumsi garam tersebut berkurang dan berkurang pada hari ketujuh. Ibu pun gembira melihat aktivitas anaknya yang mengkonsumsi garam semakin hari semakin berkurang. Kemudian ibu pun penasaran dan mendatangi kediaman Gandhi dan bertanya bagaimana bisa anak saya mulai berkurang konsumsi garam nya, dengan nasehat yang sama. gandhi pun menceritakan kenapa ibu tersebut diharuskan seminggu kemudian mendatangi Gandhi,Gandhi menjelaskan bahwa dia membutuhkan waktu seminggu untuk mencoba tidak mengkonsumsi garam sebelum menasehati anaknya ibu tersebut, karena andaikan waktu pertama ibu meminta Gandhi menasehati anaknya, Gandhi sendiri tidak menyanggupi karena Gandhi waktu itu masih mengkonsumsi garam juga. Jadi Gandhi mulai siap menasehati anak tersebut setelah dia tidak mengkonsumsi garam lagi.”

Note : tulisan belum selesai masih ada materi tentang kata konkrit dan abstarc, menemukan solusi dari anak sendiri, dan mendengarkan serta membantu mengekspresikan emosinya. dan akan diupdate di lain hari.

 

Ini Harimu Nak

kami-anak-Indonesia

Waktu itu saya belum ngerti mengapa sih salah satu bekal untuk mendidik anak selain taqwa adalah mengucapkan perkataan yang benar (Qaulan Sadiida). Memang perkataan yang benar itu seperti apa ? Belakangan saya baru memahami suatu hal, bahwa menurut sebuah studi di Iowa menyatakan bahwa anak-anak berusia 2 tahun menerima 432 komentar negatif perhari sementara mereka menerima hanya 32 komentar positif perhari dalam kehidupannya sehingga tak jarang komentar negatif tersebut menjadi program di bawah sadarnya. Saya menyadari ini ketika saya tiba-tiba berkata keras dan negatif terhadap anak saya yang membuat saya menyesal. Saat itu secara fisik dan mental saya lelah, namun alasan ini tetap tak dibenarkan.

Saya yakin bahwa semua orang tua mempunyai niat yang baik dalam mendidik buah hatinya dan menanamkan value value positif yang berguna baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat. Lalu sebagai orang tua bagaimana untuk membiasakan untuk berkata yang baik ? Minimal setiap hari ucapkanlah beberapa kata-kata di bawah ini :

  1. Papa sayang kamu nak (katakan sesering mungkin)
  2. Papa seneng liat kamu waktu ….(saat melihat aspek positif dari perilakunya)
  3. Kamu bikin papa bahagia nak (ini membuatnya merasa bernilai)
  4. Papa bangga sama kamu nak (mereka perlu mendengar hal ini saat sudah berusaha melakukan suatu hal yang benar)
  5. Kamu spesial banget nak (Biarkan ia tau keunikannya adalah kekuatannya
  6. Papa percaya kamu nak (membangun fondasi untuk menjadi anak jujur)
  7. Papa yakin sama kemampuanmu
  8. Papa tau kamu bisa melakukan ini (memberikan semangat agar tidak mudah menyerah
  9. Papa bersyukur memiliki kamu (spesifik bersyukur karena suatu hal yang akan membuat anak-anak merasa bahwa hari ini adalah harinya).

sumber gambar : ini

Review Buku : Anak Bukan Kertas Kosong

abkk

Setelah vakum beberapa bulan, akhirnya bisa update blog lagi. Adalah Buku Anak Bukan Kertas Kosong karya Bukik yang memecah keheningan Blog ini. Sebenarnya Buku yang dikirim oleh Bukik sudah sampai 3 minggu yang lalu, namun deadline kantor dan liburan bulan madu menyebabkan review buku ini baru selesai hari ini.

