Belajar Muhasabah dari UEFA Champions League (Liga Champion)

Akhirnya Inter Milan gagal lolos ke babak perempat final setelah menang 2-1 melawan Marseille di kandangnya sendiri Giusepe Meazza. Loh..loh..koq bisa nggak lolos padahal kan menang ? sekedar di ketahui saat ini Liga Champion (liga yang mempertemukan juara juara di negara negara eropa) sudah memasuki babak knock out yang mana dua tim yang saling berhadapan akan bertanding 2 kali. Satu kali di kandang lawan, satu kali di kandang sendiri. Nah tim yang mempunyai aggregat goal yang paling tinggi akan lolos ke babak selanjutnya. pada pertemua pertama di Perancis, tuan rumah marseille menang 1-0 melawan inter milan, sedangkan pada pertemuan kedua di Italia, inter milan menang 2-1. secara aggregat skor mereka adalah 2-2. lalu mengapa marseille yang lolos ? karena marseille mencetak 1 gol lebih banyak di kandang lawan, sedangkan inter membukukan 2 golnya di kandang sendiri.

Para pelatih klub klub eropa tentunya sudah menyadari ini. jika aggregat gol sama, maka yang menentukan lolos adalah Gol di kandang lawan. oleh karena itu mereka berusaha agar timnya tidak kebobolan di kandang sendiri dan mencuri gol di kandang lawan. Pelatih klub yang pragmatis tentu akan berfikir untuk menjaga keperawanan gawangnya sembari berusaha mencuri gol. Adapun pelatih yang agresif tidak terlalu peduli berapa gol yang masuk ke gawang tim asuhannya, selama timnya bisa mencetak gol jauh lebih banyak ke gawang lawan. Aku sendiri sih suka pelatih tipe ke-2 karena akan membuat pertandingan semakin menghibur dan tidak membosankan.

Susah susah cetak "GOL", tapi gak diakui

Lalu bagaimana jika mindset aggregat gol ini dibawa ke ranah amal shalih dan penggugur / penghapus pahala ? jujur terkadang diri ini MENGANGGAP sudah sedikit agak lumayan dalam melaksanakan amal shalih PADAHAL BELUM TENTU amal amal itu diterima atau mungkin tertolak (bahasa bola-nya merasa mencetak gol, namun di anulir wasit), bisa jadi karena tergelincir oleh niat, bisa jadi karena tidak melaksanakan amalan itu sesuai dengan yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW…Astaghfirullah. Sebaliknya satu hal yang PASTI, diri ini banyak sekali kemasukan gol (baca: keguguran pahala) baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Gol gol ke gawang sendiri itu bisa berupa salah satu banyak dari hal-hal ini : ghibah, sombong, enggan taat, menolak kebenaran, riya, ujub, meniatkan ibadah hanya untuk dunia sehingga tak tersisa pahala di akhirat (misal: sedekah biar rezekinya bertambah banyak a.k.a dapet cashback, Puasa senin-kamis supaya skripsinya lancar), dengki, memutus silaturrahim, dan menzhalimi orang lain).

Duh Allah, jika menghitung aggregat ini rasa rasanya lemas sekali, karena jauh lebih banyak kemasukan gol daripada mencetak gol. Rasa rasanya dalam ranah ini aku lebih memilih bersikap Pragmatis. Yaitu berusaha agar tidak banyak keguguran pahala akibat dosa dosa diatas,  memohon ampun untuk dosa yang sudah terlanjur dibuat, dan mengiringi dosa dengan perbuatan perbuatan baik sembari tetap istiqomah dalam beramal shalih. Fitrah manusia memang melakukan dosa bahkan dalam hadits disebutkan jika seluruh umat manusia tidak ada yang berbuat dosa. Maka Allah SWT menggantinya dengan umat yang berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampunan dan Allah SWT mengampuninya. “Kalau kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah SWT akan mengganti kalian dengan kaum yang lain pembuat dosa, tetapi mereka beristighfar dan Allah SWT mengampuni mereka”.( HR.Muslim). Semoga hadits ini tidak ditafsirkan sebagai pemberian visa untuk membuat dosa sebanyak-banyaknya toh Allah Maha Pengampun. Wallahu’alam bishowab

Kemasukan banyak "GOL"

Sebagai penutup, mohon maaf untuk tulisan yang sangat kurang ilmu ini yang sangat buruk dalam membuat analogi apalagi mengkait kaitkan dengan sepakbola.

Sumber Gambar : dari sini, sini

3 thoughts on “Belajar Muhasabah dari UEFA Champions League (Liga Champion)

  1. hiiiks *menampar*

    iya, kadang malah “kebaikan2-yang-berujung-tak-ikhlas” itulah yang membuat tertolaknya amal kita. wallahu a’lam.
    terima kasih sudah mengingatkan, ustadz…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s