Compassionate Parenting

compassionAtas ajakan teman saya Mbak Dian Cahyorini saya menghadiri seminar compassionate parenting bersama anak kedua saya Alin (3y) karena Ibunya sedang menghadiri pernikahan rekan kantornya bersama anak pertama saya. Saya sangat terkesan dengan acara seminar compasionate parenting yang menghadirkan Mas Gobind Vashdev sebagai pembicara sekaligus pengisi materi. Banyak sekali “harta karun” yang saya peroleh dari acara tersebut, meskipun saya sempat keluar selama 2 jam di pertengahan acara karena harus mengantar Alin pulang kerumah dari veneue seminar karena sudah waktunya bobo siang.

Jika berbicara mengenai compassionate parenting, maka fokus sesungguhnya bukan pada anak, namun kepada diri sendiri sebagai orangtua. Menurut sebuah survey 90% masalah parenting itu adalah masalah di dalam diri orangtua sendiri. Masalah ini disebabkan luka batin orangtuanya yang belum selesai. Alih alih mencari jalan keluar, orangtua seharusnya mencari jalan kedalam diri sendiri.

Misalkan rumah kita kebakaran, apa prioritas yang akan kita lakukan ? mengejar pelaku pembakaran ? atau memadamkan api terlebih dahulu ?

Lalu bagaimana jika hati kita yang terbakar oleh anak kita ? apakah kita padamkan dulu kebakaran di hati ? atau secara spontan (autopiliot) langsung mengejar anak kita untuk memperingatkan agar tidak membuat kebakaran lagi ? kebanyakan akan memilih memadamkan apinya terlebih dahulu

Maka compassionate parenting kita diajak untuk menyadari luka luka batin kita, merawatnya lalu barulah kita bisa mengerti, memahami dan menumbuhkan rasa welas asih pada apapun keadaan anak kita.

Luka Batin

Misalkan kita diberi waktu 10 detik untuk menggambar pemandangan, kira kira hasilnya seperti apa? saya berani bertaruh bahwa kebanyakan akan menggambar dua buah gunung kembar berwarna biru yang dipisah oleh matahari terbit lalu dibawah gunung ada sebuah jalan lurus nan lebar dan disamping kiri kanan jalan terhampar hijaunya sawah. Mengapa demikian ? karena ketika dibatasi waktu, maka solusi yang spontan muncul adalah solusi yang paling mudah untuk diakses (gambar pemandangan berupa dua gunung tersebut). Dikenal juga dengan sebutan program autopilot kita. Begitupula halnya ketika kita menghadapi anak. Saat anak rewel atau tantrum maka respon yang muncul dari diri kita adalah solusi yang termudah (solusi yang terbiasa dilakukan). Misalnya kalau saya ehm…keluar nada tinggi untuk segera membuat anak diam.

Respon spontan kita sebagai orang tua adalah hasil dari program program masa lalu. Maka ketika saya mulai menyadari nada tinggi yang keluar, saya mulai melakukan pengamatan terhadap diri sendiri dan kemudian menelusuri darimana saya punya program seperti ini. Aha ketemu, ternyata waktu kecil (5thn) saya pernah dibentak-bentak dan dilempar benda tumpul oleh paman saya karena kenakalan saya. Betapa waktu itu saya sangat membenci paman saya, yang saya manifestasikan dengan membuang ketikan skripsinya sekaligus berjanji akan memukulnya nanti jika saya sudah dewasa. Jaman berganti musim bertukar saya sudah melupakan kejadian kejadian tersebut. Sayangnya saya tidak menyadari luka batin itu terlanjur ada dan tersimpan di kedalaman memori bawah sadar yang kemudian SEOLAH hilang dan terlupakan.

Sejatinya seorang anak tau dimana titik titik luka batin orangtuanya karena kesamaan genetik. Justru tugas seorang anak menurut Gobind adalah memancing emosi kedua orangtuanya. Dengan cara seperti itu seorang anak sebenarnya sedang memberi informasi kepada orangtuanya dimana letak luka-luka batin yang tidak disadari namun sering mewujud menjadi emosi spontan.

Lalu bagimana merawat luka-luka batin itu ? Menurut Gobind yang perlu dilakukan orangtua adalah duduk lalu rasakan emosi yang muncul saat itu. Misalkan yang muncul adalah emosi kesal, maka sambil duduk tariklah nafas perlahan-lahan sambil berkata “saya sedang merasa kesal”. Kemudian lepaskan nafas sambil berkata “saya sedang merawat kekesalan ini, keduanya adalah bagian dari diriku”.

Setelah diri kita beres, maka selanjutnya apakah yang dilakukan saat anak tantrum? Gobind menjelaskan bahwa anak tantrum, karena ini adalah satu-satunya cara yang Ia tahu untuk berkomunikasi.

Gobind melanjutkan “saat anak saya Rigpa tantrum, saya hanya akan bermeditasi disebelahnya dengan mata terbuka. Saya mebiarkan Rigpa mengeluarkan emosinya. Bila kita mengalihkan emosinya dengan memberikan manisan, video games atau lainnya, kita mengajarkan anak untuk tidak menyelesaikan masalahnya, tidak mengeluarkan kemarahannya.”, Ujar Gobind.

“Rigpa bisa lebih dari satu jam menangis, maka saya hanya akan diam disebelahnya. Bila di tempat ramai, saya minta untuk pulang atau ketempat yang lebih sepi. Memberitahu anak saat Ia sedang marah atau sedih tidak akan berhasil. Saat anak sudah selesai meluapkan emosi, berilah rangkulan”.

Fasilitator Pembelajaran bukan Fasilitator Pelindung

Kurangi peran orangtua sebagai fasilitator pelindung, namun tingkatkan peran sebagai fasilitator pembelajaran. Daripada melarang-larang anak, ajari saja bagimana agar meminimalisir dampak kecelakaan akibat bermain. Misalnya “Nak kamu boleh main manjat-manjat pohon, mau kepalamu benjol, kaki kesandung, jatuh tidak masalah yang penting kalau jatuh jangan sampai bagian belakang lehermu yang kena”

Di tengah-tengah kelas, kami menonton Ibu bebek dengan lebih dari 5 anaknya yang sedang berjalan menaiki trotoar jalan. Ibu bebek naik duluan, lalu anak-anak bebek satu persatu naik. 2 anak bebek tertinggal. Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya memperhatikan dari dekat di atas trotoar. Satu persatu anak bebek ini naik , walau 1 anak terakhir butuh waktu, Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya dia memperhatikan dari dekat.

“Anak bukan butuh pelindung, tapi tempat untuk belajar. Bila anak jatuh, ingatkan kepada anak, bila ada kebahagiaan , maka ada kesedihan. Bila ada enak, ada tidak enak. Kamu sudah merasakan kebahagiaan, mari kita juga peluk kesedihan”, Gobind menjelaskan. Anak punya kemampuan luar biasa dalam beradaptasi, let them adapt whith not only the goods of the world but also the bad. Biarkan mereka bersedih bila tidak mendapatkan mainan yang mereka inginkan. Seringkali ketika Hafiy meminta makanan diluar yang sudah dimasak oleh mamanya, (misal minta rawon jam 8 malam, padahal sudah masak soto) saya mencegah mamanya untuk membelikan. Saat dia terlambat ke sekolah karena susah mandi, saya hanya membiarkan dia merasa malu karena terlambat. Biarkan ia mengenali rasa tidak nyaman berusaha mengatasinya.

