Keseruan Kemping  Sasi Desember (Kesamber) Balkondes Wringinputih Magelang 

Perkemahan Balkondes Wringinputih

Kemah Sasi Desember (Kesamber) ini adalah kemah pertama saya setelah kemah pramuka saya di masa SMA.

Ada beberapa hal yang membuat saya tergerak untuk mengikuti kemah ini :

  1. Kemah ini bertema be with you familiy, dari temanya saja sudah menarik bagi saya. Kemah ini memang didesain untuk memperkuat bonding antara orangtua dan anak. Cocok, saya ingin memberikan pengalaman yang berbeda untuk anak-anak saya serta menanamkan nilai nilai positif sepanjang perjalanan.
  2. Kemah ini diadakan di Magelang di kecamatan Borobudur, dekat Bukit Menoreh. Bisa jalan-jalan ke Jawa Tengah adalah sesuatu hal yang menarik bagi saya, apalagi leluhur saya semua asal Jawa Tengah mulai dari Semarang, Solo, Sragen termasuk Ayah dulu sekolah di Magelang.

Akhirnya Jum’at pagi tanggal 15 Desember 2017 saya berangkat bersama Hafiy seorang menuju Jogja. Karena mamanya ada agenda lain bersama Alin (ngambil raport dan lomba dekorasi masakan). Cerita mengenai sehari Jogja ada di posting tersendiri (kalau saya tidak malas).

NgeGrabcar

So…saya akan langsung melompat pada perjalanan dari Jogja ke Magelang pada hari Sabtu 16 Desember 2017. Pagi itu kami (Saya dan Hafiy) berangkat menggunakan Grab setelah ditolak berkali-kali oleh Gocar. Maklum tujuan kemah kami adalah Balkondes Wringinputih Kecamatan Borobudur Magelang sehingga Gocarpun keder duluan walau dapat ongkos 135 ribu. Syukurlah Sopir Grab yang mau mengantarkan kami, tempat tinggalnya juga di Magelang .. mungkin inilah yang namanya Jodoh ^_^

Berangkat jam 9 pagi, kami sudah tiba di Balkondes sekitar pukul 11 siang. Sampai disana kami masih berleha-leha dulu sambil ngobrol ngobrol ringan dengan Mas Setiaji.

2 orang ini lagi ngapain seh

Obrolan kami berputar pada hal perjalanan hidup, parenting, keluarga, pilihan karir, sistem pendidikan sampai seputar vibrasi.

Beberapa hal yang saya dapatkan dari diskusi dengan Mas Aji adalah bahwa anak sedari kecil dibiasakan untuk belajar dan  melakukan aktifitas yang disukainya. Orangtua hanya bertugas untuk mendampingi dan memberikan sebanyak mungkin alternatif pada anak. Jika anak sudah terbiasa gembira melakukan apa yag disukai sejak kecil maka anak akan terlatih untuk mengakses vibrasi power sehingga akan mudah hidupnya akan banyak menemui kebetulan kebetulan yang mempermudah hidupnya kelak.

Kemudian terkait sistem pendidikan, beliau sekeluarga menerapkan sistem home scholing meski tidak menyarankan kepada orang lain untuk mengikuti hal yang sama. Sarannya kepada saya adalah, meski anak bersekolah di sekolah formal, namun berilah perhatian pada hal-hal yang disukainya. Misalnya anak lebih suka menggambar sedangkan nilai matematikanya jelek, maka anak sebaiknya di leskan nggambar untuk memaksimalkan kemampuannya. Sedangkan matematika yang penting anak bisa lulus saja sudah bagus.

Hal lain yang membuat saya terkesan adalah perhatiannya pada olah roso, fisik tetap bekerja namun berasa santai mengalir yang membawanya pada kehidupan yang lebih baik daripada saat terpisah 3 kota dengan istri dan anak untuk mencari nafkah.

Acara dimulai dengan makan siang bersama dengan menu ala rumahan yaitu sayur bayam, tahu tempe dan ayam goreng seta sambal yang menggoyang lidah.

Setelah makan siang dan seluruh 22 keluarga peserta Kesamber datang maka dimulailah acara perkenalan dilanjut dengan acara membuat eco printing dan membatik. Kursus eco printing ini kalau diluar bisa sampai 2 jutaan lho, namun disini sudah include all in biaya kemah yang hanya 350 ribuan (murah bukan).

Eco Print

Eco print sendiri konsepnya hampir mirip dengan membatik di atas kain, hanya saja menggunakan media dedaunan untuk menggoreskan motif di atas kain. Kain yang digunakan paling bagus adalah kain sutra atau kain katun yang sudah direndam terlebih dahulu dengan air bergaram selama 1 jam. Saat akan digunakan, kain ini diperas lalu di hamparkan di lantai yang sudah diberi alas. Lalu kain tersebut dibagi menjadi dua dengan melipat secara vertikal sehingga terbentuk dua area (kiri dan kanan) yang sama besar. Lalu pada bagian kanan kain, disusunlah dedaunan yang berasal dari daun jati, daun jambu dan daun kerson. Indah atau tidaknya hasil akhir eco print tergantung kemampuan dalam menyusun dedaunan di atas kain ini. Setelah daun tersusun, kain dilipat secara vertikal. Lalu mulailah aksi memukul ruas punggung dedaunan dengan ulekan atau palu sehingga mengeluarkan cairan alami berwarna hijau, kuning, merah. setelah itu kain digulung dan didiamkan selama semalam untuk keesokan harinya ketika kain sudah kering dan membentuk motif yang indah.

