Ringkasan Theory of Constructed Emotion

Oleh : Teddi Prasetya Yuliawan 

Inti dari buku ini adalah membahas _Theory of Constructed Emotion_. Teori yang dipelopori oleh penulisnya. Teori ini mengoreksi pandangan lama tentang emosi yang sudah dipakai sejak zaman Darwin. 

Tempo hari saat saya share pertama kali, Mas Bayu⁩ sempat tanya apakah ini kontra dengan riset-riset Paul Ekman. Fyi, Ekman adalah pakar emosi kenamaan yang riset-risetnya membuktikan bahwa emosi itu punya semacam ‘sidik jari’. Sederhananya, ekspresi emosi manusia di berbagai belahan dunia itu punya kesamaan. Riset-riset Ekman dan yang lain membuktikan hal ini. Ketika subyek riset di Papua Nugini ditampilkan gambar ekspresi emosi, mereka bisa menebak dengan tepat emosi apa itu. Simpulan pandangan ini ya tadi: emosi punya semacam sidik jari. 
Pandangan ini didasari oleh asumsi lain. Emosi punya sidik jari, sebab ia lahir dari proses yang standar di dalam diri, secara fisiologis. Lebih tepatnya, otak kita punya bagian tertentu yang kerjanya memicu emosi tertentu. 
Nah, Lisa Feldman meneliti dengan asumsi ini awalnya. Rupanya, bertahun-tahun, yang ia temukan tidak signifikan hasilnya. Ia merasa gagal. Ada yang salah dengan proses riset atau datanya. Begitu ia berpikir.
Singkat cerita, ia baru menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan datanya. Yang ‘salah’ adalah cara memahaminya. Asumsi yang digunakan. 
Ya. Asumsi bahwa ada bagian tertentu di otak yang tugasnya memicu emosi tertentu inilah penyebabnya. Di eranya Ekman, alat memindai cara kerja otak belum secanggih belakangan. Jadi belum terlalu presisi. Maka asumsi tadi bisa dianggap valid. Ketika dilihat lebih dalam, ternyata tidak. 
Terus, asumsi yang sekarang gimana? 
Asumsi sekarang, cara kerja otak itu digital. Bukan analog. Maka emosi tertentu, bisa dipicu oleh bagian otak yang beragam saling terintegrasi. 
Terus, dasarnya apa dong kita merespon dengan emosi tertentu? 
Pengalaman masa lalu. Maka emosi itu _learned_. Ia dipelajari melalui pengalaman. Orang yang tidak pernah belajar bahwa meninggalkan shalat itu menggelisahkan ya ga akan gelisah. Orang yang tidak belajar mencintai sesuatu ya tidak akan merasa kehilangan sesuatu. 
Maka jadilah teori ini disebut _Theory of Constructed Emotion_. Bahwa emosi itu diciptakan. Disusun. Distimulasi oleh kita sendiri. 
Di NLP, kita sudah tahu ini sejak lama. Hanya saja secara praktis dan filosofis. Kini kita punya pemahaman secara riset empiris. 
La terus, gimana tadi itu dengan risetnya Ekman dkk? 
Na ini serunya. Lisa Feldman menelaah ulang proses riset dengan metode yang digunakan oleh Ekman dkk. Simpulannya, datanya valid. Yang jadi masalah adalah alat pengumpulnya. 
Loh? Kok?
Jadi gini. Alat yang digunakan dalam riset model lama, itu menampilkan gambar ekspresi emosi, lalu disertai dengan pilihan kata-kata emosi di sampingnya. Nah, kalau modelnya begini, maka hasilnya akan valid. Orang berbagai budaya bisa mengenali emosi yang sama. 
Tapi begitu alatnya dimodif sedikit, yakni hanya gambar, tanpa pilihan kata emosi, hasilnya langsunt variatif. Tidak konsisten. 
Sounds familiar?
Di NLP ini namanya……………
Framing. Ini juga yang disimpulkan Barret. Bahwa pilihan kata itulah yang secara halus mengarahkan pilihan subyek. 
Terus, ga valid sama sekali kah Ekman? Udah jadi model training mendunia lho. Hehe..
Bukan. Bukan begitu cara memahami riset. 
Barret justru menyimpulkan makin kuat bahwa emosi itu berasal dari persepsi dan ia _constructed_. Lihatlah. Begitu mudahnya pilihan orang berubah hanya karena ada tambahan tools. Tambahan pilihan. 
Kita di NLP, sekali lagi sudah tahu ini secara praktis dan filosofis. Ada  presuposisi yang mengatakan *’manusia bertindak berdasarkan pilihan yang tersedia dalam dirinya’*. 
La bener to? 
Karena emosi itu _constructed_, maka teraksesnya ya tergantung pilihan yang dimiliki berdasarkan pembelajaran yang dilalui. 
Begitu mudahnya kita di- _frame_ dan mem- _frame_ pikiran dan emosi kita menjadikan kita makin paham bahwa tanggung jawab pertumbuhan diri itu ada di dalam diri. Sudah tidak valid lagi secara empiris menyalahkan orang lain atas nasib kita. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s