Berkaca dari Kematian Diego Mendieta

http://www.solopos.com/2012/12/05/istri-diego-mendieta-suami-saya-ditelantarkan-354167Beberapa hari ini ada berita yang menarik perhatianku. Bukan tentang Rhoma Irama yang ingin mencalonkan diri menjadi Presiden maupun Kasus Bupati Garut Aceng Fikri melainkan Berita Kematian Diego Mendieta, Pemain sepak bola asal Paraguay yang pernah bermain di Persis Solo. Menurut berita yang beredar Diego meninggal dunia di sebuah Rumah Sakit di Solo karena terkena infeksi virus Cytomegalo dan jamur candidias. Virus cytomegalo  (cytomegalovirus) adalah virus yang masuk dalam keluarga virus Herpes, menyerang mata hingga otak.  Infeksi virus ini tak hanya dialami orang dewasa, juga anak yang masih dalam kandungan ibu. Itulah sebabnya mengapa ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah terinfeksi cytomegalovirus. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan dengan pemeriksaan penyakit lain, seperti rubella, herpes, dan toksoplasma. Pemeriksaan ini dikenal dengan TORCH (toksoplasma, rubella, cytomegalovirus, dan herpes).

Ironisnya Diego meninggal dalam keadaan gak punya uang karena gajinya selama 4 bulan plus sisa uang kontrak belum dibayarkan oleh pengurus Persis Solo yang nilainya mencapai lebih dari 100 Juta. Sehingga jangankan untuk berobat, membayar kos saja sulit apalagi untuk ongkos pulang ke Paraguay menemui isteri dan ketiga anaknya. Kabarnya hanya 3 orang rekannya yang sesama berasal dari Paraguay yang selama ini membantunya. Yang membuatku agak perhatian dan trenyuh ketika melihat foto Diego, lha koq aku seperti merasa melihat wajah adikku. memang wajahnya beda tetapi tatapan senyum dan sorot matanya bener bener mirip. Dugaanku Diego Mendieta itu memang bener mirip adikku polos, baik, banyak akal, pandai bergaul, nyah nyoh sama teman, sekaligus kelihatan melas.

Nasi sudah menjadi bubur, kasus ini tentu sangat memalukan bagi Negara Indonesia. Seringkali jika ada kasus TKI dirugikan di luar negeri, banyak sekali yang bereaksi keras, namun tampaknya Negeri ini juga kurang baik dalam memperlakukan Tenaga Kerja Asing. Sekarang saat Jenazahnya siap dikirmkan ke Paraguay, banyak sekali pahlawan kesiangan baik dari kalangan birokrat yang kakean cangkem maupun pengurus sepakbola yang berusaha menjadikan sebagai komoditas politik dengan melunasi biaya RS lah, melunasi gajinya lah, atau membiayai pengiriman jenazahnya ke Paraguay.

Pada malam ini aku merenung dan merasa bersyukur sekali, menyadari bahwa Gajiku tak pernah dibaya telat, Biaya kesehatanku dan anak isteriku ditanggung perusahaan. Tempat kerjapun tak sampai merantau ke Afrika, cukup naik motor 10 menit dari rumah. Aku juga merenung mungkin saat ini ada beberapa teman ataupun saudara kandungku sendiri yang membutuhkan bantuan tetapi karena tingginya Izzah (harga dirinya) mereka tak ingin meminta pada manusia. Dan yang paling parah, kadang aku merasa diriku ini terlalu cuek atau kurang peka dan perhatian pada lingkungan sekitar. Kadangkala terhadap nasib seorang teman pada masa kuliah aku pernah berfikir seperti ini “Aku gak mau mencampuri urusannya” atau “Aku gak mau sok menasihati nanti dianggap menggurui” atau “Aku takut kalau tiba tiba berinisiatif membantu, dia akan terhina atau tersinggung”.
Lama menyadari bahwa pemikiranku itu sebenarnya “totally wrong”. Itu hanyalah bentuk kegoisanku karena malu ditolak. Lebih baik dianggap mencampuri urusan atau berusaha proaktif membantu meskipun pada akhirnya nanti di tolak atau mungkin kena semprot. Ini membuatku teringat kisah Teh Pipet Senja yang hendak membantu seorang nenek-nenek menyebrang jalan. Saya lupa dialognya mungkin kira kira begini

“Sini Nek saya bantu nyebrang”  Teh Pipiet menawakan bantuan (sambil menggenggam tangan nenek itu)

Tiba tiba si nenek menggertak : “Eh lu jangan asal main pegang pegang, gue disini lagi nunggu laki gue yang lagi pergi ke warung sono” !!!

Teh Pipietpun hanya berujar : “Duh yang ngerasa punya laki” (sambil berlalu)

Paling tidak dari kisah di atas Teh Pipiet sudah mendapatkan Pahala dari niat dan tindakan baiknya. Sekaligus dia tak akan merasa menyesal kalau kalau nenek itu benar-benar butuh bantuan untuk menyebarang namun dia sungkan menolong nenek itu, kemudian nenek itu menyebrang seorang diri dan akhirnya tertabrak Busway.

Oh iya untuk Adik Adikku yang sedang berjuang di Jakarta maupun di Cianjur sana, semoga selalu dalam lindungan Allah Yang Maha Kuasa, Semoga Allah berikan penjagaan kepada kalian agar dijauhkan dari hal hal yang buruk.

 

 

 

 

5 thoughts on “Berkaca dari Kematian Diego Mendieta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s