NLP for Auditor

NLP Audit

Setahun sudah saya bertugas sebagai internal auditor dari perusahaan pembangkit listrik yang terpercaya kini dan mendatang. Hari hari pertama saya ragu apakah saya bisa menjalankan amanah ini karena sudah lebih 7 tahun saya sebagai ‘pemain’ bukan ‘pemeriksa’. Lalu apa yang saya lakukan untuk segera tune in di bidang ini. Pertama tentu saja saya harus tahu prinsip-prinsip utama atau filosofi dalam audit setelah itu baru berlatih untuk menguasai kemampuan teknisnya.

Tugas pertama saya sebagai auditor saya jalani dengan antusias. Umumnya untuk satu lokasi obyek audit (pembangkit listrik) saya diberi waktu 10 hari kalender (termasuk sabtu minggu) termasuk pembahasan hasil audit dan closing meeting. Kendala yang paling terasa adalah rasa bosan dan tidak sabar karena harus telaten membuka, membaca dan mengkonfirmasi dokumen dokumen yang belum tentu ditemukan indikasi pelanggaran terhadap aturan dan ketentuan.

Setelah melalui beberapa penugasan dan perenungan saya menemukan cara untuk menyukai pekerjaan ini. Sedikit banyak cara saya dibantu oleh ilmu lain yaitu Neuro Linguistic Programming (NLP). Lalu bagaimana mengaplikasikannya pada penugasan audit sehari-hari… ?

1. Sikap Mental

Sikap mental saya setiap menemui sasaran baru (misal saya background saya keuangan, namun harus memeriksa kinerja pembangkit) adalah “Duh ini pasti ruwet” atau “Apalagi sih ini”. Ketika hal tersebut yang muncul di pikiran saya, maka kelanjutan ceritanya adalah sebuah proses yang berdarah-darah dan penuh perjuangan diselimuti rasa gelisah apalagi jika deadline semakin mendekat. Sungguh sesuatu kondisi yang sama sekali tidak saya inginkan. Untuk mengatasi hal tersebut saya mencoba untuk berfokus pada apa yang saya inginkan (outcome). Aha ketemu, saya meniatkan untuk memberikan rekomendasi terbaik sesuai kapasitas dan kapabilitas saya. Lalu saya tanamkan bahwa setiap penugasan adalah sara untuk mempelajari suatu hal yang barušŸ™‚

2. Time Line

Dengan teknik ini sebelum audit dimulai, saya sudah membayangkan diri saya sendiri melompat ke waktu 10 hari kedepan. Saya bayangkan di 10 hari kedepan itu saya merasa puas dengan apa yang sudah saya lakukan. Saya juga melihat auditee juga merasa terbantu dengan apa yang sudah saya rekomendasikan demikian juga dengan Kepala Satuan, Direksi, Dekom juga merasa bahwa audit ini memang bermanfaat. Saya rasakan semua sensasinya, lalu saya mulai melihat 10 hari kebelakang, apa-apa saja yang sudah saya lakukan sehingga bisa memperoleh hasil seperti ini. Lalu setelah kembali ke ‘masa kini’ saya mulai bekerja dengan anntusias.

3. Bangun Rasa Penting dengan Highly Valued Criteria (HVC)

Pada langkah ini saya mencoba menggali apa yang secara pribadi saya rasakan sangat penting bagi saya. dalam istilah NLP ini disebut kriteria bernilai tinggi (HVC). Kemudian kriteria ini lah yang saya hubungkan dengan audit. Misalnya hal yang membuat saya excited adalah memenangkan pertandingan sepakbola dengan jurusan lain di kampus dan saya menjadi bintang lapangannya. Dari hal yang saya suka tersebut saya coba gali HVC-nya dengan selftalk seperti ini :

Ridho 1 : Apa sih arti penting dari memenangkan futsal dan menjadi pemain terbaik ?

Ridho 2 : Ya asyikk aja, aku ngerarasa seperti Captain Tsubasa yang menjebol gawang tim Eropa.

Ridho 1 : Wah keren tuh, terus emang kenapa kalau kamu udah ngerasa seperti Tsubasa.

Ridho 2 : Ya aku ngerasa udah menampilan permainan yang excellent.

Ridho 1 : Wooow, terus apa sih yang membuatmu merasa ingin menjadi Tsubasa

Ridho 2 : Aku ingin membuat sejarah, aku ingin menjadi legenda sepakbola.

Ridho 1 : Oke kalau begitu setiap kaliĀ  kamu mendapat tugas audit, lakukan itu seolaholah kamu sedang bertanding seperti Captain Tsubasa untuk menjadi legenda yang menciptakan sejarahšŸ™‚

4. Bangun Rasa Suka dan Mampu dengan Circle of Excellent

Saya akam membayangkan ada sebuah lingkaran berwarna emas di depan saya. lalu saya membayangkan melakukan hal hal yang sangat saya sukai di dalam lingkaran tersebut (misal traveling, bercengkerama dengan anak-anak saya, ngopi-ngopi dengan sahabat karib saya). Lalu saya menajamkan apa yang saya lihat di lingkaran itu, apa yang saya dengar, apa yang saya rasakan, aroma apa yang tercium. Setelah jelas semuanya, saya akan masuk kedalam lingkaran tersebut dan merasakan semua sensasi tadi. saat saya akan menuju puncak sensasi tersebut, saya akan memasang tombol anchor dengan menggenggam erat tangan kanan saya. saya lakukan berkali kali sampai ketika saya menggegam tangan kanan saya, otomatis saya merasakan semua sensasi tersebut. Setelah itu setiap kali saya mengaudit saya akan hadirkan lingkaran tersebut mengelilingi kursi saya, lalu saya akan duduk di kursi di dalam lingkaran tersebut sembari menggenggam tangan kanan saya lalu mulai mengaudit.

Alhamdulillah semua ini bekerja dengan baik untuk saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s