Cerita Pengalaman Umrah dari Surabaya : Part 2 Keberangkatan

Setelah menunggu delay selama 6 jam di KLIA akhirnya pada sore hari waktu KL kami semua berangkat menuju Jeddah dengan menggunakan Air Asia X peswat ini jauh lebih besar dari Air Asia biasa. Bacaan Talbiyah mengiringi keberangkatan kami. Kami datang memenuhi panggilanmu Ya Allah kami datang. Rasa merinding berpadu dengan antusias memancar dari dalam diri ini. Yayy ini pengalaman pertama dan beruntungnya lagi saya mendapatkan tempat duduk di seat dekat jendela di baris paling depan sehingga dengkul saya lega karena cukup banyak ruang.

Tak henti saya memandangi jendela di sebelah kiri saya, terkadang saya tempelkan dahi saya di jendela untuk melihat senja di langit. Saya menyempatkan ngobrol dengan sepasang suami isteri pensiunan semen gresik yang duduk sebaris dengan saya. Namanya Pak Wandi sedangkan isterinya bernama Bu Wandi. Mereka berdua sudah tiga kali ke tanah suci, dua kali haji dan sekali umroh. Ini adalah umrah mereka yang kedua. keberangkatan kali ini dibiayai oleh putra mereka. Mereka banyak bercerita mengenai Madinah dan Mekkah yang sebentar lagi udaranya akan saya hirup. Tak lama pramugara Air Asia berkeliling menghidangkan Nasi Lemak Pak Nasser yang khas tersebut, kehangatannya menawarkan rasa dingin yang menjalar di sekujur tubuh karena pendingin udara di dalam pesawat tersebut. Setelah makan aku masih mencoba mengingat bacaan bacaan doa sampai tertidur.

Beberapa jam kemudian kami dibangunkan oleh pramugara yang berkeliling membagikan Nasi Ayam Hainan. Sebenarnya aku masih mengantuk tapi gak ada salahnya untuk makan lagi. Sekitar Pukul 22:30 waktu Jeddah aku mulai bisa melihat kota Jeddah dari atas. Tepat 20 menit kemudian, pesawat kami mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Sekilas penampakan bandara ini cukup minimalis meskipun besar. Kesan yang tampak Bandara ini sepertinya kurang ramah terhadap orang asing khususnya Indonesia. Ada pengalaman kurang menyenangkan pada saat antri imigrasi. Ketika antrian tinggal 4 orang di depan saya, tiba tiba loket di tutup. Saya diminta untuk pindah ke loket lain. Ini terjadi 3 kali. Rasanya seperti dipingpong. Saat itu saya cuma bisa nerimo saja. Akhirnya dengan kesabaran saya lolos urutan yang terakhir dari semua jamaah…Fiyuhh. Begitu lolos langsung saya mencari toilet karena sudah terlalu lama menahan sejak antri tadi.

Antrian Imigrasi Jeddah
Antrian Imigrasi Jeddah

Perjalanan masih dilanjutkan dengan Bus AC jurusan Jeddah-Madinah. Tepat pukul 24:00 Bus meluncur ke Kota Madinah Al-Munawaroh. Karena malam hari pemandangan selama perjalanan Jeddah-Madinah tak terlihat dengan jelas. Satu yang pasti jalannya lebar, tidak berlubang dan tidak macet. Alhamdulillah, menjelang subuh kami semua tiba di Hotel Fairuz dan langsung ke Masjid Nabawi untuk menunaikan Sholat Subuh Berjamaah. Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s