Pada sesi ini saya mencoba eco print tersebut sedangkan hafiy lebih memilih untuk membatik.

Di sela-sela acara ada pengumpulan snack potluck yang seluruhnya adalah jajanan di masa kecil ala tahun ’90an seperti krip-krip, coki-coki, permen davos, permen karet yosan, anak mas, wafer superman yang benar benar membawa kami seperti melalui mesin waktu hahaha.

Jajanan masa kecil

Selesai sesi eco print dan mbatik adalah acara bebas yang digunakan peserta untuk menata barang-barang di tendanya. Sebagian para orangtua bercengkerama sembari menikmati teh hangat manis yang segar, sementara anak-anak sibuk bermain bola dan sebagian bermain drone.

Tak lama hujan pun turun dengan malu-malu membasahi Balkondes. Agak ragu antara mengizinkan anak tetap bermain ditemani hujan atau mengentikannya. Saat itu Mas Aji mengajukan pertanyaan menggelitik “Siapa yang punya keyakinan di masa lalu kalau main hujan-hujanan pasti akan sakit”

Hahaha….saya langsung teringat bahwa kita adalah ide ide dan pikiran pikiran yang ditanamkan di masa lalu. Apabila ide dan pikiran tersebut kita setujui, maka akan menjadi beliefe (keyakinan) yang selanjutnya oleh mekanisme tertentu akan diwujudkan oleh pikiran bawah sadar kita. Termasuk nasihat nenek saya untuk tidak hujan-hujanan karena akan menyebabkan sakit. Oke saya mengijinkan hafiy untuk hujan-hujanan jika dalam kondisi fit karena hujan itu sejatinya membawa barokah. Sayangnya hafiy baru saja sembuh, jadi dengan terpaksa saya amankan dulu hehe…

Setelah mandi sore dan menata matras di tenda, acara dilanjutkan dengan permainan ringan nan mengasyikkan seperti membangun bangunan tertinggi dengan sedotan, kata berkait dan menebak kata belalui gerakan. Ini permainan khas jaman old hahahaha..

Malamnya setelah sholat isya, acara dibagi menjadi dua. Anak-anak mempunyai sesi tersendiri untuk bermain bersama sedangkan orangtua ada sesi tersendiri untuk berbincang-bincang bersama orangtua lain mengenai keluarga.

Pada sesi ini kiami semua diminta untuk saling berhadapan dengan pasangan masing-masing untuk saling beradu pandang selama 5 menit. Untuk “jomblo” seperti saya hanya diminta untuk menatap tangan sendiri. Lalu setelah 5 menit kami diminta untuk bercerita apa yang dirasakan selama 5 tadi. Kebanyakan para peserta merasakan syukur yang luar biasa.

Setelah itu dimulailah sharing dari Mas Aji mengenai vibrasi dan kehidupan dengan corak warna pembahasan yang khas. Tentang Vibrasi ini nanti juga akan saya tulis terpisah agar lebih enak dibaca. Bukankah Nasi Soto juga akan terasa lebih nikmat jika disajikan terpisah.

Ada momen yang membuat saya terkesan malam itu. Hafiy sempat ga mau makan karena nyari bayem, lha bayemnya kan menu saat makan siang. Saya sampe kehabisan ide, mau tak kasih makan apa anak ini. Pas mau ambil piring, saya melihat ada bungkus kresek berisi abon merek nyonya siok di tas ransel saya, mungkin mamanya yang masukin tas. Karena mamanya memang biasa nyetok untuk dijual.

Saya langsung nyambung dengan cerita Mas Setiaji bahwa kadang ortu itu ada tapi seperti gak ada. Saya malu sekaligus terharu. Malu karena teringat sebagai ayah sering bawa kerjaan ke rumah sehingga kurang fokus dan perhatian sama anak. Terharu karena seorang ibu akan selalu ada untuk anaknya meski terpisah jarak. Kehadiran Abon ini membuat hafiy merasa mamanya ada didekatnya.

Acara berikutnya dilanjutkan dengan Api Unggun serta ungkapanm terima kasih untuk panitia yang paling banyak perannya yaitu Mas Gepy dan Mbak Puyi yang memang satu-satunya panitia yang berdomisili di Magelang.

Bahkan Backdrop Kesamber Legendaris yang berukuran 12 x 4 meter itu adalah buah karya mereka. Terimakasih untuk Mas Gepy dan Mbak Puyi yang luar biasa.

Backdrop Legendaris

Selesai…? belum, the night still young in Balkondes Wringinputih. Acara dilanjut bakar-bakar jagung, bakar sosis dan bakar ayam ^_^ Hafiy sendiri habis 2 jagung bakar yang pada akhirnya membantu regenerasi gigi susunya 4 hari kemudian hahaha….