Kehidupan itu Dinamis

Kehidupan ini tidaklah kaku namun dinamis, orangtualah yang seringkali membawa agenda agenda tersendiri. Misalnya kamu harus juara 1, harus lulus dengan nilai terbaik, mahir main piano. Lalu apakah agenda tersendiri orangtua ini tidak diperlukan ? Boleh boleh saja orangtua mempunyai agenda tersendiri terutama untuk hal hal yang prinsip asalkan bebas dari kemelekatan. Misalnya orang tua ingin anaknya menjadi anak sholeh yang kuat imannya, silahkan lakukan usaha terbaik namun tak usah terlalu dipikirkan apakah nanti anaknya benar-benar menjadi anak sholeh. lakukan saja yang terbaik, nikmati prosesnya tanpa ngarep. Ini sangat sesuai dengan nasihat Kyai Haji Maimun Zubair “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah”. Begitu pula menjadi orangtua.

Ajarkan Cinta, Bukan Ketakutan

“Hafiy , ayo mandi ? Nanti kalau ga mandi  jadi temennya si S (setan) loh”,

“Awas, nanti jatuh loh!”

“Alin, kalau gak mau makan, nanti sakit terus diinfus lho nak.”

“Wah, kalau mukul mukul temenmu nanti enggak punya teman.”

Siapa yang pernah seperti ini? (saya sendiri pernah berulangkali melakuan hal itu) Tanpa disadari proses mendisiplinkan anak menjadi proses menakuti anak.

Gobind menambahkan “Kita lupa mengajarkan cinta kepada anak, Saya saat ini tidak menggunakan sabun berbahan kimia, bukan karena Saya takut pada bahan kimia, Saya ini tinggal dekat sawah, di belakang rumah Saya, bagaimana bisa Saya meracuni sawah ini, yang memberikan Saya makan? Saya melakukan ini karena Saya mencintai mother earth, ibu Saya.”, ujar Gobind.

Gobin juga mengingatkan ketika kita mulai membandingkan anak dengan orang lain, anak akan merasa dirinya tidak lebih baik dari orang lain. Memang sangat mudah membandingkan anak, anak akan merasa adanya kompetisi dan mulai menjadi lebih baik versi Ibunya. Tanamkan cinta salah satunya dengan berujar ,” I love you the way you are”.

Beri Pujian Pada Kebiasaan Anak yang Baik

“Kita tidak pernah lupa memberikan pujian kepada anak bila anak berhasil menggambar, berjalan, atau makan banyak. Tapi kita terkadang lupa memberikan pujian pada kebiasaan baik anak saat berbagi dengan orang lain, berjalan sendiri tanpa digendong, ramah terhadap orang lain, dan lainnya”, tegas Gobind.

Jangan Menggadaikan Hubungan Anak Kita

Orangtua seringkali menggadaikan hubungan dengan anaknya untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Misalnya saat bertemu teman lama di jalan, kita meminta anak untuk salim dan cium tangan teman kita namun ternyata anak kita tidak mau, lalu kita sedikit memaksa “ayo cepet salim sana sama om” setelah salim lalu kita asyik ngobrol dengan teman lama dan mengabaikan anak kita. Biarkanlah anak memilih waktunya sendiri untuk mengenal orang. Misal juga ketika ada tamu berkunjung ke rumah bertepatan anak kita sedang asyik main di ruang tamu, maka jangan karena mengutamakan tamu ataupun malu pada tamu kita jadi bersikap kurang menyenangkan kepada anak kita. Termasuk juga ga perlu risau ataupun malu ketika mengetahui bahwa anak kita ada kekurangan jika dibandingkan teman temannya, misalnya kurang sopan santunnya. Dalam hal berbagi, apabila anak belum mau berbagi, biarkanlah, apa Anda mau meminjamkan mobil Anda kepada orang lain yang Anda tidak kenal? Jangan rusak hubungan Anda dengan Anak . Ini juga berlaku bila anak tidak mau salam dengan keluarga atau kerabat.

Walk The Talk

Pada bagian ini Gobind bercerita tentang kisah Mahatma Gandhi. “Ada seorang ibu rumah tangga memiliki seorang anak yang suka mengkonsumsi garam. Padahal anak tersebut memiliki penyakit yang akan kambuh apabila anak tersebut mengkonsumsi garam. Ibu tersebut telah menasehati anak tersebut untuk tidak mengkonsumsi garam tersebut. Tetapi anak tersebut masih saja mengkonsumsi garam tersebut”

Suatu ketika ibu tersebut datang kepada gandhi untuk meminta pertolongan agar menasehati anaknya yang sering mengkonsumsi garam. Gandhi pun tidak menyanggupi langsung untuk menasehati anak tersebut dan disuruh ibu tersebut untuk kembali seminggu kemudian ke kediaman gandhi. Ibu pun lantas kecewa karena harus seminggu kemudiaan harus kembali

Dan akhirnya seminggu kemudian si ibu dan anak tersebut kembali menuju tempat Gandhi. Setelah itu Gandhi mendatangi anak tersebut dan memberikan nasehat “hey anakku janganlah kamu mengkonsumsi garam lagi, karena jika kamu mengkonsumsi garam lagi kamu akan mengecewakan orang tuamu, mengecewakan dokter yang merawatmu, bahkan mengecewakan dirimu sendiri di kelak nanti”. Ibu pun semakin kecewa karena nasehat gandhi barusan sama seperti nasehat yang ibu katakan setiap harinya kepada anaknya. Gandhi pun tersenyum dan mempersilahkan ibu dan anak tsb kembali.

Besok harinya anak tersebut masih mengkonsumsi garam, tetapi di kemudian harinya konsumsi garam tersebut berkurang dan berkurang pada hari ketujuh. Ibu pun gembira melihat aktivitas anaknya yang mengkonsumsi garam semakin hari semakin berkurang. Kemudian ibu pun penasaran dan mendatangi kediaman Gandhi dan bertanya bagaimana bisa anak saya mulai berkurang konsumsi garam nya, dengan nasehat yang sama. gandhi pun menceritakan kenapa ibu tersebut diharuskan seminggu kemudian mendatangi Gandhi,Gandhi menjelaskan bahwa dia membutuhkan waktu seminggu untuk mencoba tidak mengkonsumsi garam sebelum menasehati anaknya ibu tersebut, karena andaikan waktu pertama ibu meminta Gandhi menasehati anaknya, Gandhi sendiri tidak menyanggupi karena Gandhi waktu itu masih mengkonsumsi garam juga. Jadi Gandhi mulai siap menasehati anak tersebut setelah dia tidak mengkonsumsi garam lagi.”

Note : tulisan belum selesai masih ada materi tentang kata konkrit dan abstarc, menemukan solusi dari anak sendiri, dan mendengarkan serta membantu mengekspresikan emosinya. dan akan diupdate di lain hari.