Jujur saya terkejut membaca buku ini, karena hampir semua isinya bisa dibilang “daging” (padat ilmu,sedikit basa basi). Di awal buku ini, bukik sudah mengajak saya naik mesin waktu menuju masa depan. Melihat tantangan tantangan yang akan dihadapi anak anak kita pada zaman kreatif serta perubahan paradigma dalam berkarir. Pada zaman dulu ada tahapan tahapan yang harus dilalui anak secara berurutan yaitu : bermain, belajar, bekerja. Saat ini bermain, belajar, dan bekerja (berkarir) bisa dilakukan secara simultan sejak anak masih kecil. Pada titik inilah pengembangan bakat anak diperlukan untuk mempersiapkan anak menghadapi tantangan tantangan tersebut. Belum puas melihat masa depan, bukik sudah menyeret saya kembali ke masa lalu, menemui begawan pendidikan indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Beliau memberi wejangan yang sangat berharga, antara lain

  1. “Setiap anak itu unik.” “Anak mempunyai kodratnya sendiri yang tidak bisa diubah oleh pendidik. “Pendidik hanya bisa mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut”.
  2. “Pendidikan bukan menanamkan pengetahuan, tetapi menumbuhkan potensi anak.Pendidikan bukanlah mengubah beragam keistimewaan anak menjadi seragam melainkan menstimulasi anak untuk menjadi dirinya sendiri
  3. “Keluarga adalah pusat pendidikan.” “Pendidikan orangtua tidak tergantikan oleh sekolah, lembaga pendidkan” (di sini kadang saya merasa sedih)

Ya, Ki Hadjar benar. Anak tidak bisa diperlakukan seragam. setiap anak memiliki minat dan cara belajarnya sendiri. Kalaupun sekolah saat ini belum bisa mengakomodasi keberagamn tersebut, paling tidak sebagai orangtua tidak menambah beban anak dengan memberi target pencapaian, KPI, atau apapun namanya yang tidak sesuai dengan minatnya yang nantinya justru membuat anak stress. Analogi sederhananya, tidak semua pemain bola cocok dilatih oleh Jose Mourinho ataupun Pep Guardiola.

Pada bab selanjutnya Bukik masuk kedalam konsep ini Anak Bukan Kertas Kosong, yang tinggal diwarnai orang lain. Menurut beliau anak telah mempunyai gambar dan warna sendiri yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Gambar dan warna yang digunakan oleh anak untuk belajar, serta mendapatkan dan mengolah informasi dari lingkungan sekitar. Sebagai contoh anak bukan kertas kosong,  hukuman atau ganjaran yang merupaka motivasi eksternal tidak akan efektif untuk membentuk perilaku. Motivasi ekstrinsik cepat pudar. Anak mudah kehilangan semangat karena ganjaran yang dijanjikan lama lama tidak memiliki daya tarik (meaningless). John W. Santrock dalam bukunya berjudul Adolescence (2001) menulis bahwa motivasi intrinsik sangat mempengaruhi kreativitas dan rasa ingin tahu anak. Anak-anak yang motivasi intrinsiknya kuat cenderung lebih kreatif, kaya gagasan, senantiasa menemukan ide-ide segar serta ketertarikan yang kuat dalam melakukan berbagai aktivitas. Mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, minat yang luas dan cenderung memiliki semangat belajar mandiri yang kuat.

Setelah menyadari pentingnya konsep Anak Bukan Kertas Kosong, Bukik menafsirkan kodrat anak sebagai kecerdasan majemuk yang digagas oleh Howard Gardner. Ada 8 Kecerdasan Majemuk. Masing masing anak memiliki 8 kecerdasan tersebut hanya saja ada beberapa kecerdasan yang lebih menonjol jika dibandingkan dengan yang lain. Ini bisa dibaca lengkap di bukunya. Kemudian di jelaskan pula dalam buku ini keterkaitan kecerdasan majemuk dengan pengembangan bakat anak.

Dan akhirnya bab yangt saya tunggu-tunggu yaitu action plan yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mengembangkan bakat anak sesuai keserdasan majemuknya. Bukik menuliskan secara rinci dan lengkap apa apa yang harus dilakukan oleh orangtua.

Jika ada kekurangan dari buku ini, maka itu hanyalah keterangan Bab di tiap tiap lembar halamannya, agar ketika membaca suatu halaman pembaca langsung ngeh sedang berada di dalam topik bahasan apa

Menempa Jiwa (by M. Fauzil Adhim)

Copas dari Tulisan Mohammad Fauzil Adhim
”Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan.”
(QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6).