Waktu sudah menunjukkan pukul 24.00 yang artinya sudah waktunya untuk istirahat. Hafiy meminta untuk tidur di tenda dan jika dia sudah terlelap dia minta untuk digendong ke kamar. Di balkondes selain memesan tenda, saya juga memesan kamar untuk jaga-jaga jika turun hujan. Sejak dari Surabaya, saya sudah diwanti-wanti mamanya hafiy untuk menyiapkan kamar untuk jaga-jaga.

Praktiknya, karena saya juga lelah, kamipun tidur di tenda sampai dibangunkan hafiy pada pukul 4 pagi. Hafiy minta untuk pindah ke kamar wkkkkk….(akhirnya ga kuat juga dia). Baiklah ayo mulai tidur dengan serius hahaha…

Penginapan Balkondes Wringinputih

Acara minggu pagi dimulai dengan penjelajahan ke desa di sekitaran Balkondes. Kami semua ke-22 keluarga benar-benar menikmati the best momen tersebut. Menyusuri jalanan setapak yang berbalut rumput dengan bertelanjang kaki, menghirup segarnya udara pagi, menikmati hangatnya sinar mentari yang mengintip dari sela-sela pohon dan menikmati teduh dan rindangnya pepohonan hijau featuring semak-semak, rumput serta rimbunnya pohon bambu yang bergoyang goyang tertiup lembutnya angin. Sungguh suasana pagi yang syahdu.

Beberapa tempat kami lalui dalam petualangan pagi tersebut yaitu peternakan kambing, peternakan sapi dan tentu saja yang paling berkesan adalah Pasar Papringan.

Soto Batok Pasar Papringan
Pasar Papringan

Pasar papringan ini hanya ada di hari minggu legi, itu berarti secara kebetulan kami berada di momen yang hanya akan terjadi 35 hari sekali. Kebetulan yang hebat bukan.

Pasar papringan letaknya agak tersenbunyi dibalik pepohonan bambu yang tinggi menjulang dan teduh. Pasar ini menjual makanan dan jajanan khas desa yang NGUANGENIN PUOLLL …. Mulai dari Soto ala jawa tengahan dengan kuah bening yang disajikan dengan mangkuk yang terbuat dari batok kelapa dan sendok bebek dari kayu. Semangkuknya bikin shock, hanya Rp 5ribu sodara-sodara, lalu ada Dawet Uayu yang masinya pas sekali, hanya Rp 2ribu (Gubrakkk). Kemudian ada beraneka jajan pasar mulai klepon, gethuk, tiwul, jemblem, kroket, mendoan, wajik dan sebagainya. Sumpahh punya uang Rp 50ribu sudah menjadi manusia terkaya pada saat itu hahaha…

Di Pasar papringan itulah kami mengabadikan momen dibantu oleh tim photograpernya Mas Gepy dari Photoworks Magelang yang hasilnya bisa dilihat dibawah ini (awas mengandung iklan hahaha)

Inspirasi yang saya dapatkan dari mas Gepy bahwa Foto itu adalah Investasi yang tak ternilai pada 10-15 tahun kedepan. Bayangkan disuatu sore anda melihat kembali foto-foto kenangan yag sudah anda afdruk cetak pada sebuah album foto sembari menikmati teh hangat…wuihhhh luar biasa banget rasanya bukan ? dibandingkan penyesalan saat foto foto anda lenyap karena smartphone anda hilang atau rusak.

Setelah sesi petualangan pagi, kami semua mandi merapikan tenda untuk selanjutnya mengikuti acara pesta kostum film kartun minggu pagi tahun ’90an.

Pesta kostum ini  sangat seru, ada yang berkostum Doraeomon, X-Man, Spiderman, Power Ranger mode manusia alias casual. Saya sendiri yang berkostum ala detective conan yang cukup mudah. Hanya menggunakan jas almamater biru Unair dan dasi kupu-kupu merah buatan sendiri.

Setelah itu acara dilanjut dengan memahat batu. Batu yang dipahat itu nantinya akan dihaluskan dengan mesin sehingga produk akhirnya menjadi cobek ulekan sambel. Pada saat memahat ini saya teringat sebuah pepatah

Belajar dimasa kecil ibarat memahat di atas batu (eh mengukir ya, biarin deh wkkk  :D). Sedangkan Belajar dimasa dewasa ibarat memahat di atas pasir

Kenyatanya saat saya memahat batu tersebut saya cukup kesulitan, namun setelah mengamati cara memahat yang dilakukan oleh pengajar di balkondes saya jadi memahami bagaimana caranya.

Aha … mungkin meskipun belajar di saat dewasa seperti mengukir di atas pasir, tetapi tingat pemahaman yang diperoleh saya rasa akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemahaman di masa kecil. So buat yang baru belajar apapun hal yang baru dimasa dewasa, never give up ya ^_^

Kemudian acara ditutup dengan menyanyikan lagu lagu kartun di minggu pagi seperti Doraemon. Akhirnya semoga ada kesempatan untuk ikut di kemah berikutnya.