 

Iklan

Review Buku Bakat Bukan Takdir

BBT

Melanjutkan buku Anak Bukan Kertas Kosong, kali ini Bukik menggandeng Andre Firdaus meluncurkan buku keduanya yaitu Bakat Bukan Takdir. Konsep dasar dari Buku ini masih mirip dengan buku pertama, yaitu kedepan anak-anak kita akan menghadapi tantangan zaman yang semakin kreatif. Zaman dimana sumber daya alam semakin terbatas, berlimpahnya pilihan dan laju perkembangan teknologi yang tak terbendung. Untuk menghadapi tantangan zaman ini anak perlu bekal untuk menghadapinya. konsekuensi zaman kreatif adalah perubahan makna profesi hingga muncul profesi baru. Buku ini menjelaskan beberpa kesalahan dalam memahami Bakat.

  1. Bakat itu bawaan dari lahir. Bakat adalah hasil belajar yang berkelanjutan pada suatu bidang tertentu. Tanpa proses belajar, bakat tidak akan berkembang.
  2. Satu Orang hanya bisa punya satu bakat. Karena bakat adalah hasil belajar maka pada dasarnya setiap orang bisa punya lebih dari satu bakat tergantung keseuaian potensi diri dan kesempatan di masyarakat.
  3. Bakat itu potensi. Bakat adalah tindakan nyata atau karya yang dihasilkan seseorang dan dihargai masyarakat. Tanpa tindakan atau karya, maka hanya akan menjadi potensi.

Baiklah, jadi apa jawaban untuk menghadapi tantangan-tantangan di zaman kreatif tersebut. Menurut buku ini (bukan saya) jawabannya adalah menjadi pendidik yang menumbuhkan bagi anak-anak kita. Pendidik yang menumbukan menganggap anak sebagai pelajar sepanjang hayat. Karena itu pendidik yang menumbuhkan tidak pernah mendikte atau memaksakan kemauan pada anak.Anak dihargai kebutuhan dan keinginanya. Anak diberi kesempatan berfikir untuk menemukan pilihan terbaik.

bbt siklus

Ada sebuah siklus yang menjadi pondasi dasar dari kebiasaan menumbuhkan ini yaitu : (1) Jeda-Selaraskan, (2) Fokuskan, (3) Stimulasikan, (4) Refleksikan. Siklus ini sedikit banyak mengadopsi dari 7 Habits-nya Steven Covey. Jeda-Selaraskan mirip dengan prinsip pertama 7 habits yaitu proaktif, artinya pendidik belajar menghindari sikap reaksioner terhadap perilaku anak. Lalu Fokuskan mirip dengan prinsip kedua 7 habits yaitu Mulai dari akhir. maksudnya pendidik fokus pada tujuan jangka panjang yang ingin dipakai. Stimulasikan maksudnya alih-aloh mendikte pendidik yang menumbuhkan justru menstimulasi anak untuk berfikir menemukan tindakan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan atau emosinya. Refleksikan artinya pendidik berefleksi apakah langkah-langkahnya telah menumbuhkan potensi anak. Masing-masing tahapan siklus ini telah dilengkapi panduan untuk berlatih.

KDBBT

Lalu kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yangmenumbuhkan ? Kemampuan itu adalah Bertanya, Bercerita, Memberi Umpan Balik yang menumbuhkan melalui komunikasi verbal dan non verbal

Bagi saya pribadi kemampuan ini cukup familiar, meskipun masih dalam ranah knowledge belum sampai kepada praktik yang konsisten. Kemampuan bertanya ini merupakan salah satu kemampuan dasar dalam melakukan coaching, apalagi klien coachingnya sangat spesial yaitu putra putri kita sendiri. Sekali lagi buku ini menjelaskan langkah demi langkah serta latihan-latihan apa saja yang perlu dilakukan untuk mengasah kemampuan-kemampuan tersebut.

Menuju bagian penting dalam buku ini, merujuk pada Howard Gardner, Mas Bukik mengklasifikasikan kecerdasan majemuk menjadi 8 kecerdasan. Masing-masing ada simulasi latihan untuk mengasah masing-masing kecerdasan. Ya Buku ini memang  lebih banyak berisi latihan seperti buku LKS dan mengharapkan peran aktif pembacanya untuk berlatih. Maka buku ini agak sulit jika hanya dibaca santai sambil tiduran lalu berharap semua materinya masuk ke bawah sadar hehe..

8 kecerdasan

 

Akhir kata, saya ucapkan selamat membaca dan berlatih.

Mendekatkan Al Qur’an Kepada Anak (by M. Fauzil Adhim)

Copas dari Tulisan Mohammad Fauzil Adhim

Kita dapat mengajari anak-anak untuk menghafal dengan cepat dan membaca de­ngan lancar. Tetapi keterampilan melafazkan Al-Qur’an dengan benar tidak dengan sendirinya membuat anak-anak dekat hatinya pada Al-Qur’an. Bisa membaca dengan baik tidak sama dengan mampu mengambil petunjuk. Bahkan sekedar faham bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk, pembeda dan penjelas pun belum tentu. Sebab, sangat berbeda antara memahami secara kognitif dengan dorongan spontan untuk selalu me­lihat bagaimana Al-Qur’an berbicara.

Itu sebabnya, berbicara tentang bagaimana mengajarkan Al-Qur’an sama pentingnya dengan meyakini bahwa tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya. Mengajarkan keterampilan membaca dan menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan keyakinan yang kuat sekaligus pengalaman berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Qur’an, sama seperti meletakkan bertumpuk kitab di punggung keledai. Banyak ilmu di dalamnya, tetapi tak bisa mengambil pelajaran darinya.

Lalu apa yang perlu kita perhatikan? Pertama, kita berusaha menghidupkan jiwa anak-anak kita dengan Al-Qur’an. Kita limpahi mereka kasih sayang sebagaimana kita melihat lemah-lembutnya Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam terhadap anak. Berlimpahnya kasih-sayang saat sedang bersama mereka atau lebih-lebih saat mengajarkan Al-Qur’an merupakan bekal untuk membuat jiwa mereka hidup tatkala belajar. Selain itu, menghidupkan jiwa juga berarti membuat anak-anak senantiasa melihat dan merasakan “ada ayat Al-Qur’an” dalam setiap kejadian yang mereka jumpai. Ini menuntut kemampuan guru untuk mengajarkan Al-Qur’an secara kontekstual. Artinya, guru harus mampu menjadikan anak melihat bahwa ke­mana pun ia hadapkan wajahnya, di situlah ia melihat ayat Allah Ta’ala. Bukan mengait-ngaitkan Al-Qur’an agar sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan atau trend pemikiran. Yang demikian ini bukan kontekstual, tetapi tabrir al-waqi’ (pembenaran realitas).

Hasil dari upaya “menghidupkan jiwa” adalah anak-anak yang memiliki orientasi hi­dup sangat kuat. Mereka menjadi pribadi visioner semenjak usianya yang belia. Sesungguh­nya Al-Qur’an tidaklah berbicara dunia kecuali untuk mengajak manusia meraih kebahagiaan akhirat. Al-Qur’an mengajak kita untuk hidup dengan visi akhirat yang kuat, sehingga senantiasa bersungguh-sungguh melakukan kebaikan demi kebaikan yang Allah Ta’ala ridhai. Ini berarti kita harus memahamkan anak mengapa ada amal shalih yang diridhai, mengapa pula ada yang tidak.

