REZEKI YANG I’TIDAL 

Oleh Muhammad Nurul Banan 


Saya pernah menuliskan bahwa “Tuhan di Posisi I’tidâl Shalat”, begini, “Tuhan merupakan pribadi dengan keseimbangan total. Karakter-karakter-Nya merupakan keterkaitan yang saling terhubung antara satu sama lain. Al-Jabbar: Maha Otoriter disinkronkan dengan watak Ar-Rauf: Maha Penyantun. Adh-Dhārr: Maha Mencelakai disinkronkan dengan An-Nāfi’: Maha Bermanfaat. Al-Mutakabbir: Maha Besar diri disinkronkan dengan Al-Lathīf: Maha Lemah-lembut. Dan seterusnya.”
Saya juga menjelaskan, “Artinya pribadi Tuhan itu menganut sistem keseimbangan mutlak. Jika Tuhan hanya santun, bermanfaat, lemah-lembut, Dia akan dinilai lemah, lalu Dia mudah disampahkan orang, tanpa wibawa. Juga kalau Tuhan hanya otoriter, mencelakai, sombong diri, Dia akan dinilai preman fasis anti toleransi, Dia hanya ditakuti tanpa kharisma,” jelas saya dulu.
“I’tidāl shalat merupakan gerakan menyeimbangkan diri antara aktifitas berdiri dan sujud dalam shalat. Berdiri itu meninggi, sujud itu merendah, keduanya ditengahi dengan i’tidāl, yakni “menjadi adil” di antara dua perbuatan ekstrem yang berlawanan sehingga menjadi seimbang.” 
“Karena ini, Tuhan penganut prinsip i’tidāl shalat, Dia berkebijaksanaan pun dengan kebijaksanaan yang seimbang, Dia berkarakter pribadi pun menganut pola i’tidāl.”
“Dan alam semesta ini juga mutlak dari akumulasi hukum keseimbangan, yakni sistem i’tidāl, baik secara fisika, biologi, maupun ruhani, karena alam ini dilahirkan oleh Tuhan yang i’tidāl,” begitu akhir saya menjelaskan.
Hukum alam merupakan kesepakatan hukum keseimbangan atau hukum i’tidal. Yang paling lemah adalah gaya gratifikasi alam semesta, sebanding dengan kekuatan grafitasi atom yang merupakan gratifikasi paling kuat. Patuh pada hukum i’tidal alam.
Akan halnya sistem timbangan, satu sisi neraca yang berisi 10 kg batu akan seimbangan dengan 2 karung kapas. Kalau tidak, pasti njomplang. Ia patuh pada hukum i’tidal alam.
Seorang yang sombong, selayaknya dijatuhkan, karena sombong pada hakikatnya naik terus, kalau tidak dijatuhkan menjadi tidak seimbang. Demikian halnya yang tawadhu’, dia merendah, selayaknya dia diangkat naik. Seorang yang sombong tidak dijatuhkan pun, dia pasti jatuh sendiri, atau seorang yang tawadhu’ tidak diangkat pun dia akan terangkat sendiri, karena patuh pada hukum i’tidal alam.
Jadi, semua yang di alam semesta ini melakukan gerak i’tidal shalat. Gerak menyeimbangkan diri di antara dua perihal.
Keberlimpahan satu paradok ekstrem diseberang paceklik, kekayaan juga satu paradok ekstrem diseberang kemiskinan. Keberlimpahan dan kekayaan bukan lagi sistem ‘i’tidâl alam, keduanya satu titik di ujung keekstreman.
Maka ini ketika Anda yang ingin meraih keberlimpahan dan kekayaan, Anda justru harus menarik dan masuk dalam pemiskinan diri, sebagaimana Anda yang hendak ekstrem bersujud maka Anda harus ekatrem meninggi berdiri. Tanpa meninggi berdiri Anda tidak pernah mampu sujud kecuali Anda teriena darurat seperti halnya sakit dan cacat fisik.
Memiskinkan diri untuk meraih keberlimpahan dan kekayaan artinya bukan Anda membangun semacam mental miskin, tetapi Anda memiskinkan ego sendiri demi mengkayakan perasaan orang lain.
Jadi sangat sederhana jika ingin kaya harta, i’tidâl-kan saja rezeki Anda dengan jalan memiskinkan ego Anda dalam soal kepentingan meraih rezeki. Kerja sebaik-baiknya lalu berikan sebanyak-banyaknya rezeki Anda pada orang lain, karena penyebab miskinnya rezeki Anda karena rezeki Anda belum i’tidâl. I’tidâlkan rezeki Anda!
Bukankah sedekah itu mekanisme memiskinkan ego diri? Sedekah itu Anda kenyangkan orang lain sementara perut sendiri entar nomor belakangan. Kalau masalahnya melarat terus, i’tidàl-kan dengan sedekah.
Kadang rezeki sudah banyak tapi “ngenes” melulu. Tetangga kanan-kiri nyebut Anda orang kaya, tapi Anda kemerungsung terus hidupnya, suami istri bertengkar kemelut, usaha besar tapi terasa hanya untuk setor bank, stres dikejar-kejar target bisnis terus tapi cuma dapat capai. Keadaan-keadaan ini adalah yang tidak i’tidâl, padahal Anda disebut kaya.
Ingin selesai dari masalah-masalah itu caranya i’tidâl-kan rezeki Anda. Masalah-masalah tersebut adalah masalah kemelut materilisme. Dunia ini hakikatnya kekeruhan, maka tanda Anda terjebak dalam materialisme, keadaan hidup Anda menjadi keruh. 
Sebab ini agar i’tidal lagi rezeki dan kehidupan Anda, maka putus akar rumputnya. Akar rumputnya adalah “menuruti gaya hidup sehingga tidak terasa merugikan orang lain”.
Cara meng-i’tidâl-kannya, gaya hidupnya hentikan, hidup seadanya dan secukupnya, banyak-banyak menahan diri dari rasa ingin meraih target dan rasa ingin meraih banyak, lalu berbalik arahlah dengan banyak memberi kepada orang lain.
Keadaan hidup Anda ekstrem di kanan atau di kiri, maka i’tidâl-kan dengan memberatkan lawan yang seimbang, karena Tuhan dan mekanisme alam-Nya selalu paten dalam i’tidâl shalat.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s