Iklan

Makassar : The Untold Story

Rejeki dari Allah memang datang dari arah yang tidak di duga. Pada saat pelatihan 5S di Jogja, aku mendapatkan kabar bahwa senin tanggal 26 Maret 2012 aku harus berangkat Dinas Luar ke Makassar. Kabar ini tentu membuatku senang karena seumur hidup aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kotanya Jusuf Kalla tersebut. Dinas luar kali ini, aku gak terlalu berharap untuk bisa mengunjungi tempat -tempat wisata di Makassar. Karena sepanjang pagi hingga petang aktivitas pasti akan dilakukan di kantor wilayah. Target minimal adalah berpose di landmark kota Makassar sekaligus membeli oleh-oleh khas Makassar. Dinas kali ini berlangsung selama 5 hari kerja dengan rincian Senin sampai Rabu di Makassar, dilanjutkan Kamis Jum’at di Parepare.

Hari pertama semua berjalan lancar. di sela sela waktu aku berusaha menghubungi temanku Catur yang sudah lama tinggal di Makasar. Untungnya malam harinya dia sedang tidak ada acara sehingga setelah acara hari pertama selesai pukul 17.30 WITA, aku diajak catur main ke kantornya. Sambil menunggunya selesai merapikan beberapa pekerjaannya, aku disuguhi Game Pro Evolution Soccer di bagian IT kantornya melawan teman-temannya dan tak lama catur pun ikut bergabung untuk menjajal kemampuanku yang berujung pada kekalahanku 😀 (kusengaja biar mereka senang)

Selesai 2 pertandingan, Catur langsung mengantarku mencari penginapan murah di dekat area kantor wilayah. Sebenarnya dia menawarkan diri untuk menginap di rumahnya, namun kutolak dengan halus karena tidak ingin merepotkannya apalagi dia sudah berkeluarga. Lagipula aku kan sudah ‘disangoni’ perusahaan untuk menginap di hotel. Akhirnya penginapan yang didapat adalah Hotel Todopuli Mas dengan rate 160 rb/hari. Cukup murah walaupun tak semurah Hotel di kawasan Sosrowijayan Jogja, yang saking murahnya aku sempat mengira kalau tidur disana tidak berbaring tetapi sambil berdiri. Setelah selesai mandi dan sholat, catur menjemputku dari hotel untuk mengajak jalan jalan keliling kota daeng ini dengan menggunakan Honda Vario-nya.

Sepanjang perjalanan yang kuamati, penampakan Kota Makassar tidaklah jauh berbeda dengan kota Surabaya atau kota kota lain. Itu semua gara gara tumbuh suburnya Indomaret, Alfamaret, Carrefour, J.co, Lottemart, dll. Jika ada yang berbeda adalah ramainya jalan jalan utama oleh aksi demo mahasiswa, kendaraan umumnya yang bernama pete-pete (sejenis Lyn di surabaya) yang full musik ajeb-ajeb, kemudian ada juga Becak Motor (karena gak pakai ngengkol). Oh iya karena saat itu kami sudah sangat lapar, maka kami langsung menuju ke tempat kuliner khas Makassar yaitu Pallu Basa Serigala. Pallu itu artinya makanan berkuah, jadi makanan yang mengandung kata pallu seperti pallu mara, pallu butung pastilah berkuah. Serigala maksudnya terletak di Jalan Serigala. Secara ringkas pallu basa adalah makan berkuah panas dan bersantan yang berisi parutan kelapa sangrai dengan isi daging dan jeroan sapi. Rasanya nendang banget. Just info, kita akan ditawari apakah pallu basa yang kita pesan dikasih alas atau tidak. Alas yang dimaksud adalah berupa telur mentah yang dituangkan di atas racikan pallu basa tanpa kuah, kemudian setelah diberi alas baru kemudian disiram kuah yang mendidih sehingga telurnya menjadi setengah matang. saran teman saya yang orang jawa lebih baik tidak. tetapi orang makassar asli lebih suka pakai alas, lebih mantap kata mereka. Apalagi bagi yang mau malam jum’atan dengan isterinya 😀

Lokasi Palbas SerigalaPalbas tanpa alas

Selesai makan, Catur mengajakku keliling di daerah Pantai Losari. Jalanan disekitar pantai Losari menuju kompleks Trans Studio cukup lebar mengingatkanku pada jalanan di daerah Galaxi Surabaya. Jalanan yang lebar dan bagus itu sejajar dengan pantai, kurang lebih mirip Kuta hanya terasa jauh lebih lenggang. Semilir angin yang menerpa wajah semakin membuat suasana malam itu terasa menyenangkan. Ah andai saja yang kubonceng adalah isteriku

Sepanjang jalan itu kami berhenti di titik titik yang menurut kami bagus untuk foto foto, apalagi aku sudah siap dengan kamera Canon SLR rekan kerjaku (mbak luluk) yang ketinggalan hehe… sayangnya ketika hendak memotret aku baru meyadari kalo baterenya nggak ada 😦 jadilah kami memakai kamera seadanya plus pencahayan yang kurang menjadikan hasil foto benar benar sempurna… jeleknya.