Kedua, membangun tradisi berpikir yang berpijak pada Al-Qur’an. Kita membiasakan anak memikirkan ayat serta mengambil pelajaran darinya. Kita menanamkan pola pikir berupa tradisi mendeduksikan ayat Al-Qur’an dengan memahami makna (tafsirnya) dari orang-orang yang memiliki otoritas dan literatur terpercaya. Sesudah itu, baru kita mengajak anak untuk menggunakan nalarnya agar mampu memahami lebih jauh. Jadi bukan menggunakan nalarnya lebih dulu baru memahami maknanya. Sebab ini lebih dekat dengan praduga daripada tafsir, lebih cenderung kepada pembenaran pikiran daripada menemukan kebenaran sehingga bisa mengoreksi kesalahan kita dalam berpikir.

Tampaknya sepele, tetapi jika tidak berhati-hati dalam mengajarkan kita bisa keliru mengembangkan cara berpikir yang sebaliknya. Anak-anak kita ajak untuk melihat realitas, memikirkan sebab akibat serta berusaha menemukan cara berpikir, sesudah itu baru mencari ayat-ayat Al-Qur’an yang sesuai. Yang demikian ini dapat menimbulkan kesalahan berpikir bahwa kebenaran Al-Qur’an itu relatif. Jika cara berpikir semacam ini sudah tumbuh, akibat berikutnya adalah runtuhnya keyakinan bahwa kebenaran Al-Qur’an bersifat mutlak. Tak ada keraguan di dalamnya. Pada gilirannya ini menyebabkan anak kelak tidak lagi mengam­bil petunjuk dari Al-Qur’an.

Na’udzubillahi min dzaalik.

Mirip tetapi sangat berbeda pengaruhnya adalah membiasakan anak berpikir dan berdiskusi, kemudian melihat bagaimana Al-Qur’an memberi petunjuk. Dalam hal ini, Al-Qur’an menjadi pemisah mana yang haq dan mana yang bathil dalam setiap perkara. Al-Qur’an menjadi penilai setiap urusan.

Ketiga, mengajarkan kepada anak untuk memegangi Al-Qur’an dengan kuat. Ada beberapa aspek kekuatan yang perlu kita bangun pada anak agar bisa berpegang pada Al-Qur’an. Semuanya saling berkait dan saling mendukung kesanggupan untuk menggenggam erat pe­tunjuk Al-Qur’an.

Secara sederhana, beberapa aspek tersebut meliputi kekuatan hati sehingga mereka memiliki antusiasme yang kuat, kecintaan yang mendalam dan kemampuan menghafal yang baik; kekuatan pikiran sehingga memudahkan mereka belajar, menajamkan kemampuannya memahami maupun mengambil pelajaran; kekuatan fisik sehingga mereka memiliki kesanggupan untuk mempertahankan, memperjuangkan serta daya untuk belajar; serta kekuatan motivasi sehingga mereka bisa belajar dengan keinginan yang kuat dan perhatian yang penuh.

Wallahu a’lam bishawab.

***Semoga catatan sederhana ini bermanfaat bagi yang menulis, membaca dan men-share/copas tulisan ini. Ingatkan saya, nasehati saya jika menjumpai kekeliruan –apalagi kesalahan serius– dalam tulisan ini. Jazaakumullah khairan katsiiran.

Menempa Jiwa (by M. Fauzil Adhim)

Copas dari Tulisan Mohammad Fauzil Adhim
”Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan.”
(QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6).

Cukuplah orangtua dikatakan menyengsarakan hidup anak apabila ia membiasakan hidup mudah. Segala sesuatu yang mereka perlukan telah tersedia dengan mudah, nyaris tanpa usaha berarti. Padahal pengalaman berusaha dan menyelesaikan masalah akan meningkatkan kapasitas pribadi seseorang. Sehingga semakin banyak masalah yang mampu ia selesaikan, semakin tinggi nilai hidupnya.

Allah Ta’ala membentangkan di hadapan manusia kesempatan untuk berjuang. Agar terwujud kehidupan yang baik, kita harus memiliki kesediaan untuk memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh dengan keringat dan do’a. Kesungguhan dalam berjuang itulah letak nilai seseorang. Bukan apa yang ia capai. Sungguh, adakalanya barakah perjuangan seseorang tampak nyata di muka bumi setelah kehidupan orang tersebut berlalu beberapa masa. Dan merupakan tugas orangtua untuk memberi kesempatan kepada anak latihan berjuang, dari yang kecil hingga mimpi-mimpi besar untuk sebuah visi di masa depan.

Sesungguhnya orangtua yang kejam adalah mereka yang tidak memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan di usia itu. Kejamlah para ibu yang masih selalu menyuapi anaknya, setiap saat, padahal anak seharusnya sudah bisa makan sendiri. Kejamlah seorang bapak yang selalu melayani keinginan anak dan memenuhi permintaan mereka, padahal anak-anak itu kelak harus memiliki kecakapan mentasharrufkan hartanya. Kejamlah orangtua yang hanya memberi uang dan fasilitas berlimpah kepada anaknya tanpa memberi tanggung-jawab, kewajiban dan tantangan kepada mereka.

Mari kita belajar dari pohon apel. Sesungguhnya apel tidak berbuah kecuali setelah daunnya rontok. Jika ia ditanam di negeri yang tidak mengenal musim gugur, maka kitalah yang harus membantu agar apel tersebut berbuah. Kita membantu mengurangi daun-daunnya.

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Perlu tantangan sebelum berbuah. Ada tantangan yang secara alamiah dihadapi karena kondisi yang tidak terelakkan. Tetapi jika kondisi yang diperlukan tidak tersedia, maka kitalah yang harus merancang agar ada tantangan yang ”menggairahkan”.

Jika kita menilik sejarah, orang-orang besar adalah mereka yang memiliki catatan panjang tentang keteguhan, ketegaran, kegigihan, kejujuran, integritas yang tinggi, keberanian dan tekad yang kuat untuk menyelesaikan setiap masalah dengan cara sebaik-baiknya sesuai dengan rambu-rambu yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ditempa oleh tantangan yang datang berjenjang-jenjang. Awalnya ringan, lalu datang lagi tantangan berikutnya yang lebih berat. Bahkan tidak sedikit orang besar yang sejak lahir sudah dipenuhi kesulitan dan tantangan. Ia lahir dalam kesulitan, besar dalam kesulitan dan kemudian tumbuh menjadi manusia yang sanggup mengatasi berbagai kesulitan yang orang lain takut membayangkannya. Mereka banyak menghadapi kesulitan, tetapi pada saat yang sama ada kekuatan jiwa untuk menghadapinya. Terkadang kekuatan itu mengalir dari hadirnya seorang ibu yang senantiasa memberi dukungan ketika ia merasa tak sanggup lagi.

Di antara orang-orang sukses, banyak yang mengawali hidupnya dengan berbagai kesulitan. Sebagian mereka bahkan pernah merasa tak sanggup menghadapinya, lalu berikrar agar anaknya tak pernah menjumpai kepahitan hidup yang serupa. Tetapi ia lupa membedakan bahwa kepahitan hidup berbeda dengan tantangan. Alih-alih tidak ingin anaknya sengsara, justru menghindarkan anak dari tantangan. Diam-diam menjadikan anaknya tak berdaya dengan melimpahi mereka fasilitas dan kemudahan. Padahal berlimpahnya fasilitas tanpa tantangan, menjadikan anak lemah secara mental, rendah daya juangnya, mudah frustrasi karena tak terbiasa menghadapi kesulitan, dan tidak memiliki keterampilan memadai dalam menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari. Mereka inilah yang rawan terkena afflueanza.