Cukuplah orangtua dikatakan menyengsarakan hidup anak apabila ia membiasakan hidup mudah. Segala sesuatu yang mereka perlukan telah tersedia dengan mudah, nyaris tanpa usaha berarti. Padahal pengalaman berusaha dan menyelesaikan masalah akan meningkatkan kapasitas pribadi seseorang. Sehingga semakin banyak masalah yang mampu ia selesaikan, semakin tinggi nilai hidupnya.

Allah Ta’ala membentangkan di hadapan manusia kesempatan untuk berjuang. Agar terwujud kehidupan yang baik, kita harus memiliki kesediaan untuk memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh dengan keringat dan do’a. Kesungguhan dalam berjuang itulah letak nilai seseorang. Bukan apa yang ia capai. Sungguh, adakalanya barakah perjuangan seseorang tampak nyata di muka bumi setelah kehidupan orang tersebut berlalu beberapa masa. Dan merupakan tugas orangtua untuk memberi kesempatan kepada anak latihan berjuang, dari yang kecil hingga mimpi-mimpi besar untuk sebuah visi di masa depan.

Sesungguhnya orangtua yang kejam adalah mereka yang tidak memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan di usia itu. Kejamlah para ibu yang masih selalu menyuapi anaknya, setiap saat, padahal anak seharusnya sudah bisa makan sendiri. Kejamlah seorang bapak yang selalu melayani keinginan anak dan memenuhi permintaan mereka, padahal anak-anak itu kelak harus memiliki kecakapan mentasharrufkan hartanya. Kejamlah orangtua yang hanya memberi uang dan fasilitas berlimpah kepada anaknya tanpa memberi tanggung-jawab, kewajiban dan tantangan kepada mereka.

Mari kita belajar dari pohon apel. Sesungguhnya apel tidak berbuah kecuali setelah daunnya rontok. Jika ia ditanam di negeri yang tidak mengenal musim gugur, maka kitalah yang harus membantu agar apel tersebut berbuah. Kita membantu mengurangi daun-daunnya.

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Perlu tantangan sebelum berbuah. Ada tantangan yang secara alamiah dihadapi karena kondisi yang tidak terelakkan. Tetapi jika kondisi yang diperlukan tidak tersedia, maka kitalah yang harus merancang agar ada tantangan yang ”menggairahkan”.

Jika kita menilik sejarah, orang-orang besar adalah mereka yang memiliki catatan panjang tentang keteguhan, ketegaran, kegigihan, kejujuran, integritas yang tinggi, keberanian dan tekad yang kuat untuk menyelesaikan setiap masalah dengan cara sebaik-baiknya sesuai dengan rambu-rambu yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ditempa oleh tantangan yang datang berjenjang-jenjang. Awalnya ringan, lalu datang lagi tantangan berikutnya yang lebih berat. Bahkan tidak sedikit orang besar yang sejak lahir sudah dipenuhi kesulitan dan tantangan. Ia lahir dalam kesulitan, besar dalam kesulitan dan kemudian tumbuh menjadi manusia yang sanggup mengatasi berbagai kesulitan yang orang lain takut membayangkannya. Mereka banyak menghadapi kesulitan, tetapi pada saat yang sama ada kekuatan jiwa untuk menghadapinya. Terkadang kekuatan itu mengalir dari hadirnya seorang ibu yang senantiasa memberi dukungan ketika ia merasa tak sanggup lagi.

Di antara orang-orang sukses, banyak yang mengawali hidupnya dengan berbagai kesulitan. Sebagian mereka bahkan pernah merasa tak sanggup menghadapinya, lalu berikrar agar anaknya tak pernah menjumpai kepahitan hidup yang serupa. Tetapi ia lupa membedakan bahwa kepahitan hidup berbeda dengan tantangan. Alih-alih tidak ingin anaknya sengsara, justru menghindarkan anak dari tantangan. Diam-diam menjadikan anaknya tak berdaya dengan melimpahi mereka fasilitas dan kemudahan. Padahal berlimpahnya fasilitas tanpa tantangan, menjadikan anak lemah secara mental, rendah daya juangnya, mudah frustrasi karena tak terbiasa menghadapi kesulitan, dan tidak memiliki keterampilan memadai dalam menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari. Mereka inilah yang rawan terkena afflueanza.

