Makassar : The Untold Story

Rejeki dari Allah memang datang dari arah yang tidak di duga. Pada saat pelatihan 5S di Jogja, aku mendapatkan kabar bahwa senin tanggal 26 Maret 2012 aku harus berangkat Dinas Luar ke Makassar. Kabar ini tentu membuatku senang karena seumur hidup aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kotanya Jusuf Kalla tersebut. Dinas luar kali ini, aku gak terlalu berharap untuk bisa mengunjungi tempat -tempat wisata di Makassar. Karena sepanjang pagi hingga petang aktivitas pasti akan dilakukan di kantor wilayah. Target minimal adalah berpose di landmark kota Makassar sekaligus membeli oleh-oleh khas Makassar. Dinas kali ini berlangsung selama 5 hari kerja dengan rincian Senin sampai Rabu di Makassar, dilanjutkan Kamis Jum’at di Parepare.

Hari pertama semua berjalan lancar. di sela sela waktu aku berusaha menghubungi temanku Catur yang sudah lama tinggal di Makasar. Untungnya malam harinya dia sedang tidak ada acara sehingga setelah acara hari pertama selesai pukul 17.30 WITA, aku diajak catur main ke kantornya. Sambil menunggunya selesai merapikan beberapa pekerjaannya, aku disuguhi Game Pro Evolution Soccer di bagian IT kantornya melawan teman-temannya dan tak lama catur pun ikut bergabung untuk menjajal kemampuanku yang berujung pada kekalahanku😀 (kusengaja biar mereka senang)

Selesai 2 pertandingan, Catur langsung mengantarku mencari penginapan murah di dekat area kantor wilayah. Sebenarnya dia menawarkan diri untuk menginap di rumahnya, namun kutolak dengan halus karena tidak ingin merepotkannya apalagi dia sudah berkeluarga. Lagipula aku kan sudah ‘disangoni’ perusahaan untuk menginap di hotel. Akhirnya penginapan yang didapat adalah Hotel Todopuli Mas dengan rate 160 rb/hari. Cukup murah walaupun tak semurah Hotel di kawasan Sosrowijayan Jogja, yang saking murahnya aku sempat mengira kalau tidur disana tidak berbaring tetapi sambil berdiri. Setelah selesai mandi dan sholat, catur menjemputku dari hotel untuk mengajak jalan jalan keliling kota daeng ini dengan menggunakan Honda Vario-nya.

Sepanjang perjalanan yang kuamati, penampakan Kota Makassar tidaklah jauh berbeda dengan kota Surabaya atau kota kota lain. Itu semua gara gara tumbuh suburnya Indomaret, Alfamaret, Carrefour, J.co, Lottemart, dll. Jika ada yang berbeda adalah ramainya jalan jalan utama oleh aksi demo mahasiswa, kendaraan umumnya yang bernama pete-pete (sejenis Lyn di surabaya) yang full musik ajeb-ajeb, kemudian ada juga Becak Motor (karena gak pakai ngengkol). Oh iya karena saat itu kami sudah sangat lapar, maka kami langsung menuju ke tempat kuliner khas Makassar yaitu Pallu Basa Serigala. Pallu itu artinya makanan berkuah, jadi makanan yang mengandung kata pallu seperti pallu mara, pallu butung pastilah berkuah. Serigala maksudnya terletak di Jalan Serigala. Secara ringkas pallu basa adalah makan berkuah panas dan bersantan yang berisi parutan kelapa sangrai dengan isi daging dan jeroan sapi. Rasanya nendang banget. Just info, kita akan ditawari apakah pallu basa yang kita pesan dikasih alas atau tidak. Alas yang dimaksud adalah berupa telur mentah yang dituangkan di atas racikan pallu basa tanpa kuah, kemudian setelah diberi alas baru kemudian disiram kuah yang mendidih sehingga telurnya menjadi setengah matang. saran teman saya yang orang jawa lebih baik tidak. tetapi orang makassar asli lebih suka pakai alas, lebih mantap kata mereka. Apalagi bagi yang mau malam jum’atan dengan isterinya😀