Selesai berfoto-foto, kami segera menuju ke pisang Epe. Pisang yang dibakar kemudian diberi taburan Keju, Coklat, dan susu. sebegai pelengkap Pisang Epe tersaji Sarabbai, minuman yang hampir satu genre dengan Bandrex. Pisang Epe ini banyak dijual di depan Pantai Losari. Bahkan bisa kubilang semua rombong (gerobak) menjual pisang epe. Aku menyadarinya ketika mencoba mencari dengan penuh harap diantara rombong-rombong itu ada yang menjual nasi goreng, bakso atau tahu tek. Sayangnya hasilnya nihil karena semua menjual pisang epe. Jadi kalau ada diantara teman-teman yang nanti dipindah tugas ke makassar, janganlah bersedih. Justru itu adalah peluang untuk membuka rombong bakso, nasi goreng, tahu tek, wedang ronde ataupun kopi joss di pantai losari.

Pisang Epe Coklat Keju + Sarabbai

Hari kedua, tidak terlalu banyak yang bisa diceritakan karena baru selesai pukul 18.00 Wita dan rekan satu tim memintaku untuk menginap di hotel yang sama untuk melakukan koordinasi terkait dengan pekerjaan. Oh iya hampir lupa, hotel tempat aku menginap pada malam kedua ini sangat recommended bagi yang ingin ke makassar. Nama Hotelnya adalah Malibu.

Hotelnya cukup mewah (bagiku) Tarif kamar standard sebenarnya Rp 350.000 / hari termasuk sarapan. Untungnya karena menggunakan tarif korporat aku hanya perlu membayar sebesar Rp 275.000. Nah jika sekamar dipakai oleh 2 orang tentu hanya 137.500 per orang semalam. Berikut foto kamarnya

Pada malam kedua ini aku sudah tidak bebas lagi untuk keluyuran sendiri, otomatis makan malam pun barengan dengan tim. Nah menu makan malam ini adalah Sop Saudara. Pertama denger namanya sudah bikin merinding, bayangkan saudara saja bisa di Sop apalagi teman.

Hari rabu sore pukul 17.00 Wita Kami sudah harus bertolak menuju kota parepare. cerita tentang Parepare ini akan kubuat posting tersendiri 😀

Pada Jum’at malam harinya sekitar pukul 20.00 Wita kami sudah kembali ke Kota Makassar setelah menempuh perjalanan darat selama 3 jam, kerena ini malam terakhir maka aku tak terlalu peduli ketika diajak menginap di Losari Beach Hotel. Lokasi hotel tepat di depan Pantai Losari. Memang tempatnya sangat strategis sekali bahkan sangat cocok untuk bulan madu, hanya saja kualitas kamar hotel bertarif 350 ribu / malam ini masih kalah dibandingkan Hotel Malibu.

Tak jauh dari Losari Beach Hotel, kira kira hanya berjalan sejauh 50 meter terdapat pusat souvenir dan oleh-oleh khas Makassar tepatnya di Jalan Somba Opu. Di sepanjang jalan ini semua toko menawarkan oleh-oleh khas Makassar yaitu Kacang Aneka Rasa dan tentu saja Minyak Tawon yang Asli. Sebagai tambahan pengetahuan Minyak Tawon di Makassar ini dijamin keasliannya. Ada dua jenis  Minyak Tawon yaitu Minyak Tawon dengan tutup botol Merah dan tutup botol Putih. Tutup botol putih harganya jauh lebih mahal karena tingkat konsentrat minyaknya lebih tinggi dan ketika dioleskan pada kulit rasanya jauh lebih panas dan tahan lama dibanding dengan tutp botol merah. Untuk kemasan tutup botol putih hanya menyediakan satu jenis kemasan dengan ukuran seperti botol kecap ABC sedangkan tutup botol merah varian ukuran kemasannya lebih beragam mulai dari yang kecil sampai yang besar seperti botol kecap tadi.

Esok harinya sebelum bertolak ke Surabaya, kami menyempatkan untuk mengunjungi Fort Rotterdam yang lagi-lagi tak jauh dari hotel. Fort Rotterdam ini adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Benteng ini berdiri kokoh menjulang kira kira setinggi 5 meter. Konon inilah benteng peninggalan Belanda yang terbaik di Asia. Ada beberapa bangunan yang ada disana. Kami terkagum-kagum pada bangunan tua yang masih tampak awet tersebut. Jika diibaratkan wanita, benteng itu adalah Titik Puspa. Pintunya cukup tinggi dengan jendela kayu berbentuk lancip. Sebagian besar arsitektur lawas bangunan ini masih dipertahankan dan  bisa disaksikan bentuk aslinya. Mungkin bangunan ini dulu dijadikan tempat pacaran antara meneer dan noni belanda, perpaduan yang menawan antara bangunan yang indah dan pantai losari yang eksotis semakin menambah suasana romantis (lagi-lagi andaikan kau di sini isteriku).

Akhirnya mengapa postingan ini berjudul The Untold Story ? Sungguh bukan bermaksud untuk meniru biografinya Pak Moerdiono dan Mbak Poppy Dharsono. Alasannya sederhana, seharusnya postingan ini kutulis pada awal april tetapi entah mengapa sangat sulit sekali untuk dituliskan, bahkan harus menunggu sampai 4 bulan lamanya.