Apakah affluenza itu? O, banyak sekali definisi yang bisa kita temukan pada kata ini. Tetapi ada beberapa hal yang mempersamakan dari berbagai definisi itu, yakni bahwa affluenza merupakan kondisi ketika orang menakar keberhasilan dan kebahagiaan dari berapa banyak uang yang dimiliki, berapa mewah barang yang dikonsumsi, dan berapa lengkap perangkat yang dipunyai beserta segala kemudahan yang bisa dibeli. Mereka dimanjakan oleh uang karena orangtua sudah merdeka secara finansial, tetapi hati mereka hampa dan kebahagiaan sangat jauh dari kehidupan. Semakin mereka menganggap bisa membeli kebahagiaan dengan uang, semakin kering hidup mereka, semakin jauh pula kebahagiaan itu menghindar dari mereka. Di saat itulah mereka semakin sibuk mengejar…. dengan uang yang mereka punya!!! Padahal ini justru membuatnya semakin tidak bahagia. Tetapi tak pilihan lain buat mereka, sebab yang mereka ketahui, uang bisa membeli apa pun. Sejak kecil mereka dibesarkan dengan kemudahan dan fasilitas, sehingga mereka justru menemukan banyak kesulitan dalam hidup. Apa yang sederhana buat orang lain, bisa menjadi kesulitan besar bagi dirinya.

Nah.

Jadi apa yang membuat anak-anak itu lemah di masa dewasanya? Mereka tak berdaya karena otot mereka, otak mereka dan mental mereka tak pernah ditempa. Mereka lemah karena terlalu banyak dimanja oleh fasilitas berlimpah. Mereka menemui banyak kesulitan karena terbiasa hidup serba mudah. Sesungguhnya apa yang berat bisa terasa ringan apabila kita memperoleh tempaan yang cukup untuk menghadapi tantangan. Semakin banyak tantangan yang mampu kita hadapi, akan semakin kuatlah kita dengan izin Allah Ta’ala.

Perlunya memberi kesempatan pada anak untuk menghadapi tantangan bukan berarti orangtua harus membiasakan anak hidup sulit. Sangat berbeda mempersulit keadaan dengan menempa anak menghadapi kesulitan. Kita memberi kesempatan kepada anak untuk belajar dengan memberinya tanggung-jawab, memberi mereka tugas untuk menyiapkan, mengatur dan menjaga apa yang mereka perlukan dalam hidup sehari-hari, serta memberi mereka kesempatan bagi mereka untuk belajar mengurusi diri mereka sendiri. Jadi bukan merampas hak mereka untuk belajar mandiri.

Bayi usia 1,5 tahun misalnya, secara alamiah mereka akan terdorong untuk belajar makan sendiri. Tentu saja karena belum memiliki cukup keterampilan, hasilnya bisa belepotan dan mengotori lantai. Tetapi jika atas nama kasih-sayang kita tidak memberinya kesempatan sehingga kita selalu menyuapinya, anak itu akan terhambat kemampuannya dan sulit tumbuh kemandiriannya.

Di usia-usia berikutnya ketika anak sudah saatnya untuk otonom, kita perlu membimbing mereka untuk menyiapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai besok dan menyiapkan perlengkapannya. Secara perlahan kita memperkenalkan kepada mereka konsekuensi jika mengabaikan kewajiban. Pada saat yang sama kita mulai perlu memberi mereka tantangan-tantangan. Bukan membebani.

Kita bisa menggugah mereka untuk memiliki tekad kuat bagi sebuah mimpi di masa yang akan datang. Misalnya, kita gugah anak-anak itu untuk berkeinginan kuat memberikan harta yang bermanfaat bagi yang memerlukan. Katakanlah sepatu untuk orang miskin, atau sebuah ensiklopedi yang perlu mereka beli atau keperluan mereka sendiri yang berharga. Kita beri mereka dorongan. Pada saat yang sama kita pacu mereka untuk bisa mewujudkan tekad itu dengan kemampuannya sendiri.

Melalui tantangan yang datang secara bertahap itu, anak-anak akan belajar memecahkan kesulitan. Sesungguhnya Allah Ta’ala letakkan kemudahan itu menyertai kesulitan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

”Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6).