Apakah affluenza itu? O, banyak sekali definisi yang bisa kita temukan pada kata ini. Tetapi ada beberapa hal yang mempersamakan dari berbagai definisi itu, yakni bahwa affluenza merupakan kondisi ketika orang menakar keberhasilan dan kebahagiaan dari berapa banyak uang yang dimiliki, berapa mewah barang yang dikonsumsi, dan berapa lengkap perangkat yang dipunyai beserta segala kemudahan yang bisa dibeli. Mereka dimanjakan oleh uang karena orangtua sudah merdeka secara finansial, tetapi hati mereka hampa dan kebahagiaan sangat jauh dari kehidupan. Semakin mereka menganggap bisa membeli kebahagiaan dengan uang, semakin kering hidup mereka, semakin jauh pula kebahagiaan itu menghindar dari mereka. Di saat itulah mereka semakin sibuk mengejar…. dengan uang yang mereka punya!!! Padahal ini justru membuatnya semakin tidak bahagia. Tetapi tak pilihan lain buat mereka, sebab yang mereka ketahui, uang bisa membeli apa pun. Sejak kecil mereka dibesarkan dengan kemudahan dan fasilitas, sehingga mereka justru menemukan banyak kesulitan dalam hidup. Apa yang sederhana buat orang lain, bisa menjadi kesulitan besar bagi dirinya.

Nah.

Jadi apa yang membuat anak-anak itu lemah di masa dewasanya? Mereka tak berdaya karena otot mereka, otak mereka dan mental mereka tak pernah ditempa. Mereka lemah karena terlalu banyak dimanja oleh fasilitas berlimpah. Mereka menemui banyak kesulitan karena terbiasa hidup serba mudah. Sesungguhnya apa yang berat bisa terasa ringan apabila kita memperoleh tempaan yang cukup untuk menghadapi tantangan. Semakin banyak tantangan yang mampu kita hadapi, akan semakin kuatlah kita dengan izin Allah Ta’ala.

Perlunya memberi kesempatan pada anak untuk menghadapi tantangan bukan berarti orangtua harus membiasakan anak hidup sulit. Sangat berbeda mempersulit keadaan dengan menempa anak menghadapi kesulitan. Kita memberi kesempatan kepada anak untuk belajar dengan memberinya tanggung-jawab, memberi mereka tugas untuk menyiapkan, mengatur dan menjaga apa yang mereka perlukan dalam hidup sehari-hari, serta memberi mereka kesempatan bagi mereka untuk belajar mengurusi diri mereka sendiri. Jadi bukan merampas hak mereka untuk belajar mandiri.

Bayi usia 1,5 tahun misalnya, secara alamiah mereka akan terdorong untuk belajar makan sendiri. Tentu saja karena belum memiliki cukup keterampilan, hasilnya bisa belepotan dan mengotori lantai. Tetapi jika atas nama kasih-sayang kita tidak memberinya kesempatan sehingga kita selalu menyuapinya, anak itu akan terhambat kemampuannya dan sulit tumbuh kemandiriannya.

Di usia-usia berikutnya ketika anak sudah saatnya untuk otonom, kita perlu membimbing mereka untuk menyiapkan sendiri buku pelajaran yang akan dipakai besok dan menyiapkan perlengkapannya. Secara perlahan kita memperkenalkan kepada mereka konsekuensi jika mengabaikan kewajiban. Pada saat yang sama kita mulai perlu memberi mereka tantangan-tantangan. Bukan membebani.

Kita bisa menggugah mereka untuk memiliki tekad kuat bagi sebuah mimpi di masa yang akan datang. Misalnya, kita gugah anak-anak itu untuk berkeinginan kuat memberikan harta yang bermanfaat bagi yang memerlukan. Katakanlah sepatu untuk orang miskin, atau sebuah ensiklopedi yang perlu mereka beli atau keperluan mereka sendiri yang berharga. Kita beri mereka dorongan. Pada saat yang sama kita pacu mereka untuk bisa mewujudkan tekad itu dengan kemampuannya sendiri.

Melalui tantangan yang datang secara bertahap itu, anak-anak akan belajar memecahkan kesulitan. Sesungguhnya Allah Ta’ala letakkan kemudahan itu menyertai kesulitan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

”Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6).

Muhammad Sulaiman ’Abdullah al-Asyqar menerangkan dalam tafsirnya yang bertajuk Zubdatut Tafsiir Min Fathil Qadiir bahwa maksud ayat ini ialah, sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan lain. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu dengan status marfu’ menerangkan, ”Seandainya kesulitan itu berada di dalam batu, niscaya ia akan diikuti oleh kemudahan sehingga ia masuk ke dalamnya kemudian mengeluarkannya dari batu tersebut. Suatu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan. Sesungguhnya Allah berfirman: ”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Banyak hal. Selain keharusan untuk senantiasa optimis tatkala menghadapi kesulitan, kita juga perlu merenungkan kembali apa yang telah kita berikan kepada anak-anak kita. Apakah kita menyiapkan anak kita untuk menjadi pribadi yang kuat ataukah kita justru sedang mempersulit hidupnya dengan membiasakan hidup mudah?

Sungguh, membiasakan anak hidup mudah dapat melemahkan mereka dalam keterampilan hidup, berpikir, dan bersikap. Bahkan bukan tidak mungkin dapat menyebabkan mereka lemah iman. Na’udzubillahi min dzaalik.

Didik Mereka Menjadi Pemberani (by M Fauzil Adhim)

Copas dari Tulisan Mohammad Fauzil Adhim.

Hari ini, kita menanti lahirnya para pemberani. Tak keluh lidahnya bicara kebenaran. Tak kuyuh langkahnya melihat kesulitan yang menghadang. Mereka menjadi pemberani bukan karena kuat berkelahi. Tetapi anak-anak itu tumbuh menjadi sosok pemberani karena himmahnya (hasrat terbesarnya) akhirat, pegangannya syari’at dan aqidahnya kuat melekat dalam diri. Mereka berani bukan karena dirinya kuat, tetapi karena adanya kendali kuat atas syahwatnya terhadap dunia. Mereka menjadi pemberani karena dirinya ditempa untuk tidak terbiasa dengan tana’um (bernikmat-nikmat).

Tetapi bagaimana mungkin mereka akan mampu menjauh dari tana’um jika mereka tak mampu mentasharrufkan harta dengan benar? Bagaimana mungkin kita dapat mendidik generasi yang tak sibuk berbangga dengan dunia jika mereka tidak dilatih menahan diri?

Hari ini, kita menunggu munculnya generasi yang kepala mereka tegak tatkala berhadapan dengan manusia. Kita menunggu lahirnya generasi yang tak merasa rendah karena berjumpa dengan manusia yang bernampilan wah. Mereka tak menyibukkan diri memuji manusia berdasarkan benda-benda yang dipunyai. Mereka tidak memuliakan, tidak pula merendahkan manusia lainnya karena rupawan tidaknya wajah. Tetapi mereka menilai manusia karena sikap, perjuangan, akhlak dan kesungguhannya berbenah.

