Morinda Citrifolia

Buah pace ato mengkudu kalo inget buah ini aku pengen senyum senyum terus ketawa. Pasalnya aku memang sudah akrab dengan buah ini. Apalagi 4 tahun aku pernah menghirup udara kabupaten pacitan, yang notabene nama kotanya diambil dari nama buah Pace.

Waktu aku kuliah semester 4 di FE Unair Pace sedang booming-boomingnya Kandungan buahnya ternyata bisa mengobati banyak penyakit: kanker, jantung, dan lain-lain. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mereguk untung dengan berjualan syrup pace. Bersama konco2 plek qta menelusuri kampus. sasaranya adalah dosen-dosen. bahkan sampai luar kampus seperti di ITS. Banyak dosen-dosen kampus yang beli entah karena termakan rayuan maut, product knowledge yg luar biasa, sebel karena di kejar kejar ato karena belas kasihan (tapi banyak yg karena belas kasihan :D). Banyak pengalaman seru seperti ada dosen yang bilang “mas mas, syrup pace mu iki ambune koyo kelek” (Hmm pace di salahin, padahal kalo tu dosen merhatiin lbh detail, waktu itu aku lg berkeringat hehehe). Ada juga kepala jurusan yg ogah beli tapi merekomendasiin ke staf2nya, akhirnya staf2nya pada beli semua. ada juga yag Sadis, masak beli 2 botol di tawar 18 ribu, padahal 1 botolnya 15 ribu (semoga Tuhan membalas smua yang terjadiiii….. kepadaku suatu saat nanti :D). Ya begitulah banyak yang sempat merasakan manfaat buah pace ato mengkudu

Tapi tahukah sebelumnya buah ini nyaris tak punya kebanggaan sedikit pun. Jangankan manusia, kelelawar pun tak sudi mencicipi. Selain baunya apek, rasanya pahit. Pahit sekali! Belum lagi dengan bentuk buah yang aneh. Bulatnya tidak rata, dan kulit buah ditumbuhi bintik-bintik hitam. Warnanya juga tidak menarik. Mudanya hijau, tuanya pucat kekuning-kuningan. Berbeda jauh dengan apel, jeruk, mangga, dan tomat. Selain kulitnya mulus, warnanya begitu menarik: hijau segar, merah, dan orange.

Sedemikian tidak menariknya pace, orang-orang membiarkan begitu saja buah-buah pace yang sudah masak. Pace tidak pernah dianggap ketika muda, tua; dan di saat masak pun dibiarkan jatuh dan berhamburan di tanah; membusuk, dan kemudian mengering. Pace sudah dianggap seperti sampah.

Kalau saja pace bisa bicara, mungkin ia akan bilang, “Andai aku seindah apel merah. Andai aku seharum jeruk. Andai aku semolek tomat!” Dan seterusnya.

Perubahan besar pun terjadi di tahun sembilan delapan. Seorang pakar tumbuhan menemukan sesuatu yang lain dari pace. Kandungan buahnya ternyata bisa mengobati banyak penyakit: kanker, jantung, tulang, pernafasan, dan lain-lain. Orang pun memberi nama baru buat pace, morinda citrifolia.

Sejak itu, pace menjadi pusat perhatian. Ia tidak lagi diacuhkan, justru menjadi buruan orang sedunia. Kini, tidak ada lagi pace masak yang dibiarkan jatuh dan berhamburan. Ia langsung diolah dengan mesin canggih higienis, dan masuk golongan obat mahal. Kemuliaan pace sudah jauh di atas apel, jeruk, apalagi tomat.

Seperti Pace, jalan hidup kadang punya rutenya sendiri. Tidak biasa, lompat-lompat, curam dan terjal. Seperti itulah ketika realitas kehidupan memperlihatkan detil-detilnya yang rumit.

Di antara yang rumit itu, ada kebingungan menemukan tutup peti potensi diri. Semua menjadi seperti misteri. Ada yang mulai mencari-cari, membongkar peti; bahkan ada yang cuma menebak-nebak sambil tetap berpangku tangan. Dalam keputusasaan, orang pun mengatakan, “Ah, saya memang tidak punya potensi.” Seribu satu kalimat pengandaian pun mengalir: andai saya…andai saya…andai saya, dan seterusnya.

Kenapa tidak berusaha sabar dengan terus mencari-cari pintu peti potensi. Kenapa tidak mencari alat agar peti bisa terbongkar. Kenapa cuma bisa menebak kalau peti potensi tak berisi. Kenapa cuma diam dan menyesali diri. Padahal boleh jadi, kita bisa seperti pace yang punya potensi tinggi. Sayangnya belum tergali.

3 thoughts on “Morinda Citrifolia

  1. waaaaaaah akhirnya saya menemukan blog Anda, Mister!😀
    yup, seringkali saya juga bilang ke diri sendiri: “Kamu pintar. Kamu punya potensi. Tinggal gali lebih dalam dan kembangkan!” gituuu, ehehe (jika sedang down)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s