Muhammad Sulaiman ’Abdullah al-Asyqar menerangkan dalam tafsirnya yang bertajuk Zubdatut Tafsiir Min Fathil Qadiir bahwa maksud ayat ini ialah, sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan lain. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu dengan status marfu’ menerangkan, ”Seandainya kesulitan itu berada di dalam batu, niscaya ia akan diikuti oleh kemudahan sehingga ia masuk ke dalamnya kemudian mengeluarkannya dari batu tersebut. Suatu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan. Sesungguhnya Allah berfirman: ”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Banyak hal. Selain keharusan untuk senantiasa optimis tatkala menghadapi kesulitan, kita juga perlu merenungkan kembali apa yang telah kita berikan kepada anak-anak kita. Apakah kita menyiapkan anak kita untuk menjadi pribadi yang kuat ataukah kita justru sedang mempersulit hidupnya dengan membiasakan hidup mudah?

Sungguh, membiasakan anak hidup mudah dapat melemahkan mereka dalam keterampilan hidup, berpikir, dan bersikap. Bahkan bukan tidak mungkin dapat menyebabkan mereka lemah iman. Na’udzubillahi min dzaalik.

Didik Mereka Menjadi Pemberani (by M Fauzil Adhim)

Copas dari Tulisan Mohammad Fauzil Adhim.

Hari ini, kita menanti lahirnya para pemberani. Tak keluh lidahnya bicara kebenaran. Tak kuyuh langkahnya melihat kesulitan yang menghadang. Mereka menjadi pemberani bukan karena kuat berkelahi. Tetapi anak-anak itu tumbuh menjadi sosok pemberani karena himmahnya (hasrat terbesarnya) akhirat, pegangannya syari’at dan aqidahnya kuat melekat dalam diri. Mereka berani bukan karena dirinya kuat, tetapi karena adanya kendali kuat atas syahwatnya terhadap dunia. Mereka menjadi pemberani karena dirinya ditempa untuk tidak terbiasa dengan tana’um (bernikmat-nikmat).

Tetapi bagaimana mungkin mereka akan mampu menjauh dari tana’um jika mereka tak mampu mentasharrufkan harta dengan benar? Bagaimana mungkin kita dapat mendidik generasi yang tak sibuk berbangga dengan dunia jika mereka tidak dilatih menahan diri?

Hari ini, kita menunggu munculnya generasi yang kepala mereka tegak tatkala berhadapan dengan manusia. Kita menunggu lahirnya generasi yang tak merasa rendah karena berjumpa dengan manusia yang bernampilan wah. Mereka tak menyibukkan diri memuji manusia berdasarkan benda-benda yang dipunyai. Mereka tidak memuliakan, tidak pula merendahkan manusia lainnya karena rupawan tidaknya wajah. Tetapi mereka menilai manusia karena sikap, perjuangan, akhlak dan kesungguhannya berbenah.

Seseorang dapat memiliki keberanian karena merasa dirinya kuat. Keberanian juga dapat tumbuh karena keinginan untuk menjadi sosok yang membanggakan di hadapan manusia lainnya. Tetapi keberanian semacam ini, selain tak bernilai di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, juga mudah runtuh manakala mereka dihadapkan pada kesulitan serta tiadanya kenikmatan hidup. Sebagaimana manusia dapat bersemangat melakukan perang karena mengharapkan gemerlapnya dunia, sedangkan kematian dianggap sebagai akhir perjalanan. Tak ada kehidupan sesudahnya. Orang-orang semacam ini dapat menjadi pemberani. Tetapi keberanian mereka akan mudah surut jika dihadapkan pada kesengsaraan. Sangat berbeda dengan keberanian pada mujahid yang justru melihat akhirat sebagai kehidupan terbaik, sementara kematian merupakan gerbang yang membentangkan jalan untuk mencapai kenikmatan tertinggi di sisi Allah.

Banyak hal yang memerlukan keberanian agar dapat menjalankan agama dengan sempurna. Ada keberanian menghadapi ancaman, ada keberanian menghadapi kesulitan yang mungkin menghadang, dan ada pula keberanian yang terkait kesiapan untuk berpayah-payah demi meraih kemuliaan di sisi-Nya. Keberanian menghadapi kesulitan yang mungkin terjadi adakalanya terkait apa yang akan segera dilakukannya, semisal membawakan acara di hadapan banyak orang, dan ini merupakan kesulitan yang ringan. Adapula keberanian menghadapi kesulitan yang mungkin terjadi terkait dengan hal-hal jauh di masa akan datang, dan ini memerlukan keyakinan tentang dekatnya pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun keberanian untuk berpayah-payah demi meraih kemuliaan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla memerlukan kemampuan menahan diri. Tidak akan mampu seseorang menempuh jalan sulit semata karena ingin meraih ridha Allah Ta’ala kecuali jika ia memiliki harga diri (‘izzah) yang kuat sebagai seorang muslim. Dan tidak akan tumbuh ‘izzah yang kokoh kecuali ada penjagaan diri (‘iffah) yang kuat. Dan ini memerlukan latihan panjang.

