Jadi Pengusaha Itu Gak Enak Kalau Hanya Mengejar Kekayaan

Tulisan 5 tahun yang lalu namun belum sempat terpublish.

Gelisah hati ini saat banyak orang orang termasuk sebagaian teman yang berpandangan bahwa satu satunya jalan menjadi kaya adalah dengan menjadi pengusaha. Bukan aku benci pengusaha, bukan pula karena aku seorang karyawan. Apalagi dengan makin menjamurnya motivator motivator yang menjual dagangan bagaimana uang mengejar ngejar anda, bagaimana membeli rumah tanpa uang, cara edan jadi pengusaha. Seolah olah menjadi pengusaha sukses itu gampang (ada shortcut-nya) sehingga muncul pemikiran sekolah atau kuliah itu gak penting lha wong lulusan SD aja bisa ngalahin yang kuliah S2, kemudian jadi pengusaha itu tinggal santai maka uang akan datang sendiri, punya kebebasan waktu. Penasaran dengan hal tersebut saya mencoba untuk mengintip kehidupan 2 orang pengusaha yang juga teman lamaku (nama disamarkan)

1. Gatot Kaca

Gatot adalah seorang pengusaha dibidang konveksi yang sekarang sudah banting setir menjadi pengusaha dibidang aksesoris. Dia mempunyai beberapa outlet kacamata di sebuah mall dan juga beberapa outlet oleh oleh khas Surabaya. Menurutnya berbisnis seperti ini uangnya cepat muter. cepat di dapatkan dan cepat untuk digunakan lagi untuk kulakan. berbeda saat dulu dia bisnis koveksi yang berdasarkan order. uang baru datang setelah melalui proses yang sangat panjang mulai dari telemarketing, keliling keliling naik motor, janjian dengan calon klien, presentasi, mengajukan desain, pergi ke penjahit, revisi desain, cari utangan supaya bisa produksi, menanggapi komplain dan akhirnya menunggu pembayaran yang kadang lama sekali. Suatu malam aku secara tidak sengaja bertemu dengannya. saat itu ia sedang membriefing anak buahnya. Selesai briefing ia mentraktirku untuk menemaninya makan, minum dan nongkrong. usut punya usut dia melakukan briefing karena penjualan saat long weekend lesu, padahal weekend adalah masa masa panen bagi para pedagang di mall mall. Beberapa pernyataan yang kuingat darinya antara lain “bisnis tak semudah apa yang dilihat orang-orang, teman teman cuma tahu kalo bisnisku itu berkembang. Aku memilih jalan ini karena aku teringat dulu pernah ada kuliah tamu dari dosen  singapura yang mengatakan bahwa mahasiswa indonesia akan menjadi buruh mahasiswa singapura di negara indonesia sendiri. “Kami orang singapura melihat indonesia itu banyak sekali yang bisa di jadikan uang”. Berangkat dari idealismenya tersebut ia sekarang juga mempunya profesi sampingan, sebagai dosen mata kuliah wirausaha di sebuah universitas di Surabaya.

2. Janoko

Janoko ini seorang teman lamaku yang sangat baik dan lucu, saking baiknya mungkin banyak wanita yang telah berkata “kamu terlalu baik untukku” hehehe. Bisnis Janoko adalah sebuah Kafe yang terletak di dekat sebuah kampus swasta ternama. Kafenya ini menyajikan kenikmatan minum kopi kelas premium dengan harga relatif murah.

6 bulan pertama berdirinya kafe tersebut adalah masa yang berdarah-darah, dalam sehari ia hanya tidur selama 4 jam. Targetnya gak muluk-muluk yaitu survive dalam 6 bulan. permasalahan permasalahan yang dihadapinya sangat kompleks yang membuat setiap waktunya tercurah untuk memikirkan bagaimana kafenya bisa survive dan berkembang. Terkadang ia merindukan saat saat dulu kerja kantoran di sebuah agency, ia juga mupeng melihatku bisa bersantai bareng keluarga sedangkan dia saking fokusnya sampai lupa untuk berkeluarga. lalu apa yang membuatnya bisa bertahan menghadapi masa masa berdarah itu hingga saat ini. ternyata jawabanya ia ingin menjadi The Connectors.

Ia berharap dengan kafenya bisa menjadi tempat berkumpul semua teman-temannya seperti di serial Friends. Dengan kafenya ia akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertemu teman-teman lama, membangun network, dan juga mempertemukan pihak-pihak yang saling membutuhkan. Ia pernah bercerita salah seorang tamunya mempunyai bisnis kopi namun tidak tahu cara mengemasnya. sementara ia kenal dengan temannya yang berbisnis kemasan. Ia pertemukan keduanya,jadilah bisnis.

Ada lagi salah seorang teman kuliahnya masih nganggur, sementara ia kenal dengan temannya satunya yang sedang mencari pegawai untuk usahanya. Ia pertemukan keduanya, dan ternyata cocok. Peran sebagai The Connectors ini yang menjadi idealismenya.

Dari keduanya aku melihat mereka berbisnis memang mengejar profi, namun lebih dariitu mereka mempunyai internal motivation sendiri yang menjadi mesin penggerak aktivitas bisnisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s