Seseorang dapat memiliki keberanian karena merasa dirinya kuat. Keberanian juga dapat tumbuh karena keinginan untuk menjadi sosok yang membanggakan di hadapan manusia lainnya. Tetapi keberanian semacam ini, selain tak bernilai di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, juga mudah runtuh manakala mereka dihadapkan pada kesulitan serta tiadanya kenikmatan hidup. Sebagaimana manusia dapat bersemangat melakukan perang karena mengharapkan gemerlapnya dunia, sedangkan kematian dianggap sebagai akhir perjalanan. Tak ada kehidupan sesudahnya. Orang-orang semacam ini dapat menjadi pemberani. Tetapi keberanian mereka akan mudah surut jika dihadapkan pada kesengsaraan. Sangat berbeda dengan keberanian pada mujahid yang justru melihat akhirat sebagai kehidupan terbaik, sementara kematian merupakan gerbang yang membentangkan jalan untuk mencapai kenikmatan tertinggi di sisi Allah.

Banyak hal yang memerlukan keberanian agar dapat menjalankan agama dengan sempurna. Ada keberanian menghadapi ancaman, ada keberanian menghadapi kesulitan yang mungkin menghadang, dan ada pula keberanian yang terkait kesiapan untuk berpayah-payah demi meraih kemuliaan di sisi-Nya. Keberanian menghadapi kesulitan yang mungkin terjadi adakalanya terkait apa yang akan segera dilakukannya, semisal membawakan acara di hadapan banyak orang, dan ini merupakan kesulitan yang ringan. Adapula keberanian menghadapi kesulitan yang mungkin terjadi terkait dengan hal-hal jauh di masa akan datang, dan ini memerlukan keyakinan tentang dekatnya pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun keberanian untuk berpayah-payah demi meraih kemuliaan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla memerlukan kemampuan menahan diri. Tidak akan mampu seseorang menempuh jalan sulit semata karena ingin meraih ridha Allah Ta’ala kecuali jika ia memiliki harga diri (‘izzah) yang kuat sebagai seorang muslim. Dan tidak akan tumbuh ‘izzah yang kokoh kecuali ada penjagaan diri (‘iffah) yang kuat. Dan ini memerlukan latihan panjang.

Tatkala anak dibesarkan di rumah, anak-anak memperoleh penguatan dari orangtua, saudara dan anggota keluarga lainnya. Tetapi ketika anak tumbuh di sekolah berasrama, maka harus ada kebijakan pendidikan yang sengaja mengawal anak-anak agar belajar mengendalikan diri dan menjauhi tana’um. Sekolah dapat membatasi jumlah uang saku anak setiap harinya, tetapi pembatasan saja tidak cukup. Harus ada pendidikan ruhani (tarbiyah ruhiyyah) dari pengasuh asrama dan pendidik di sekolah. Harus pula ditumbuhkan suasana penghormatan terhadap sikap terpuji, kegigihan berusaha, integritas, semangat membantu orang lain, kesabaran dan keimanan. Tanpa itu semua, keberanian yang sesungguhnya serta kendali diri hanya menjadi pengetahuan yang dengan lancar dapat dituangkan penjelasannya saat ujian, tetapi amat jauh dari penghayatan.

Mari kita ingat sejenak nasehat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Abu ‘Awanah, Al-Baihaqi, Ahmad, Abu Ya’la dan Ibnul Ja’d, “Jauhilah orang kalian hanyut dalam kemewahan dan senang berhias dengan mode orang asing, bersikaplah dewasa dan berpakaianlah secara sederhana (tidak mewah).”

Berpakaian sederhana merupakan hal yang biasa jika anak hidup di lingkungan yang membiasakan mereka seperti itu. Kebiasaan ini sangat bermanfaat untuk menjaga orientasi belajar anak sehingga dapat menghadapkan dirinya secara lebih serius dalam menuntut ilmu. Tetapi jika kebiasaan ini hanya berhenti sebatas pembiasaan melalui pengendalian lingkungan (asrama), maka ia akan mudah memudar begitu anak berpindah ke lingkungan lain. Bahkan tak sekedar memudar, ia justru dapat berbalik total dari sederhana menjadi gemar bermewa-mewah. Maka, pembiasaan itu harus didahului dan sekaligus disertai penanaman nilai yang tak putus-putus sehingga anak melakukannya dengan perasaan positif. Anak melakukannya, menghayatinya dan menjadi bagian dari keyakinannya.

Sebaliknya, sangat berat bagi anak untuk hidup sederhana jika teman-teman di sekelilingnya, baik di sekolah maupun asrama hidup dalam suasana memuliakan penampilan, kemewahan dan kepemilikan. Hidup sederhana berarti menjadi orang asing di tengah-tengah sekumpulan orang yang sangat berbeda. Ini merupakan tantangan yang sangat berat, lebih-lebih jika anak sendiri belum memiliki keinginan untuk menyederhanakan makan dan pakaian. Padahal umumnya anak usia remaja memang belum memiliki keinginan untuk sederhana dalam makan dan pakaian. Jika suasana yang tumbuh di sekolah dan asrama adalah semangat menutup aurat, maka ringan bagi anak untuk mengenakan pakaian apa pun yang dapat menutup aurat secara sempurna. Tapi jika suasana yang tumbuh adalah penampilan, sangat mungkin terjadi anak merasa malu jika tidak menggunakan jilbab merek tertentu.

Mari kita renungkan sejenak atsar dari Amirul Mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Saya lebih senang melihat pembaca Al-Qur’an itu berpakaian putih.”

Nah.

Jika anak tidak tersibukkan hatinya dari berbangga-bangga terhadap pakaian dan penampilan, maka akan lebih mudah bagi mereka memenuhi hatinya dengan hasrat terhadap ‘ilmu dan akhirat. Lebih ringan langkahnya untuk menghadap hati kepada ilmu. Bukan sekedar berkonsentrasi memusatkan perhatian anak saat belajar.

Tentu saja, mereka harus tetap menjaga muru’ah (kehormatan) sehingga tidak merendahkan martabat mereka maupun kehormatan agama ini. Dan panduan untuk menjaga muru’ah itu adalah agama ini. Sedangkan guru dan pengasuh asrama merupakan penjaganya. Merekalah yang bertugas menegakkan nilai, termasuk penghormatan terhadap nilai-nilai tersebut.

Kelak, jika sekiranya Allah Ta’ala mudahkan rezeki mereka dan melimpahi mereka dengan perbendaharaan dunia, semoga akan ringan hati mereka untuk menolong agama ini dengan harta dan jiwa mereka. Adapun jika mereka mengambil kenikmatan dunia dari harta yang telah Allah Ta’ala berikan kepada mereka, baik berupa makanan, pakaian, kendaraan atau pun selain itu yang halal dan thayib, maka yang demikian ini semoga senantiasa tak bergeser dari kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman:

وابتغ فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن الله إليك ولا تبغ الفساد في الأرض إن الله لا يحب المفسدين

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash, 28: 77).

Kendali Diri Bekal Berani

‘Alaa kulli haal, sederhana dalam berpakaian hanyalah sebagian dari apa yang dapat kita lakukan untuk mendidik anak agar mampu menjauhkan diri dari tana’um. Awalnya melatih dan mendidik mereka untuk mampu membelanjakan harta secara bertanggung-jawab sesuai tuntunan syari’at. Bersamaan dengan itu anak belajar mengendalikan diri. Bukan menuruti keinginan. Sungguh, cukuplah orangtua dianggap menyengsarakan anak apabila mereka membiasakan anak hidup mudah.

