Kisah Seputar Mendidik Asisten Rumah Tangga (ART)

Sebagai pasangan suami isteri yang sama sama bekerja di kantor, kebutuhan akan Asisten Rumah Tangga (ART) merupakan hal yang tak bisa ditawar lagi. Bahkan selama 5 tahun berumah tangga, kami sudah mengalami banyak sekali pergantian ART. Durasi masa kerja paling cepat 3 hari, paling lama 2 tahun. Selama waktu tersebut kami mendapatkan beberapa pembelajaran antara lain :

  1. Mempertahankan lebih mudah dibandingkan mencari ART. karena berganti ART itu lebih melelahkan dan menguras energi ketimbang berganti pacar #eh
  2. Saat mendapatkan ART baru, kami sudah bisa memperkirakan berapa lama dia bertahan. Durasi kritis pertama : 2 minggu, 1 bulan, 3 bulan. Setelah melewati 3 bulan kemungkinan besar bisa bertahan samapai 1 tahun. dan jika lobby sebelum mudik Idul Fitri berhasil, bisa bertahan sampai tahun berikutnya.
  3. ART yang mengajukan syarat harus bekerja bersama temannya (maksudnya bekerja ber-2 dengan temannya) biasanya langsung kami tolak. Karena ada indikasi gak niat kerja dan cenderung terlalu banyak ngobrol. Kami lebih suka memiliki 2 orang ART yang tidak saling mengenal sebelumnya. Singkat kata kami lebih suka mempekerjakan batman dan superman ketimbang duo macan.
  4. ART yang kebanyakan nanya (misalnya : rumahnya besar ga ? berapa lantai ? ada mesin cuci ga ? ada anak kecilnya ga ?  koneksi wifi-nya kenceng ga ? langganan tv kabel ga ?) kemungkinan besar kami tolak.
  5. Usahakan tidak menyuruh ART belanja di warung, untuk memperkecil kemungkinan dibajak atau dipengaruhi.
  6. Terakhir, yang merasa kompetensinya tinggi biasanya cepat resign dan berkarir di tempat lain, sedangkan yang kompetensinya sedikit dibawah rata-rata biasanya lebih loyal.

Setelah ART ada indikasi betah dan nyaman bekerja bersama kami, langkah berikutnya adalah mengajari agar sesuai dengan yang kami inginkan. Kesalahan kami selama 3 tahun pertama adalah, berharap dengan beberapa kali pengarahan, maka otomatis ART dapat melakukan apa yang kami inginkan secara konsisten tanpa perlu kami ngomong lagi. Pada 2 minggu pertama biasanya yang mereka lakukan sudah sesuai dengan apa yang kami inginkan,namun hari-hari berikutnya kami harus sering-sering menahan emosi, legowo, dan akhirnya setengah putus asa dengan perilaku dan kinerja mereka yang semakin menurun. Pada fase ini mantra yang sering kami rapal adalah : “Alhamdulillah masih ada rewang”, “Sudah lah, daripada tidak ada”, “Disyukuri saja lah”. Padahal ketika libur lebaran tanpa ART, kami bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan cepat dan bersih. Pada titik ini kami menyadari, ada yang salah dengan cara kami mendidik ART ini. Pola memberi arahan ini tidak cukup. Betapa sering kami berguman

“Sudah sering saya beritahu semuanya, tentang bagaimana cara melakukan dengan benar, tapi tetap saja tidak sesuai kualitasnya Aaarggghhh”

Prinsip yang kami sadari, sebuah kualitas yang ditunjukkan ART kami bukan sekedar karena bisa, tapi karena biasa. Setiap hal yang biasa dimulai dari bisa. dan setiap hal yang bisa dimulai dengan tahu. Aha saya jadi teringat dengan taksonomi bloom. Wajar saja saat kami merasa sudah memberi tahu namun tidak ada perubahan yang konsisten.

Lalu timbul pertanyaan, apa yang perlu kami lakukan agar ART kami bisa benar-benar mampu untuk biasa dalam melakukan pekerjaannya dengan baik?

Ternyata setelah browsing sana sini kuncinya adalah Pendampingan.

Memang pendampingan ini sangat kurang kami lakukan. Maka kami berusaha menyisihkan waktu untuk pendampingan di tiap tiap kompetensi inti di rumah. prosesnya melalui 5 tahapan

  1. Saya kasihtahu, Kamu dengar. Pada tahap ini pengetahuan yang diberikan jangan terlalu banyak. terlalu banyak pengetahuan malah justru menghambat.
  2. Saya lakukan, Kamu lihat. pada tahap ini diberikan contoh cara melakukan. Misalnya dalam tradisi keluarga saya, ngepel itu wipol plus air ditaruh di ember sendiri, sementara ember satunya untuk membilas. bukan menyipratkan wipol di lantai, lalu dipel sampai lupa mbilas. Pada langkah ini, ART mengkoneksikan antara pengetahuan yang sudah diterima dengan pelaksanaan di lapangan.
  3. Kamu lakukan, Saya lihat. Tahap ini ART melakukan pekerjaanya sambil tetap dibawah pengawasan sambil membandingkan dengan standard.
  4. Kamu evaluasi,  Saya evaluasi. Tahap ini dilakukan sebagai perbaikan atau opportunity for improveme sehingga semakin mendekati kondisi bisa. Evaluasi pertama dilakukan ART sendiri dengan memberikan pertanyaan “Nduk, kira-kira apa yang sudah kamu pelajari ?” “Apa hal berbeda yang bisa kamu lakukan supaya hasilnya lebih baik” Selanjutnya baru diberikan evaluasi versi saya.
  5. Pengulangan terus menurus. Lha kalo sudah bisa belum tentu seminggu kemudian melakukan hal yang sama. Maka proses pengulangan menjadi sebuah kewajiban. Sampai pada tahap ART bisa melakukannya tanpa banyak berpikir. Ibarat belajar nyetir mobil sudah lancar tanpa bingung dan ribet mau nginjek rem, kopling, atau gas dulu. Kuncinya saat jumlah pengulangan masih bisa dihitung berarti belum cukup untuk terus diulang. Mengenai konsp pengulangan sudah pernah saya tulis di sini. Nah kalau ART sudah terbiasa melakukan dengan mudah sampai pada level bosan, berarti perlu ditantang lagi dengan kompetensi baru misalnya jadi admin blog ini wekekeke…

Pada akhirnya di penghujung liburan akhir taun ini, saya merasa bersyukur 2 orang ART kami sudah “jalan” sehingga libur kali ini terasa lebih santai dan tidak rempong dibanding saat libur lebaran

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s