Serunya Dinas Luar di Jogja Bareng Keluarga

Hotel tempat pelatihan sekaligus menginap

15 Maret 2012 telepon di meja kerjaku berbunyi, setelah kuangkat ternyata dari Bu Pudji bagian pelatihan yang mengabarkan bahwa pada hari selasa sampai kamis tanggal 19 s/d 22 Maret 2012 aku harus mewakili bagianku untuk mengikuti pelatihan 5S kaizen di Jogja. Yang lebih mengejutkan ternyata isteriku juga terpilih untuk mewakili bagiannya. Senang sekali mendengarnya, walaupun sempat terbersit dalam hati koq gak dari dulu, waktu jaman masih pengantin baru 😀 (dasar gak bersyukur). Berangkat berdua berarti harus mengajak Hafiy juga. Gak tega rasanya jika harus meninggalkan Hafiy bersama staf kami di surabaya. apalagi ritual sebelum dia tidur adalah meneguk ASI langsung mamanya. Staf dirumah juga aku SPPD-kan pribadi untuk nggendong dan nemenin Hafiy di kamar hotel ketika kami pelatihan nanti.

Singkat cerita kami harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi dinas luar akbar ini.  persiapan itu antara lain :

  1. Tiket PP SUB-JOG. Jika pergi sendiri biasanya aku gak terlalu pusing masalah tiket, cukup ke Bungurasih nyari Patas EKA atau saudara kembarnya MIRA yang full AC dengan tarif biasa, sekarang ini aku harus mencari transportasi yang nyaman buat kami. Pilihan akhirnya jatuh ke Sancaka Air Eksekutif. Sayangnya untuk tiket pulang Sancaka sudah habis karena menjelang long weekend, maka mau nggak mau harus naik Argo Wilis.
  2. Kamar Hotel. Sudah jamak dalam setiap pelatihan, hotel selalu disediakan oleh perusahaan dan satu kamar biasanya di huni 2 orang. Itu berarti kami berdua hanya mendapat fasilitas setengah kamar. Beruntunglah ternyata roommate isteriku (Gana) adalah orang jogja dan dia lebih memilih tidur di rumahnya daripada di Hotel. Jadilah hafiy dan staf bisa tidur di kamar jatah isteriku & Gana. Sedangkan aku sendiri berbagi kamar dengan rekan yang lain. Masalah kamar selesai. Terimakasih Fitria Migana
  3. Keperluan Hafiy. Sebagian besar barang bawaan kami adalah keperluannya Hafiy mulai dari pakaian, pampers, pompa asi medela, botol asi avent, botol kaca, sterilizer, kompor listrik, panci, peralatan MPASI, peralatan mandi termasuk munchkin (bak mandi udara). untungnya hotel menyediakan kulkas di dalam kamar untuk menyimpan ASIP, kalau enggak mungkin kami akan bela belain beli tas yang berfungsi sebagai kulkas.
  4. Fisik. 4 hari di Jogja dengan agenda pelatihan pagi sekaligus membawa bayi tentu akan sangat menguras tenaga apalagi kami juga mengagendakan jalan jalan di Jogja 😀 yah hari minggu kami benar benar menggunakan waktu untuk istirahat di rumah agar hari seninnya bisa berangkat dengan kondisi fresh.

Hari keberangkatan akhirnya tiba, senin pagi pukul 06.30 kami sudah tiba di Stasiun Gubeng. Di sana kami bertemu Gana yang juga berangkat bareng suami dan puterinya Zaara. Ternyata barang bawaan mereka juga tak jauh berbeda seperti kami. Ini adalah pengalaman pertama naik kereta bersama keluarga kecil kami, rasanya sangat menyenangkan. 5 jam perjalanan kami lalui dengan lancar, walaupun terkadang hafiy menangis karena sumpek atau haus.

Untuk menambah keceriaan suasana biasanya aku mengajak isteriku ngobrol hal hal yang gak penting seperti :

“Mama udah berapa kali ke Jogja, pasti ini yang pertama ya ? ” tanyaku

“Wah papa ini ngenyek, aku udah beberapa kali ke jogja. pertama waktu kuliah, kedua sama Ibuk, ketiga acara kantor, keempat waktu nikahannya Nurul di Magelang, Kelima ……… oh iya waktu sama Lani dan Titi nganter nurul pulang ke  Magelang.” Jawabnya.