Ini merupakan bagian dari adab sebagai murid yang perlu ditumbuhkan dan ditegakkan. Semoga tegaknya adab dapat membentuk kemampuan mengendalikan diri dari menuruti segala keinginan, meskipun Allah Ta’ala kuasakan kemampuan untuk memenuhinya. Semoga bagusnya kendali diri dapat menjadi salah satu bekal berharga untuk mendidik mereka menjadi pemberani.

Selanjutnya, kita perlu mendidik mereka dengan komitmen terhadap agama serta keinginan untuk memperjuangkannya. Begitu.

Physical Intelligence : 10 Cara Jadi Orang Bugar, Sehat & Cerdas (1)

Kalau saya meminta Anda menggambarkan model orang pintar dan juga model orang bodoh yang tidak begitu pintar apa yang terbayang pada pikiran Anda. Barangkali banyak yang berfikir bahwa orang yang pintar itu seperti Dekisugi (Doraemon) kalem, cool, pakai kacamata, fisiknya lemah, kerempeng, lebih suka membaca darpada berolahraga sebaliknya orang yang bodoh tidak terlalu pintar itu seperti Giant (Doraemon) badannya gede, hobinya olahraga, berotot, fisiknya kuat terlepas apakah mereka minum tolak angin atau tidak. Well di buku The Power Of Physical Intellegence saya mendapati bahwa semakin sehat, bugar dan kuat fisik seseorang semakin tinggi pula kecerdasannya. Nah saya akan merangkum 10 bab dalam buku ini yang intinya adalah cara menjadi seorang yang bugar, sehat sekaligus cerdas

1. Mengenal Tubuh (Motivasi)

Bab ini dibuka dengan sebuah cerita seorang Sensei Aikido (salah satu seni beladiri jepang) yang sudah memegang Dan-5 dalam aikido, tubuhnya mungil kira kira 150 cm. kemudian ia berjalan ketengah matras dan memerintahkan kedua orang anak muda yang sangat bugar dan kuat (salah satunya adalah penulis buku ini ~ Tony Buzan) untuk ikut turun ke matras. Ketika itu Tony masih berumur 25 tahun, jago renang, karate, dan pelari handal. Sensei tersebut memerintahkan Tony dan temannya Kurt yang sama sama bugar dan kuat untuk berusaha menjatuhkannya. Kemudian Sensei tersebut duduk dam merentangkan kedua tanganya. “Tangkap pergelangan tangan saya” katanya, “tumbangkan saya ke lantai!” Tony dan Kurt saling memandang gak percaya. Apakah Sensei sungguh sungguh ingin kami yang kuat kuat memprmalukannya di depan umum. Bukankah mudah sekali menarik orang sekecil itu dari keseimbanganya bila dua orang yang lebih besar memegang kedua pergelangan tangannya. Singkat kata mereka mencoba menumbangakn sensei tersebut, namun tubuh sensei sama sekali tak bergerak sampai sekian lama sensei tersebut akhirnya memutar pergelangan tanganya dengan anggun, dan seketika terlemparlah Tony dan Kurt . Hikmah yang diajarkan Sensei tersebut sangatlah mendalam. Kecerdasan dan kekuatan fisik bukanlah sekedar kekuatan otot dan kebugaran tubuh secara umum saja. Disamping kedua prasyarat yang diperlukan ini, kekuatan dan kebugaran mentallah yang dapat mengarahkan badan. Jadi apa itu kecerdasan Fisik ? Kecerdasan Fisik adalah kemampuan anda untuk memahami, mencintai dan memelihara tubuh anda, dan membuatnya berfungsi seefisien mungkin untuk anda. Jika Anda memiliki Kecerdasan Fisik yang Tinggi, anda akan memahami hubungan antara otak dan tubuh anda. Pikiran yang sehat ada di dalam badan yang sehat, badan sehat ada dalam pikiran yang sehat.

Terus So What dengan dengan Kecerdasan Fisik ? Saya akan jawab juga dengan pertanyaan, apakah penting bagi anda jika :

  • Tubuh anda dapat melawan berbagai penyakit yang menyerang ?
  • Kualitas dan harapan hidup anda meningkat ?
  • Otot-otot anda dapat melaksanakan tugas tugas yang Anda butuhkan ?
  • Energi mental dan kreativitas meningkat ?
  • Panca indera anda berfungsi dengan baik ?
  • Kekuatan tenaga anda tinggi ?
  • Anda memiliki stamina yang tinggi ?
  • Tubuh dan pikiran anda relaks ?
  • Anda merasa bugar, bahagia, dan sehat sepanjang hidup anda ?

Itulah sebabnya mengapa Kecerdasan Fisik itu penting! Bab bab selanjutnya dikhususkan untuk menjelaskan hal-hal yang penting itu

2. Pikiran Lebih Penting daripada Tubuh

Pada bab ini anda akan lebih banyak mempelajari tentang hubungan antara pikiran dan tubuh. Ini akan dijelaskan oleh sebuah cerita berikut: Ceritanya ada beberapa Karyawan OJT pabrik tahu yang dikirim ke Markas latihan Angkatan Darat untuk menjalani latihan kedisiplinan. Di sana ada seorang Sersan yang terkenal menjengkelkan, namanya Sersan Betewe. Sersan tersebut berkata sambil nyengir “Selamat datang di kamp latihan. Yang akan kita lakukan hanyalah lari lari kecil saja, oh iya btw sambil lari tolong tas punggungnya dibawa dan btw saya juga memohon agar tas tersebut diisi barang sampai penuh, setelah terisi silahkan lari mengelilingi kamp sebanyak 5 putaran. Setelah itu balik ke tengah lapangan”. Padahal jalan disekeliling kamp itu tanahnya bergelombang ada bukit bukit kecil setinggi 6 sampai 9 meter dan berbatu-batu. Setengah jam kemudian para OJT itu sudah berkumpul kembali ditengah kamp dengan nafas terengah-engah. Kemudian sersan itu berkata, “Tujuan lari ini adalah untuk menguji apakah kalian memang sungguh sungguh bugar. Dan saya yakin kalian senang karena mengetahui kondisi kalian yang lumayan bugar”. Dan semua OJT menarik nafas lega sambil berkata “Ya, kami semua merasa senang” “Emmm.. btw supaya kalian lebih bugar dan senang, gimana kalau kalian melakukanya LAGI ?” Tanya Sersan Betewe. Kemudian hening selama beberapa menit karena semua OJT berfikir bisa pingsan atau mati beneran nih. Dan begitulah mau nggak mau mereka berlari lagi. Mereka benar benar sangat kelelahan kali ini. Mereka kembali sekitar 30 menit kemudian. Saat itu mereka benar benar seperti sudah tidak punya tenaga lagi. Semua saling menyandarkan badan supaya bisa berdiri tegak. Sersan itu berkata, “itulah! Kalian benar benar tidak tahu kalian ini sebenarnya mampu melakukan apa. Saya yakin kalian semua terheran heran. Apa yang telah kalian perlihatkan adalah kalian mampu melakukanaya setidaknya dua kali dari yang sudah kalian lakukan sebelumnya. Itu lebih daripada yang kalian bayangkan sebelum memulainya, kan ? Dan lihatlah, sama sekali tidak ada masalah. Apakah kalian semua setuju ?” Dan kami semua bergumam, “Ya, benar, kami sudah sampai disini dan mampu melakukanya dua kali.

