Review Film Coco

Kemarin kami berempat (saya, istri, kakak hafiy dan adik alin) menonton film Coco di Bioskop. Kami terdorong menonton film ini karena  beberapa kawan sufi (suka film) memberikan komentar positif terhadap film ini.

Secara singkat film ini menceritakan seorang anak bernama miguel yang mengejar mimpinya menjadi pemusik karena terinspirasi oleh ayah nenek buyutnya. Meski demikian keinginannya bertentangan dengan keinginan keluarga besarnya yang seluruhnya berprofesi sebagai pembuat sepatu. Konon ayah nenek buyutnya meninggalkan keluarganya karena mengejar obsesi sebagai pemusik. Nah, apakah mimpi miguel akan tercapai ?

Namun ditengah film, saya dikejutkan oleh plot twist yang kurang ajar bagusnya. Benar-benar mematahkan harapan dan kesimpulan saya terhadap  inti cerita. Ya saya hampir lupa, film ini judulnya Coco bukan Miguel. Twist ini menurut saya lebih menarik daripada twiat di film spiderman homecomin.

Oh iya, visual film ini benar-benar memanjakan mata karena kaya akan warna dan detail. Mengambil latar belakang cerita tentang Hari orang mati yang merupakan budaya meksiko. Jadi menurut kepercayaan mereka, pada hari orang mati, arwah-arwah mereka yang sudah meninggal akan datang ke dunia untuk mengunjungi keturunannya. Syaratnya keturunannya harus memasang foto di tempat sesajen. Saya jadi inget dengan dulu waktu kecil, Eyang Putri saya pada hari-hari tertentu sering memberikan sesajen berupa kue apem dan lain-lain. Menurut beliau, ini untuk eyang kakung yang akan datang malam nanti. Keesokan paginya eyang sangat senang, mengetahui kue apemnya sudah “dimakan” eyang kakung, padahal siapa lagi yang makan kalau bukan cucunya ini hahaha.

Scene terbaik dalam film ini menurut saya adalah, Scene yang mewakili para ayah di seluruh dunia yang sering menjalani Long Distance Relationship dengan keluarganya namun berharap segera bertemu untuk setidaknya menyanyikan sebuah lagu. Pada momen tersebut, saya langsung teringat ketika sedang dinas luar selama beberapa minggu dan ingin sekali berada di rumah untuk mendongengi anak saya.

Menonton film ini, saya setidaknya mendapatkan beberapa pesan, yaitu:

  1. Saya ingin  berkumpul bersama keluarga saya baik di dunia yang sementara ini maupun di surga nanti.
  2. Kasih sayang yang diungkapkan orang tua pada anak akan terkenang sampai dewasa, bahkan tua.
  3. Meski usia tidak panjang, namun berusaha agar amal baik dan karya dikenang oleh orang lain sehingga menjadi tabungan pahala yang terus mengalir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s