Ingatlah Untuk Bercermin

Ingatlah untuk Bercermin

By : Ustadz Salim A. Fillah

Para isteri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin

Sungguh mula-mula ini bukan kiasan tentang bermuhasabah. ini benar-benar soal bercermin di depan kaca dalam makna yang paling harfiah. Sebab tahukah engkau, sebelum bercermin dalam makna merenung dan membenahi akhlak, sekedar kesediaannya untuk berkaca dalam makna lahiriah pun ternyata sangat menentukan masa depan dakwah.

Begini ceritanya.

Pernah suatu ketika dilaksanakan jajak pendapat sederhana kepada anak-anak para pengemban dakwah dan pegiat agama. Hasilnya membuat kami berkernyit. Sebab sebagian bocah yang diharapkan menjadi pewaris perjuangan orang tuanya itu, hampir sepertiga dari semuanya berkata. “kalau sudah besar kami tak mau menjadi seperti abi dan ummi. Kami ingin menjadi muslim yang biasa-biasa saja.”

“Mengapa?”

“Sebab mereka terlalu sibuk dalam kerja dan kegiatan dakwahnya. Kalau pulang sudah tinggal lelahnya saja. tak ada lagi waktu untuk bermain dengan kami. Tak ada lagi tenaga untuk mendampingi belajar kami.”

Semoga Allah menyayangi sanak-anak ini. masih sangat kita syukuri mereka masih memiliki pemahaman yang baik tentang nilai-nilai keluarga. Masih sangat kita syukuri mereka tidak tumbuh dengan dendam akan kurangnya perhatian dan cinta. Mereka hanya hendak menyampaikan, “Kami tidak mau kelak seperti itu. kami ingin ada dan hadir untuk keluarga seutuhnya.”

Duhai memang, betapa banyak suami dan bapak yang pulang dalam wajah tertekuk, tubuh membungkuk, pakaian yang renyuk, dan bau setengah busuk.

Duhai memang. betapa banyak suami dan bapak yang pulang dengan kentampanan yang telah larut., kegagahan yang telah hanyut, dan perhatian yang telah habis digerus pikiran kusut.

Duhai memang. betapa banyak suami dan bapak yang pulang bersama kepenatan yang tak menyisakan binar mata, bersama keletihan yang tak menyisakan canda cinta.

Perihal isteri mereka lebih berhak atas pesona dirinya daripada atasannya. padahal anak-anak mereka lebih memerlukan keakraban cintanya dibanding para mitra kerja.

Bayangkanlah bagaimana perasaan seorang bocah yang semula berlari bahagia menyambut kepulangan ayahnya namun disambut oleh jasad lunglai. betapa kecewa hati seorang anak kecil yang berbinar mata hendak menunjukkan karya dan pencapaiannya namun sang ayah sudah tak kuasa menunjukkan minatnya. Betapa segigit jari terpendam di dada jika seorang anak hendak mengisahkan hal yang sangat menarik dan rindu bermain dengan ayahnya, sementara sang ayah bergegas berlalu darinya demi rehat.

Jawaban dalam jajak pendapat anak-anak para pegiat dakwah itu barangkali bermula dari kandasnya kebersamaan di detik awal kepulangan. lalu segala kegiatan orangtua itu terpandang buruk di dalam jiwa mereka sebab dianggap merebut cinta yang seharusnya menjadi hak mereka. Ini bermula karena kepayahan yang tak tertangani dengan baik. Ini bermula karena cinta dalam hati tak disetiai oleh jasmani dalam serumah keluarga, hingga gagallah ia diisi bersusun susun rasa surga.

Para istri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin sebelum dia kembali. jangan lupa bekalkan pembersih muka, penyegar mulut, sisir, wewangian di dalam tas kerjanya. Dia amat memerlukan itu semua untuk kepulangannya menuju cinta. Dia amat menghajatkan semua itu untuk kehadirannya di hadapan keluarga.

Maka betapa indah suami dan ayah yang menyempatkan penyegaran sejenak sebelum sampai dan mengetuk pintu rumah. Agar sepulang nanti, walau hanya beberapa jenak dia tetap dapat meneladani rasulullah yang pada suatu hari menakjubkan Abu Hurairah. “Betapa tunggangan kalian berdua adalah tunggangan terbaik di seluruh lapis langit dan petala bumi!” ujar Abu Hurairah kepada Al hasan dan Al Husain yang sedang menungang kakek mereka tercinta. Maka sosk agung yang tak muda lagi namun demikian bersemangat merangkak mengelilingi ruangan itu menyahut. “Dan kedua penunggannya juga adalah yang terbaik di antara semua penunggang.”

Maka betapa indah suami dan ayah yang menyempatkan membenahi penampilan dan mewangikan badan sebelum tiba di pekarangan. Agar ditumah nanti, dia tetap dapat meneladani Rasulullah yang membiarkan dadanya menjadi sandaran kemanjaan Aisyah sambil menyimak bacaan Qur’annya. Atau mendengarkan pembacaan syair isterinya. Atau menelaah bersama cerita cerita hikmah yang menguatkan hubungan. Atau bahkan berlomba lari dengan penuh kebugaran.

Sungguh, berkemas untuk kembali kepada keluarga selaiknya lebih bersungguh sungguh daripada berhias menjelang berangkat. Sebab tang akan menyambut para suami di rumahnya bukan sekedar kepentingan , melainkan sebuah kesetiaan.

Maka para isteri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin sebelum sampai ke rumah.

Kesegaran diri dalam pulang akan menjadi asas pewarisan nilai iman, islam, dan ihsan. Inilah barangkali mengapa terberitakan tentang Rasulullah bahwa ia bersiwak pertama-tama adalah untuk Allah, yang kedua untuk isteri dan keluarganya. Baru yang ketiga untuk tetamu dan insan umumnya. Maka selain sebelum shalatnya, Rasulullah senantiasa bersiwak saat akan masuk ke rumahnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s