“Halah yang keempat sama yang kelima itu gak dihitung, lha wong cuma ngeliwati menuju magelang. berarti cuma tiga kali” sambarku

“Lha papa sendiri berapa kali jangan jangan juga sama”

“kalau aku gak keitung, waktu masih sekolah di Pacitan sering banget sepeda motoran ke Jogja bareng cah-cah SMA, jarak tempuh cuma 2 jam lewat pracimantoro-wonosari. setelah kerja juga masih sering ada acara di Jogja.” Jawabku

“Okey kalo gitu kapan pertama kali papa pergi ke Bali dan berapa kali” ? tanya iateriku

“hehehe….pertama kali ya pas udah kerja, selama ini udah 5 kali 😀  *pengakuan. lha mama emang udah berapa kali

“wah berkali-kali pa, SD 3 kali, SMP 2 kali, SMA 1 kali, Kuliah 1 kali, Kerja 1 kali” balasnya

Tiba tiba Gana yang duduk di depan menyahut “kalian ini lho ngobrolnya koq gak penting banget, kalau aku baru sekali pergi ke Bali”

Grrrrrrr :D…..kami gak kuat menahan tawa mendengarnya, katanya obrolan gak penting tapi koq ikut nimbrung. Tiba tiba aku teringat salah seorang rekan kerja yang sangat senior pernah berkata, saya seumur hidup belum pernah ke Jogja

Suaminya Gana juga gak mau ketinggalan, “kalau aku udah gak terhitung berapa kali ke bali. soalnya dinesku kan di NTB, nah  kalau balik dari surabaya pasti transitnya di Bali.”

Gubrakkkkkk…..ternyata satu orang lagi terseret ke dalam obrolan gak penting kami 😀

Tiba di stasiun jogja aku langsung menghubungi Taxi Jas di 373737, sayangnya karena tidak ada armada terpaksa aku menerima tawaran carteran menuju Hotel di Prawirotaman.Sampai di hotel Hafiy rupanya sangat senang, dia langsung mempertontonkan aksinya di atas tempat tidur.

Beraksi di Kasur Hotel

Sore harinya kami menikmati jogja dengan jalan jalan di sekitar Alkid (Alun Alun Kidul) Jogja. Suasana sore Alkid saat itu begitu cerah tidak mendung, anginpun bertiup lembut seolah mengucap lirih ‘selamat datang di jogja’ di sekeliling Alkid banyak sekali penjual jajanan yang ramah ramah mulai dari ronde, angsle, jagung bakar, cimol, Leker, dll. Kami pun mencoba leker pisang keju yang maknyus dan cimol yang top markotop. Keunikan lain yang terdapat di Alkid adalah sejenis kendaraan seperti becak yang dihias lampu warna warni untuk menarik perhatian anak-anak untuk menaikinya berkeliling Alkid.

Suasana Alkid

Ditengah-tengah alkid juga banyak terdapat orang orang terutama pasangan muda mudi yang sedang mencoba tantangan ringin kembar. teringat jaman sekolah dulu aku ‘digarap’ teman-teman untuk melewati ringin (pohon beringin) kembar dengan mata tertutup. konon katanya jarang ada yang bisa melewati dengan mata tertutup. ya iyalah mata tertutup menyebabkan keseimbangan terganggu sehingga sulit untuk berjalan lurus sempurna. Puas di Alkid kami mencoba untuk mengunjungi House of Raminten, yang menurut teman-teman tempat maupun menunya aneh-aneh. Dengan menggunakan taksi Sadewa di nomor telepon 414343 kami tiba di sana dalam sekejap saja. Ternyata tempatnya memang agak aneh. Suasananya remang-remang dan sangat kejawen, para pelayannya mengenakan busana tradisonal seksi, menunya yang khas wedang-wedangan, jamu-jamuan, dan nasi kucing. Belum separuh kami menghabiskan menu, Hafiy mulai rewel, jaketku ditarik-tarik untuk menutupi matanya. selang beberapa saat ia mulai menangis. Tak ingin berlama-lama kami segera meninggalkan temapt tersebut.

The House of Raminten

Esok paginya pukul 08.00 hari pertama pelatihan dimulai, saat meninggalkan Hafiy di kamar, dia sudah dalam keadaan selesai mandi, makan dan minum. sepanjang kami mengikuti pelatihan, Hafiy digendong oleh staf kami. dalam pelatihan tersebut ada 2 kali coffe break selama @15 menit dan Maksiat (Makan Siang, Sholat, Istirahat) selama 1 jam 15 menit. Pada hari kedua ini kami gak keluar kemana-mana karena Hafiy sepertinya ngantuk dan benar saja mulai pukul 15.00 sampai pukul 06.00 keesokan harinya ia tidur dengan nyeyaknya, bahkan untuk minum asi pun ia lakukan dalam keadaan tidur. Dasar aku yang ga bisa tidur sore-sore, maka pergilah aku seorang diri, tujuanku gak jauh jauh dari Prawirotaman. Aku hanya ingin Sholat di Masjid Jogokariyan, daerahnya Ustadz Salim A Fillah. Konon kabarnya Masjid itu mempunyai proram Jamaah Sholat Subuhnya sama banyaknya dengan Jamaah Sholat Jum’atnya (merinding senang mendengarnya). Pada kesempatan tersebut Gurunda Ustadz Salim meminta maaf karena sedang acara di Umbulharjo sehingga tak bisa menyambutku. Kujawab mboten menapa, toh tujuan utama melihat Masjid 🙂 Kesan sekilas Masjid tersebut banyak sekali kegiatannya, mulai ibu-ibu yang rajin tilawah, anak-anak yang bermain, pemuda-pemuda yang lagi berdiskusi di dekat parkiran masjid, bahkan penerbit buku pro-media juga terletak tak jauh dari situ. Selesai Sholat Berjamaah, ingin rasanya menikmati Mie Klunthung di Pinggiran Jalan Prangtritis (Jalan lho ya, bukan pantai). Tepat Pukul 20.30 aku sudah kembali lagi ke hotel.

