Sedekah Tak Harus Ikhlas ????

Akhir akhir ini seringkali mendengar ungkapan “sedekah tak harus ikhlas” yang sering dilontarkan oleh beberapa orang #nomention.

Well, benarkah demikian ? Ikhlas tak selalu dikaitkan dengan ringan, dan tidak ikhlas juga tak selalu dikaitkan dengan rasa berat. Ringan ataupun berat selama itu ditujukan hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah, maka itu sudah cukup dikatakan ikhlas. Berikut sebuah tulisan dari seorang penulis yang bernama Mohammad Fauzil Adhim (@kupinang)  yang sedikit banyak terkait dengan sedekah.

by Mohammad Fauzil Adhim on Sunday, November 6, 2011 at 10:51am

Hari apakah ini? Inilah hari ketika Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam mengalahkan kecintaannya kepada harta yang terbaik, yakni putranya Ismail yang kelak juga menjadi nabi, demi memperoleh kecintaan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah hari ketika seorang anak bernama Ismail ‘alaihissalam mengikhlaskan dirinya untuk dikorbankan karena ia melihat kebenaran mimpi ayahnya, dan amat besar ketaatan kepada Allah Ta’ala. Mereka berdua ‘alaihimassalaam mencampakkan dunia bukan karena tak memerlukan, mengorbankan apa yang paling dicintainya –yakni putra dan nyawa—karena yakin bahwa sebaik-baik perintah adalah perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah hari yang membuktikan secara nyata, ikrar yang Allah Ta’ala perintahkan kepada kita jika kita mengaku beriman:

قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’aam, 6: 162).

Maka sekiranya engkau mengaku beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla, periksalah apakah shalatmu benar-benar hanya untuk Allah Ta’ala semata? Ataukah kita bersungguh-sungguh hanya karena mengharap dunia? Betapa banyak yang bersungguh-sungguh melaksanakan shalat dhuhah dan bahkan tahajjud, tetapi bukan karena taat kepada-Nya, bukan juga karena mengejar ridha-Nya, tetapi karena mengharap dunia. Mereka bersungguh-sungguh dalam amalan tersebut karena mengejar dunia. Mereka mencampakkan akhirat karena kuatnya hasrat terhadap segenggam harta dan dunia yang sesaat.

Alangkah berbedanya kita dengan Nabiyullah ‘Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalaam. Disebabkan oleh pengorbanan mereka yang luar biasa demi mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilaLlah), maka hari ini kita mendirikan shalat ‘ied, sementara jutaan saudara kita yang Allah Ta’ala berikan kemampuan sedang berada di tanah suci untuk melaksanakan ‘ibadah haji. Semoga Allah Ta’ala mampukan kita untuk segera menyungkurkan kening kita yang hina ini untuk bersujud di hadapan ka’bah, menangisi dosa-dosa kita di sana, dan pulang sebagai haji yang mabrur. Dan tidaklah seseorang itu menjadi haji yang mabrur kecuali surga balasannya, bertambah baik ‘ibadahnya, bertambah kuat imannya, dan semakin bersungguh-sungguh melaksanakan amal shalih semata-mata karena ingin meraih kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka mengorbankan dunia untuk mengejar akhirat. Bukan sebaliknya, tampaknya bersungguh-sungguh melaksanakan amalan akhirat, tetapi sesungguhnya tidak ada yang lebih ia cintai selain dunia ini.

Maka, wahai manusia, termasuk yang manakah engkau. Maka, wahai manusia, tergolong yang manakah kita?

Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim. Sungguh, hanya Islam agama yang Ta’ala ridhai.

Sadarilah oleh kalian tatkala mengucap Allahu Akbar, Allah Maha Lebih Besar. Artinya, apa pun yang tampak besar di mata kita hari ini, Allah Maha Lebih Besar. Apa pun kekuatan yang membuat kita gemetar menghadapi atau bahkan sekedar mendengarnya, Allah Maha Lebih Besar. Apa pun yang engkau anggap mengantarkanmu pada kebahagiaan, Allah Maha Lebih Besar untuk memberimu kebahagiaan, kejayaan dan kemuliaan di dunia dan akhirat. Maka berharaplah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Beribadahlah hanya kepada-Nya. Bersedekah hanya untuk-Nya. Memberi orang-orang miskin, juga hanya untuk Allah Ta’ala semata. Dan janganlah kalian menukar sedekah kalian dengan dunia. Jangan pula menukar sedekah yang kalian berikan, sedikit atau banyak, untuk impian yang kalian ingin raih.

Sungguh, Allah TIDAK memerlukan sedekah yang dikeluarkan tanpa keikhlasan, meskipun jumlah sangat banyak. Sesungguhnya, amal shalih –termasuk sedekah dan kurban kita hari ini—yang Allah Ta’ala terima sebagai amalan yang Ia ridhai hanyalah amal shalih yang dikerjakan dengan IKHLAS dan BENAR.

IKHLAS berarti kita lakukan semata karena Allah dan tidak berharap selain ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak menginginkan kecuali apa yang Allah Ta’ala serukan kepada kita untuk mengingini tatkala kita beramal shalih. Maka mengingini surga tatkala bersedekah adalah haq, mengingini pahala adalah haq, mengingini balasan di akhirat adalah haq. Tetapi mengingini dunia atau balasan kontan di dunia (cash back dan sejenisnya) akan menghapuskan pahala sedekah dan kurban kita, sekalipun kita memberikan yang terbaik.