Lokasi Palbas SerigalaPalbas tanpa alas

Selesai makan, Catur mengajakku keliling di daerah Pantai Losari. Jalanan disekitar pantai Losari menuju kompleks Trans Studio cukup lebar mengingatkanku pada jalanan di daerah Galaxi Surabaya. Jalanan yang lebar dan bagus itu sejajar dengan pantai, kurang lebih mirip Kuta hanya terasa jauh lebih lenggang. Semilir angin yang menerpa wajah semakin membuat suasana malam itu terasa menyenangkan. Ah andai saja yang kubonceng adalah isteriku

Sepanjang jalan itu kami berhenti di titik titik yang menurut kami bagus untuk foto foto, apalagi aku sudah siap dengan kamera Canon SLR rekan kerjaku (mbak luluk) yang ketinggalan hehe… sayangnya ketika hendak memotret aku baru meyadari kalo baterenya nggak ada😦 jadilah kami memakai kamera seadanya plus pencahayan yang kurang menjadikan hasil foto benar benar sempurna… jeleknya.

Selesai berfoto-foto, kami segera menuju ke pisang Epe. Pisang yang dibakar kemudian diberi taburan Keju, Coklat, dan susu. sebegai pelengkap Pisang Epe tersaji Sarabbai, minuman yang hampir satu genre dengan Bandrex. Pisang Epe ini banyak dijual di depan Pantai Losari. Bahkan bisa kubilang semua rombong (gerobak) menjual pisang epe. Aku menyadarinya ketika mencoba mencari dengan penuh harap diantara rombong-rombong itu ada yang menjual nasi goreng, bakso atau tahu tek. Sayangnya hasilnya nihil karena semua menjual pisang epe. Jadi kalau ada diantara teman-teman yang nanti dipindah tugas ke makassar, janganlah bersedih. Justru itu adalah peluang untuk membuka rombong bakso, nasi goreng, tahu tek, wedang ronde ataupun kopi joss di pantai losari.

Pisang Epe Coklat Keju + Sarabbai

Hari kedua, tidak terlalu banyak yang bisa diceritakan karena baru selesai pukul 18.00 Wita dan rekan satu tim memintaku untuk menginap di hotel yang sama untuk melakukan koordinasi terkait dengan pekerjaan. Oh iya hampir lupa, hotel tempat aku menginap pada malam kedua ini sangat recommended bagi yang ingin ke makassar. Nama Hotelnya adalah Malibu.

Hotelnya cukup mewah (bagiku) Tarif kamar standard sebenarnya Rp 350.000 / hari termasuk sarapan. Untungnya karena menggunakan tarif korporat aku hanya perlu membayar sebesar Rp 275.000. Nah jika sekamar dipakai oleh 2 orang tentu hanya 137.500 per orang semalam. Berikut foto kamarnya

Pada malam kedua ini aku sudah tidak bebas lagi untuk keluyuran sendiri, otomatis makan malam pun barengan dengan tim. Nah menu makan malam ini adalah Sop Saudara. Pertama denger namanya sudah bikin merinding, bayangkan saudara saja bisa di Sop apalagi teman.

Hari rabu sore pukul 17.00 Wita Kami sudah harus bertolak menuju kota parepare. cerita tentang Parepare ini akan kubuat posting tersendiri😀

Pada Jum’at malam harinya sekitar pukul 20.00 Wita kami sudah kembali ke Kota Makassar setelah menempuh perjalanan darat selama 3 jam, kerena ini malam terakhir maka aku tak terlalu peduli ketika diajak menginap di Losari Beach Hotel. Lokasi hotel tepat di depan Pantai Losari. Memang tempatnya sangat strategis sekali bahkan sangat cocok untuk bulan madu, hanya saja kualitas kamar hotel bertarif 350 ribu / malam ini masih kalah dibandingkan Hotel Malibu.