Tatkala anak dibesarkan di rumah, anak-anak memperoleh penguatan dari orangtua, saudara dan anggota keluarga lainnya. Tetapi ketika anak tumbuh di sekolah berasrama, maka harus ada kebijakan pendidikan yang sengaja mengawal anak-anak agar belajar mengendalikan diri dan menjauhi tana’um. Sekolah dapat membatasi jumlah uang saku anak setiap harinya, tetapi pembatasan saja tidak cukup. Harus ada pendidikan ruhani (tarbiyah ruhiyyah) dari pengasuh asrama dan pendidik di sekolah. Harus pula ditumbuhkan suasana penghormatan terhadap sikap terpuji, kegigihan berusaha, integritas, semangat membantu orang lain, kesabaran dan keimanan. Tanpa itu semua, keberanian yang sesungguhnya serta kendali diri hanya menjadi pengetahuan yang dengan lancar dapat dituangkan penjelasannya saat ujian, tetapi amat jauh dari penghayatan.

Mari kita ingat sejenak nasehat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Abu ‘Awanah, Al-Baihaqi, Ahmad, Abu Ya’la dan Ibnul Ja’d, “Jauhilah orang kalian hanyut dalam kemewahan dan senang berhias dengan mode orang asing, bersikaplah dewasa dan berpakaianlah secara sederhana (tidak mewah).”

Berpakaian sederhana merupakan hal yang biasa jika anak hidup di lingkungan yang membiasakan mereka seperti itu. Kebiasaan ini sangat bermanfaat untuk menjaga orientasi belajar anak sehingga dapat menghadapkan dirinya secara lebih serius dalam menuntut ilmu. Tetapi jika kebiasaan ini hanya berhenti sebatas pembiasaan melalui pengendalian lingkungan (asrama), maka ia akan mudah memudar begitu anak berpindah ke lingkungan lain. Bahkan tak sekedar memudar, ia justru dapat berbalik total dari sederhana menjadi gemar bermewa-mewah. Maka, pembiasaan itu harus didahului dan sekaligus disertai penanaman nilai yang tak putus-putus sehingga anak melakukannya dengan perasaan positif. Anak melakukannya, menghayatinya dan menjadi bagian dari keyakinannya.

Sebaliknya, sangat berat bagi anak untuk hidup sederhana jika teman-teman di sekelilingnya, baik di sekolah maupun asrama hidup dalam suasana memuliakan penampilan, kemewahan dan kepemilikan. Hidup sederhana berarti menjadi orang asing di tengah-tengah sekumpulan orang yang sangat berbeda. Ini merupakan tantangan yang sangat berat, lebih-lebih jika anak sendiri belum memiliki keinginan untuk menyederhanakan makan dan pakaian. Padahal umumnya anak usia remaja memang belum memiliki keinginan untuk sederhana dalam makan dan pakaian. Jika suasana yang tumbuh di sekolah dan asrama adalah semangat menutup aurat, maka ringan bagi anak untuk mengenakan pakaian apa pun yang dapat menutup aurat secara sempurna. Tapi jika suasana yang tumbuh adalah penampilan, sangat mungkin terjadi anak merasa malu jika tidak menggunakan jilbab merek tertentu.

Mari kita renungkan sejenak atsar dari Amirul Mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Saya lebih senang melihat pembaca Al-Qur’an itu berpakaian putih.”

Nah.

Jika anak tidak tersibukkan hatinya dari berbangga-bangga terhadap pakaian dan penampilan, maka akan lebih mudah bagi mereka memenuhi hatinya dengan hasrat terhadap ‘ilmu dan akhirat. Lebih ringan langkahnya untuk menghadap hati kepada ilmu. Bukan sekedar berkonsentrasi memusatkan perhatian anak saat belajar.