BENAR berarti kita melakukan amal shalih sesuai tuntunan yang diberikan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Tidak masalah, sedekah itu kita keluarkan secara terang-terangan atau secara sembunyi-sembunyi, dua-duanya boleh karena ada tuntunannya dalam Al-Qur’an, tetapi baik-baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, karena kita lakukan dengan ikhlas. Tanpa itu, sebanyak apa pun sedekah kita tak ada artinya, tak ada nilainya, tak ada pahalanya dan bahkan bisa menjatuhkan kita ke dalam neraka sekaligus menjadi bahan bakarnya. Na’udzubillahi min dzaalik.

Tentang sedekah secara tersembunyi maupun terang-terangan, Allah Ta’ala juga berfirman:

الذين ينفقون أموالهم بالليل والنهار سرا وعلانية فلهم أجرهم عند ربهم ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah, 2: 274).

Ayat ini bukan menunjukkan bolehnya riya’. Bukan. Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abdullah At-Tuwaijiri dalam Ensiklopedi Islam Al-Kamil terbitan Darus Sunnah mengingatkan bahwa sedekah harus ikhlas karena Allah Ta’ala, tidak terkotori dan ternodai oleh riya’ dan sum’ah (mencari prestise). Tidak berharap balasan dari harta yang telah disedekahkan dan menjauhi rasa bangga dan ujub. Kita rahasiakan dan tidak mengumumkan sedekah kita kecuali untuk kemaslahatan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إن تبدوا الصدقات فنعما هي وإن تخفوها وتؤتوها الفقراء فهو خير لكم ويكفر عنكم من سيئاتكم والله بما تعملون خبير

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah, 2: 271).

Karenanya…

Berharaplah pahala hanya dari Allah ‘Azza wa Jalla. Berharaplah balasan yang terbaik di akhirat berupa surga-Nya dan perjumpaan dengan-Nya. Dan janganlah memberi karena mengharap mendapat lebih tatkala di dunia ini, sebagaimana yang Allah Ta’ala peringatkan di surat yang awal sekali turun:

ولا تمنن تستكثر

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Muddatsir, 74: 6).

Sesungguhnya setiap sedekah yang ikhlas karena Allah Ta’ala, akan Allah lipat-gandakan pahalanya di akhirat. Ia menjauhkan kita dari api neraka. Maka periksalah olehmu, sudahkah engkau bersedekah dengan ikhlas?

Tetapi apakah ikhlas itu berarti memberi dengan ringan? Tidak. Ikhlas tidak sama dengan memberi dengan ringan hati. Ikhlas itu melaksanakan kebajikan semata karena mengharap ridha-Nya, tetap beramal-shalih meski terasa berat. Tidak bernilai sedekah yang kita keluarkan dari harta yang tidak berguna; harta yang kita sendiri tidak mau mengambilnya.

Tetapi berhati-hatilah…. sedekah dengan harta berlimpah tidak selalu merupakan kebaikan. Sedekah yang ikhlas membebaskan kita dari api neraka, tetapi salah sedekah justru memasukkan kita ke dalam golongan yang pertama-tama masuk neraka dan bahkan menjadi bahan bakarnya. Ada tiga golongan yang Allah Ta’ala pertama-pertama masukkan ke dalam neraka, salah satunya adalah orang yang bersedekah karena ingin dikenal sebagai dermawan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pingsan tiga kali tatkala meriwayatkan hadis ini karena besarnya rasa takut. Selengkapnya, periksalah di Shahih Muslim dan renungkanlah.

Sesungguhnya balasan atas setiap sedekah yang pasti disegerakan oleh Allah Ta’ala hanya untuk orang-orang kafir, tetapi di akhirat mereka tidak mendapatkan apa pun selain api neraka. Maka, beramallah untuk akhiratmu. Takutlah jika kamu sekalian beramal untuk memperoleh balasan spontan di dunia. Jika kamu sekalian mendapatkan balasan spontan itu, sungguh tidak ada bagian yang bisa engkau minta di akhirat. Sementara ketika engkau tidak mendapatkan balasan spontan di dunia, di akhirat pun tetap tidak mendapatkan apa-apa karena engkau beramal untuk meraih dunia. Bukan meraih ridha-Nya.

Tetapi apakah kita tidak boleh meminta kepada Allah? Justru Allah Ta’ala perintahkan kepada kita untuk berdo’a, memohon dan meminta hanya kepada-Nya. Iyya-Ka na’budu wa iyya-Ka nasta’in. Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta pertolongan. Tetapi sungguh, Allah Maha Kuasa untuk menolong setiap hamba-Nya tanpa menunggu kita bersedekah. Sungguh, Allah Ta’ala bukanlah sejenis pejabat-pejabat kita yang korup, yang hanya melayani apabila kita telah memberi. Maka janganlah kalian menghina Allah Ta’ala dengan menyamakan-Nya seperti pejabat-pejabat kita yang korup itu.

Maka, bersedekahlah karena Allah, berkurbanlah karena Allah, shalatlah karena Allah, beribadahlah karena Allah, berdo’alah karena Allah dan bahkan mintalah pertolongan kepada Allah, termasuk meminta sebagian dari dunia ini kepada Allah, semata karena engkau mengetahui dan meyakini bahwa hanya Allah Ta’ala yang layak disembah dan dimintai pertolongan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s