Tak jauh dari Losari Beach Hotel, kira kira hanya berjalan sejauh 50 meter terdapat pusat souvenir dan oleh-oleh khas Makassar tepatnya di Jalan Somba Opu. Di sepanjang jalan ini semua toko menawarkan oleh-oleh khas Makassar yaitu Kacang Aneka Rasa dan tentu saja Minyak Tawon yang Asli. Sebagai tambahan pengetahuan Minyak Tawon di Makassar ini dijamin keasliannya. Ada dua jenis  Minyak Tawon yaitu Minyak Tawon dengan tutup botol Merah dan tutup botol Putih. Tutup botol putih harganya jauh lebih mahal karena tingkat konsentrat minyaknya lebih tinggi dan ketika dioleskan pada kulit rasanya jauh lebih panas dan tahan lama dibanding dengan tutp botol merah. Untuk kemasan tutup botol putih hanya menyediakan satu jenis kemasan dengan ukuran seperti botol kecap ABC sedangkan tutup botol merah varian ukuran kemasannya lebih beragam mulai dari yang kecil sampai yang besar seperti botol kecap tadi.

Esok harinya sebelum bertolak ke Surabaya, kami menyempatkan untuk mengunjungi Fort Rotterdam yang lagi-lagi tak jauh dari hotel. Fort Rotterdam ini adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Benteng ini berdiri kokoh menjulang kira kira setinggi 5 meter. Konon inilah benteng peninggalan Belanda yang terbaik di Asia. Ada beberapa bangunan yang ada disana. Kami terkagum-kagum pada bangunan tua yang masih tampak awet tersebut. Jika diibaratkan wanita, benteng itu adalah Titik Puspa. Pintunya cukup tinggi dengan jendela kayu berbentuk lancip. Sebagian besar arsitektur lawas bangunan ini masih dipertahankan dan  bisa disaksikan bentuk aslinya. Mungkin bangunan ini dulu dijadikan tempat pacaran antara meneer dan noni belanda, perpaduan yang menawan antara bangunan yang indah dan pantai losari yang eksotis semakin menambah suasana romantis (lagi-lagi andaikan kau di sini isteriku).

Akhirnya mengapa postingan ini berjudul The Untold Story ? Sungguh bukan bermaksud untuk meniru biografinya Pak Moerdiono dan Mbak Poppy Dharsono. Alasannya sederhana, seharusnya postingan ini kutulis pada awal april tetapi entah mengapa sangat sulit sekali untuk dituliskan, bahkan harus menunggu sampai 4 bulan lamanya.

13 thoughts on “Makassar : The Untold Story

  1. wah jadi mupeng ke Makassar..sempet masuk Trans Studionya ga Dho? btw aku tertarik dengan Titiek Puspa sebagai perumpamaan Benteng Fort Rotterdam, kok iso?😀

  2. Gak sempat mbak, aku gak terlalu mupeng sama Trans Studio tapi mupeng sama Pulau Samalona yang ditulis sama Surya. Hehe…Titik Puspa kan walaupun sudah berumur tapi masih tetap terawat, sama Fort Rotterdam meskipun masih mempertahankan arsitektur lawas namun tetap terawat😀

  3. hah, awal April? bukannya kemaren mas nge-twit lagi ke makassar juga?
    emang ya, kalo udah punya pasangan itu, pergi kemana2 yang diingat pasangan (dan juga anak)nya🙂
    gaya tulisan sampeyan lucu & asik mas…

    1. Waktu ngetwit kemarin di Banjarmasin😀 Inget keluarga soalnya kalo pergi sekeluarga pasti gak gratis & makan jatah cuti makanya andaikan bisa DL bareng lagi kan asyeek haha…#ngarep
      Perasaan gaya tulisan ini ngasal & buru buru karena ngejar deadline 2 posting sebulan, dan ini ditulis sebelum pukul 00.00 tanggal 01 Agustus 2012😀

  4. Cieee… Akhirnya keluar juga cerita perjalanannya. Mengawali karir menulis cerita travelling cak..😀
    Sip-sip, setelah itu mulai hobi foto cak (racun dot com, he he he)

    Wah, kowe wes sampai warung palu basa srigala yo, aku dulu juga kepingin kesana, cuman ga sempat aja waktunya..

  5. Mas jika jalan ke Makassar jangan lupa oleh2 khas makassar abon ikan bandeng, terbuat dari ikan bandeng segar yg merupakan produksi utama hasil perikanan darat di makassar, abon ini bisa diperoleh di toko ole2 sekitar jl. Somba Opu, ada juga di Toko Cahaya Jl. Sulawesi, juga di Toko Toraja dan Toko Varia Jl. Pasar Ikan depan Hotel Mkassar golden.
    Salam dari Makassar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s