Tentu saja, mereka harus tetap menjaga muru’ah (kehormatan) sehingga tidak merendahkan martabat mereka maupun kehormatan agama ini. Dan panduan untuk menjaga muru’ah itu adalah agama ini. Sedangkan guru dan pengasuh asrama merupakan penjaganya. Merekalah yang bertugas menegakkan nilai, termasuk penghormatan terhadap nilai-nilai tersebut.

Kelak, jika sekiranya Allah Ta’ala mudahkan rezeki mereka dan melimpahi mereka dengan perbendaharaan dunia, semoga akan ringan hati mereka untuk menolong agama ini dengan harta dan jiwa mereka. Adapun jika mereka mengambil kenikmatan dunia dari harta yang telah Allah Ta’ala berikan kepada mereka, baik berupa makanan, pakaian, kendaraan atau pun selain itu yang halal dan thayib, maka yang demikian ini semoga senantiasa tak bergeser dari kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman:

وابتغ فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن الله إليك ولا تبغ الفساد في الأرض إن الله لا يحب المفسدين

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash, 28: 77).

Kendali Diri Bekal Berani

‘Alaa kulli haal, sederhana dalam berpakaian hanyalah sebagian dari apa yang dapat kita lakukan untuk mendidik anak agar mampu menjauhkan diri dari tana’um. Awalnya melatih dan mendidik mereka untuk mampu membelanjakan harta secara bertanggung-jawab sesuai tuntunan syari’at. Bersamaan dengan itu anak belajar mengendalikan diri. Bukan menuruti keinginan. Sungguh, cukuplah orangtua dianggap menyengsarakan anak apabila mereka membiasakan anak hidup mudah.

Ini merupakan bagian dari adab sebagai murid yang perlu ditumbuhkan dan ditegakkan. Semoga tegaknya adab dapat membentuk kemampuan mengendalikan diri dari menuruti segala keinginan, meskipun Allah Ta’ala kuasakan kemampuan untuk memenuhinya. Semoga bagusnya kendali diri dapat menjadi salah satu bekal berharga untuk mendidik mereka menjadi pemberani.

Selanjutnya, kita perlu mendidik mereka dengan komitmen terhadap agama serta keinginan untuk memperjuangkannya. Begitu.

Cepat Atau Lambat…

Mingu ini adalah minggu yang sangat menyenangkan karena aku ‘dipaksa’ menghabiskan sisa cutiku di 2012 selama 3 hari, begitupula dengan isteriku yang memang satu kantor denganku. dengan ditambah hari sabtu dan minggu dan hari raya nyepi total jenderal bisa libur 6 hari 😀

Waktu libur ini bener bener kumanfaatkan untuk keluarga, beragam agenda sudah disiapkan dan dilaksanakan. Mulai berenang, belanja, keluar kota, beli buku, njagong manten, sampai totok syaraf (halah). Namun ada pula selama seharian kami di rumah saja karena menunggu petugas telkom datang dan menunggu hujan reda. Terasa sekali waktu berjalan sangat lambat di rumah. Masa seh pukul 10 pagi sudah selesai beberes, sarapan, mandi, mainan petak umpet sama hafiy, nonton VCD anak muslim (syamil & dodo), naik kereta kelinci yang lewat depan rumah, dan keruntelan bertiga lagi di kasur sampai ngantuk lagi. Biasanya kalau dikantor, menuju jam 10 itu rasanya cepat sekali. Tau tau nanti Adzhan Dzuhur, isoma, balik kerja lagi eh udah Adzhan Ashar, gak nunggu lama sudah jam 4 sore waktunya pulang. Ada 3 Rapat saja dalam sehari sudah cukup bikin waktu kerja habis dan bawa kerjaan kerumah (bawa aja ngerjainnya besok). Ternyata waktu kerja yang kurasa cepat itu sebenarnya waktu penantian yang sangat lambat buat Hafiy, penantian menunggu mama papanya pulang kantor.  Pernah suatu hari si Bibi laporan kalao adek hafiy nangis waktu lihat foto papa mamanya. So mungkin inilah jawaban atas pertanyaanku mengapa koq sekarang waktu terasa berjalan begitu cepat tak seperti dulu ? Wallahu a’lam

Kultwit Ustadz Salim A Fillah tentang #Keluarga

Satu Tahun sudah usia pernikahan kami, dan saat saat yang paling indah untuk dikenang adalah saat akad nikah terutama khotbah, karena pada saat saat itu saya dan isteri seperti diingatkan kembali mengenai tanggung jawab seorang suami dan isteri.