Well, kalau gitu sekarang waktunya ngeteh dan btw gimana kalau sambil menunggu tehnya jadi kalian lakukan satu kali lagi, 4 putaran saja” ucap sersan tersebut. Singkatnya mereka melakukanya lagi dan kembali dengan keadaan luar biasa lelah . Tapi toh sang serasan berkata “Sekarang lihat kalian sudah mampu melakukan untuk ketiga kalinya ini adalah hikmah yang sederhana. Apa apa yang kalian perkirakan mampu kalaian lakukan, itu baru sebagian saja, yang sebenarnya adalah kalian mampu menembus suatu ‘neraka’ yang lebih berat daripada yang kalian pikirkan…Ya ya ya kita manusia mempunyai kemampuan sangat besar, lebih besar daripada yang kita yakini dapat kita lakukan, karena sampai sebelum seseorang datang dan mendorong kita ke kemampuan yang lebih tinggi, sekarang ini sebenarnya kita baru melakukan setengahnya saja. Dr Yue membuktikan bahwa seseorang dapat meningkatkan kekuatan otot hanaya dengan mengirimkan sinyal yang lebih kuat kepada saraf-saraf penggerak otak. Dia meminta 10 orang relawan berusia 20-35 tahun untuk mengangan-angankan meregangkan satu dari otot bisep sekuat tenaga dengan frekuensi 5 kali latihan dalam seminggu. Ketika para relawan itu meregangkan lenganya masing masing, para peneliti mencatat aktivitas listrik dari otak selama sesi itu. Hasilnya setelah beberapa minggu ternyata mereka tidak hanya memperlihatkan 35% peningkatan kekuatan oto, tapi juga mampu mempertahankan capaian itu selama tiga bulan setelah latihan itu dihentikan.

3. Latihan Membentuk Tenaga

Bab ini ditulis untuk membantu anda mengembangkan kekuatan dan daya otot. Dengan melakukan ini anda akan melangsingkan dan membentuk otot otot anda,meningkatkan tingkat tenaga secara menyeluruh, menguatkan tulang-tulang, membuat tulang-tulang itu lebih luwes, meningkatkan kemampuan anda untuk menarik, mendorong dan mengangkat, melindungi anda agar tidak cedera, menguatkan system kekebalan anda, dan sangat meningkatkan rasa percaya diri anda. Penelitian yang belum lama ini dilakukan untuk menguji manfaat olahraga juga telah menggugurkan mitos bahwa anak-anak pintar itu lemah, kerempeng, dan lamban. Semua penelitian itu melaporkan sesuatu yang sebaliknya. Pada penelitian di Prancis ditemukan anak anak yang diberi kegiatan olahraga secara ekstra setiap harinya yang waktunya diambilkan dari jam pelajaran sekolah ternyata tampil lebih baik daripada anak anak yang mendapat latihan olahraga dalam jumlah yang kurang.. Dalam suatu penelitian di Australia, hasil-hasil ini berlipat dua untuk sekelompok murid sekolah di Adelaide. Mereka diberi kegiatan kebugaran dalam jumlah yang lebih banyak. Dua tahun kemudian, nilai-nilai mereka untuk aritmatika dan membaca lebih tinggi dan tingkah laku mereka secara keseluruhan lebih baik. Tampaknya terdapat kaiatan yang kuat antara tingginya tingkat kegiatan fisisk dan prestasi akademis yang tinggi di sekolah . Kegiatan fisik meningkatkan konsentrasi anak-anak dan kemampuan mereka dalam belajar. Di sekolah-sekolah yang memberikan pendidikan fisik dan kegiatan olahraga di luar jam pelajaran, prestasi akademis murid muridnya banyak mengalami peningkatan. Mengapa hasil-hasil capaian ini begitu konsisten ? sebab, peningkatan kegiatan badan memperlancar aliran darah ke otak, dan ketika menajalankan tugas belajar (baik yang bersifat fisik maupun mental) peningkatan itu menyebabkan timbulnya formasi kegiatan syaraf- yaitu urat-urat saraf ramping yang tumbuh bercabang-cabang dari saraf neuron dan menambah jejak-jejak saraf serta meningkatkan pemetaan saraf dalam otak. Inilah keadaan saling terkait secara fisik yang berlipat ganda. Ini seperti yang diungkapkan oleh Dr Susan Greenfield, Profesor Farmakologi di Oxford University : “Otak sangat peka terhadap apa yang terjadi pada tubuh. Semakin banyak anda berionteraksi dan merangsang sirkuit otak, sel-sel otak anda semakin cerdas. Semakin cerdas sel-sel otak, semakin tangkas tubuh anda; semakin cerdas tubuh anda, semakin tangkas otak anda! Seperti sebuah lingkaran malaikat.

Baiklah langsung saja menuju latihan apa saja yang akan memebentuk tenaga kita sehingga merangsang otak kita juga. Mulailah latihan ini dengan beban yang lebih rendah. Lakukan setiap latihan ini tiga kali, dan satu menit istirahat di antara ketiganya. Dalam setiap latihan, ulanglah 5 atau 6 kali.

Latihan bahu-Mengangkat beban ke samping badan

Dada-dengan mengangkat barbell pada bangku

Punggung-Dumbel dengan satu tangan

Bisep-mengangkat dumbel

Bisep-Push-up

Paha (kuadrisep : depan)-Dumbell Squat

Paha (Hamstring: belakang)-Dumbbell lunges

Torso (Otot Perut)-Sit-up

Bersambung………

Jadi Anak anak, Why Not ?

Di suatu sore aku membaca tulisan yg menurutku cukup menarik. tulisan tersebut menjelaskan bahwa manusia di ciptakan dalam kesempurnaanya. Ia akan kehilangan kesempurnaan jika tidak bisa menjaga fitrahnya. Lalu apa itu sebenarnya fitrah? Istilah fitrah menurut pemikir islam, Murtadha Mutahari adalah bawaan alami, yang sudah melekat pada manusia, tanpa perlu diperoleh melalui usaha. Fitrah adalah eksistensi yang ada dalam kalbu dan nurani kita untuk mendapatkan hakikat kebenaran. Kalo kita ingin melihat seperti apa kondisi fitrah manusia, kita bisa mengamati kehidupan anak balita. Anak anak seusia itu akan selalu merasa bahagia, senang, tanpa beban, dan total dalam mengerjakan sesuatu. Saat bermain ia akan total bermain, saat menangis ia akan 100% menangis, dan saat tertawa ia akan tertawa dengan lepas. Anak anak selalu berada di present moment, selalu terfokus pada apa yang sedang ia alami saat ini. Seorang spiritualis mengatakan bahwa dirinya adalah anak2. Ia merasa dirinya senantiasa diliputi kebahagiaan. Itulah yang seharusnya manusia pertahankan dalam hidupnya sehingga ia tetap pada fitrahnya. Sayangnya, lingkungan hidup manusia telah membuat mereka melenceng jauh dari fitrahnya. Seiring anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa, semua kesempurnaan manusia yg mereka miliki sejak lahir pun semakin pudar. Untuk itu berusahlah menjadi anak2 agar dapat kembali menemukan fitrah kita. Yang selalu berbahagia. Yang selalu terfokus pada yang jadi tujuan. Yang sekalu ikhlas & berprasangka baik terhadap yg lain. Yang selalu bersyukur pada semua yg telah diperoleh.