Kemenangan Semu dan Hubungannya dengan Vibrasi 

Kalau ribut dengan pelanggan,
Walaupun kita menang,

Pelanggan tetap akan lari.
Kalau ribut dengan rekan sekerja,

Walaupun kita menang,

Tiada lagi semangat bekerja dalam tim.
Kalau kita ribut dengan boss,

Walaupun kita menang,

Tiada lagi masa depan di tempat itu.
Kalau kita ribut dengan keluarga,

Walaupun kita menang,

Hubungan kekeluargaan akan renggang.
Kalau kita ribut dengan guru,

Walaupun kita menang,

Keberkahan menuntut ilmu dan kemesraan itu akan hilang.
Kalau ribut dengan kawan,

Walaupun kita menang,

Yang pasti kita akan kekurangan kawan.
Kalau ribut dengan pasangan,

Walaupun kita menang,

Perasaan sayang pasti akan berkurang.
Kalau kita ribut dengan siapapun,

Walaupun kita menang,

Kita tetap kalah…
Yang menang cuma ego diri sendiri, itu hanyalah kemenangan semu.
Yang susah adalah mengalahkan ego diri sendiri. Namun, jika kita mampu menaklukan diri sendiri, ialah pemenang sejati.
Apabila menerima teguran, tidak perlu marah, bersyukurlah, masih ada yang mau menegur kesalahan kita.

====================================

Saya pernah membaca broadcast (bc) ini di salah satu group WhatsApp. Hanya saja waktu itu tidak terlalu berkesan hehehe… 

Baru setelah saya mengalami serangkaian kejadian, saya teringat kembali dengan bc tersebut ketika salah seorang kawan mempostingnya di facebook. 

Inti pesannya adalah janganlah kita memuaskan dan memenangkan ego kita sendiri lalu  mengorbankan banyak hal yang ujung-ujungnya membuat kita menderita. 

Saya teringat cerita saudara tiri ayah saya yang dikisahkan kepada saya ketika saya masih SD. 

“Adhie kamu jangan niru om justin, dia itu pinter pol. Kuliahnya saja di ITB dengan IP 3 koma,  tapi akhirnya gak selesai karena debat dengan disennya. Akhirnya dosennya jengkel dan om justinmu ga selesai skripsinya kemudian Out Dhewe (OD)” 

Cerita itu saya ingat selalu, dan ketika kuliah saya punya target yang penting kudu lulus, dosen baik atau nggapleki lontong ga masalah buat saya. Untungnya dosen saya baik baik. 

Sayangnya yang saya pegang adalah momen atau event ceritanya bukan esensinya. 

Saat saya berada pada peran yang lain, saya cenderung memuaskan dan memenangkan ego saya sendiri. Ternyata saya sendirilah yang nggapleki lontong. 

Misalnya, ketika berhubungan dengan anak saya. Saya cenderung ga mau kalah, namanya anak itu ya harus nurut. Padahal seharusnya kebahagiaan anak saya haruslah yang utama, karena saya tidak tau berapa lama lagi saya akan bersama mereka. 

Ketika istri saya berbuat sesuatu yang tidak mengenakkan hati saya, saya cenderung jengkel. 

Padahal saat saya mau menang sendiri, saya berada pada level energi keinginan (125) yang merupakan level energi rendah (force) 

Sedangkan pada saat saya jengkel dan kurang permakluman saya berada pada level energi marah (150) yang juga merupakan level energi rendah. 

Alangkah baiknya jika saya menggeser pada rasa penerimaan (350) dan cinta (500) yang berada pada level energi tinggi.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s