Review Buku : Anak Bukan Kertas Kosong

abkk

Setelah vakum beberapa bulan, akhirnya bisa update blog lagi. Adalah Buku Anak Bukan Kertas Kosong karya Bukik yang memecah keheningan Blog ini. Sebenarnya Buku yang dikirim oleh Bukik sudah sampai 3 minggu yang lalu, namun deadline kantor dan liburan bulan madu menyebabkan review buku ini baru selesai hari ini.

Jujur saya terkejut membaca buku ini, karena hampir semua isinya bisa dibilang “daging” (padat ilmu,sedikit basa basi). Di awal buku ini, bukik sudah mengajak saya naik mesin waktu menuju masa depan. Melihat tantangan tantangan yang akan dihadapi anak anak kita pada zaman kreatif serta perubahan paradigma dalam berkarir. Pada zaman dulu ada tahapan tahapan yang harus dilalui anak secara berurutan yaitu : bermain, belajar, bekerja. Saat ini bermain, belajar, dan bekerja (berkarir) bisa dilakukan secara simultan sejak anak masih kecil. Pada titik inilah pengembangan bakat anak diperlukan untuk mempersiapkan anak menghadapi tantangan tantangan tersebut. Belum puas melihat masa depan, bukik sudah menyeret saya kembali ke masa lalu, menemui begawan pendidikan indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Beliau memberi wejangan yang sangat berharga, antara lain

  1. “Setiap anak itu unik.” “Anak mempunyai kodratnya sendiri yang tidak bisa diubah oleh pendidik. “Pendidik hanya bisa mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut”.
  2. “Pendidikan bukan menanamkan pengetahuan, tetapi menumbuhkan potensi anak.Pendidikan bukanlah mengubah beragam keistimewaan anak menjadi seragam melainkan menstimulasi anak untuk menjadi dirinya sendiri
  3. “Keluarga adalah pusat pendidikan.” “Pendidikan orangtua tidak tergantikan oleh sekolah, lembaga pendidkan” (di sini kadang saya merasa sedih)

Ya, Ki Hadjar benar. Anak tidak bisa diperlakukan seragam. setiap anak memiliki minat dan cara belajarnya sendiri. Kalaupun sekolah saat ini belum bisa mengakomodasi keberagamn tersebut, paling tidak sebagai orangtua tidak menambah beban anak dengan memberi target pencapaian, KPI, atau apapun namanya yang tidak sesuai dengan minatnya yang nantinya justru membuat anak stress. Analogi sederhananya, tidak semua pemain bola cocok dilatih oleh Jose Mourinho ataupun Pep Guardiola.

Pada bab selanjutnya Bukik masuk kedalam konsep ini Anak Bukan Kertas Kosong, yang tinggal diwarnai orang lain. Menurut beliau anak telah mempunyai gambar dan warna sendiri yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Gambar dan warna yang digunakan oleh anak untuk belajar, serta mendapatkan dan mengolah informasi dari lingkungan sekitar. Sebagai contoh anak bukan kertas kosong,  hukuman atau ganjaran yang merupaka motivasi eksternal tidak akan efektif untuk membentuk perilaku. Motivasi ekstrinsik cepat pudar. Anak mudah kehilangan semangat karena ganjaran yang dijanjikan lama lama tidak memiliki daya tarik (meaningless). John W. Santrock dalam bukunya berjudul Adolescence (2001) menulis bahwa motivasi intrinsik sangat mempengaruhi kreativitas dan rasa ingin tahu anak. Anak-anak yang motivasi intrinsiknya kuat cenderung lebih kreatif, kaya gagasan, senantiasa menemukan ide-ide segar serta ketertarikan yang kuat dalam melakukan berbagai aktivitas. Mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, minat yang luas dan cenderung memiliki semangat belajar mandiri yang kuat.

Setelah menyadari pentingnya konsep Anak Bukan Kertas Kosong, Bukik menafsirkan kodrat anak sebagai kecerdasan majemuk yang digagas oleh Howard Gardner. Ada 8 Kecerdasan Majemuk. Masing masing anak memiliki 8 kecerdasan tersebut hanya saja ada beberapa kecerdasan yang lebih menonjol jika dibandingkan dengan yang lain. Ini bisa dibaca lengkap di bukunya. Kemudian di jelaskan pula dalam buku ini keterkaitan kecerdasan majemuk dengan pengembangan bakat anak.

Dan akhirnya bab yangt saya tunggu-tunggu yaitu action plan yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mengembangkan bakat anak sesuai keserdasan majemuknya. Bukik menuliskan secara rinci dan lengkap apa apa yang harus dilakukan oleh orangtua.

Jika ada kekurangan dari buku ini, maka itu hanyalah keterangan Bab di tiap tiap lembar halamannya, agar ketika membaca suatu halaman pembaca langsung ngeh sedang berada di dalam topik bahasan apa

One thought on “Review Buku : Anak Bukan Kertas Kosong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s