Pada kesempatan kali ini ijinkan saya mengutip kembali kultwit (kuliah lewat twitter) mengenai keluarga yang pernah di posting oleh Akhina Shalih Arif Nursalim a.k.a Ustadz Salim A Fillah. Insya Allah Kultwit ini bisa menjadi pengingat diri saya sendiri dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

  1. Selalu ada waktu yang harus terluang untuk keluarga; yang tentang mereka Allah akan pertanyakan kepemimpinan & bimbingan kita.
  2. Seruan mula pada Sang Nabi; “Dan beri ingatlah keluargamu yang terdekat!” (QS 26: 214), maka hikmah & nasehat adalah hak mereka.
  3. Allah katakan “Jagalah dirimu & keluargamu dari api neraka!” (QS 66: 6), maka dihajatkan kebersamaan penuh makna & keteladanan.
  4. Anak & isteri adalah kesenangan hidup di dunia. Maka tugas kita adalah mengupayakan agar kelak berkumpul jua, bahagia di surga.
  5. Anak & isteri adalah titipanNya, maka kita harus menjaga, agar kelak saat dikembalikan, mereka sesuai keadaan awalnya: fithrah.
  6. Isteri & anak adalah karuniaNya. Sudahkah tertunjukkan rasa syukur atas kehadiran mereka; di lembutnya kata & syahdunya mesra?
  7. Isteri & anak: fitnah & ujian. Dalam membersamai & menyenangkan; bergulatlah hasrat dengan keterbatasan; lalu diujilah ketaatan.
  8. Bahagialah suami & ayah; yang memastikan tiap suapan ke mulut isteri-anak & segala yang dikenakan, halal-thayyib tak meragukan.
  9. Bahagialah suami & ayah; membimbing isteri & anak mengulang hafalan, tadabburi Quran, mengisah penuh cinta sirah Nabi & sahabat.
  10. Berbahagialah; suami & ayah yang khusyu’ menangis mendoakan keselamatan, keberkahan, serta kebaikan anak-isteri & keturunannya.
  11. Bahagialah suami & ayah; mengecup dengan doa perlindungan & cinta saat isteri-anaknya lelap tidur, jua saat berpamit bepergian.
  12. Berbahagialah suami & ayah; syukur & takjubi kemajuan isteri & anak dalam berkebaikan, lalu ada peluk, doa, & hadiah sederhana.
  13. Bahagialah suami & ayah yang jadi kebanggaan anak-isteri; tapi tak menumpulkan pengembangan diri mereka dalam hidup berbakti.
  14. Tanggungjawab suami & ayah demikian agung; seakan saat isteri dinikahi & anak dilahirkan, mereka bersabda: Bawa kami ke surga!
  15. Bahwa ada kisah Nuh dengan isteri & anak nan durhaka, itu penyadar bahwa suami & ayah tiada punya kuasa atas jiwa nan dicinta.
  16. Bahwa hidayah bukan hak ayah & suami, hattapun dia seorang Nabi. Yang kita pertanggungjawabkan ikhtiyar kita, bukan hasilnya.
  17. Tapi naiflah ayah & suami yang berlindung di balik nama agung Nuh & Luth, tanpa upaya meluangkan saat berharga untuk keluarga.
  18. Pun para isteri; agunglah mereka dalam juangnya untuk menjadi apa yang ditaujihkan Al Quran; Shalihat, Qanitat, Hafizhat.
  19. Bagi suami; mereka penggenap separuh agama, penjaga ketaatan, tempat berlari dari yang haram & keji menuju yang berkah & suci.
  20. Maka para isteri itu tahu; untuk siapa mereka berdandan & mempercantik diri; tersenyum & penuh pemuliaan menyambut kepulangan.
  21. Pada cium tangan takzim & mungkin airmata, bisik mereka mesra, “Suamiku; kami lebih sabar tuk lapar daripada ‘adzab nan besar!”