Masjid Jogokariyan

Rabu Sore, isteriku mengajak ke Malioboro untuk membeli batik, sandal, stelan kaos untuk anak-anak. kekonyolan kami adalah mencoba menawar kaos dagadu atau caping yang jelas jelas mempunyai harga mati Rp 30 ribu hehe…. Selain itu asal jeli kita bisa mendapatkan batik murah yang (tampak) berkualitas 😀

Kamis pagi kami sudah mencium indahnya aroma rumah di Surabaya, benar-benar ingin agar hari kamis ini segera lompat ke pukul 14.00 untuk langsung menuju ke Stasiun Tugu. Oh iya hampir lupa sebelum pulang kami menyempatkan mamapir membeli Gudeg di Jalan Wijilan buat oleh-oleh. Sedangkan untuk Bakpia, kami memesan lewat petugas hotel Bakpia Kurnia Sari yang menurutku lebih enak daripada Bakpia bernomor seperti 25, 75, 45, 212, dsb.

Akhirnya di Kamis sore yang indah itu kami meluncur ke Surabaya. Hafiy yang sudah punya pengalaman naik kereta, kali ini sudah tidak rewel lagi. Sampai di rumah aku dikejutkan oleh kue ulangtahun yang dipesankan oleh isteriku. tapi karena sudah lelah, maka kue itu baru dimakan dan di foto keesokan harinya Jum’at 23 Maret 2012.

Tamat

Sumber Gambar Masjid Jogokariyan

Starting New Ending

Sudah hampir dua tahun sejak pertama kali menjalani takdir sebagai PET. Banyak yang sudah terjadi, banyak pula yang sudah di alami. Rasanya baru kemarin sobatku budi purwono menjemputku untuk berangkat ke ‘neverland’. terbayang hari pertama yang ingah ingih gak tau mo ngerjain apa. apalagi dengan potongan rambut 321 yg aneh…walopun masih saja ada yang memfitnah mirip seperti vokalis band ungu.

Belum genap 2 minggu di sana ternyata harus pindah ke unknown place yg pada di kemudian hari menjadi the most beautiful small city in east java. walaupun namanya city..tempat aku bekerja masih 30 km ke arah selatan dari pusat kota. Di tempat itu aku mengenal sobat-sobat laskar pelangiku. ada ‘lintang asli jombang yg pinter abis’, mahar yg asli penduduk setempat , n ikal yg made in magetan (lha trus aku dadi sopo… @_@). masing masing punya keahlian: lintang merupakan andalan orang2 di sana, ikal terkenal dgn keshalihannya n hafalannya, n mahar number uno dalam permainan winning eleven. mereka adalah sobat di kantor, sobat dlm keseharian.

Tempat favorit di kala istirahat siang adalah warung yang di asuh oleh seorang wanita tua nan bersahaja bernama mak mi (ini nama asli). warung ini merupakan satu satunya warung yg paling dekat bisa dijangkau. warung ini persis menhadap laut dan hanya di pisahkan oleh lapangan sepakbola dengan 4 gawang (lapangan yg aneh). Menu hariannya adalah sayur bening, sayur lodeh, tempe, telur ceplok, dan pasti ada beraneka jenis ikan laut (maklum deket laut) namun yang paling khas dari warung ini makanannya yaitu ayam lodho super spesial yg biasanya di update tiap hari jum’at. Makan di sana selain lezat rasanya juga membuat hati bahagia (aneh). Kadang yang membuat penasaran adalah harganya yang murah…sampai2 aku berfikir “berapa keuntungan yang diperolehnya”? BEP aja aku agak ragu..tapi kemudian aku dapat jawabannya keuntungannya adalah kebahagiannya melihat warungnya selalu ramai di kunjungi saat makan siang, melihat kami bercanda, ndengerin bapak-bapak yg serius berdebat sampai ramai yang ternyata membahas mengapa kucing kalo di jatuhkan dari atas pasti tidak akan jatuh terlentang, kemudian mbahas rasi bintang..sampai hukum kepler (wuihh), dan juga perhatian dari kami jika ia mengalami kesulitan. yach begitulah mak mi sudah menjadi bagian dari keluarga besar karyawan2 di situ.

Setelah satu musim, akhirnya bisa kembali ke kota asal the heroes city..shock culture sempat terjadi namun bisa segera di atasi. di heroes city ini paruh kedua PET di jalani hingga saat ini…dan akan berakhir beberapa minggu lagi (Yippe).

Sungguh 2 tahun yang tak terlupakan, 2 tahun yang memendarkan sejuta rasa. dan diantara sejuta rasa itu tak semuanya indah…tak semuanya manis, dan tak semua mulus…kadang terpikir andaikan bisa mengulang kembali beberapa episode untuk diperbaiki…namun pikiran seperti itu harus dibuang jauh2 ke laut selatan. Yeah..Nobody can go back and start a new beginning, but anybody can start today and make a new ending.

ps: nama 2 tokoh n t4 sengaja di samarkan krn belum ijin.